Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Sebuah Harapan


Pagi telah menyapa tanpa menunda waktu Rania bergegas bersiap untuk kembali ke sisi Adrian, seorang lelaki sejati bagi dirinya, lelaki yang selalu memberikan dirinya kehangatan dan rasa nyaman tanpa meminta imbalan apapun ataupun melihat masa lalunya


Rania pergi ke bandara di antar oleh Revan dan Galang, sesampainya di bandara sudah ada Santi dan yang selama ini di perkenalkan sebagai kakaknya untuk mengantarkan Rania ke sana


" Rania aku harap kamu kuat ya, kamu harus ingat ada anak kita di dalam perut kamu "


" Iya kak aku ngerti "


Rania dan yang lainnya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam pesawat


" Jujur hati aku ga ikhlas Nia, tapi aku ga mau sakitin hati kamu lagi. Aku harus rela liat kamu pergi ke sisi pria lain, sampe kapan pun aku akan selalu tunggu kamu kembali ke sisi aku. Ku serahkan semuanya kepada Mu Tuhan " memandang sendu pundak Rania yang mulai menjauh


Perjalanan yang cukup jauh di habiskan Rania hanya dengan berdiam diri walaupun Santi yang terbiasa bercanda dengan dirinya tepat di sampingnya, Rania merasakan sebagian dari hatinya menjadi kosong, ada perasaan bersalah yang sangat besar dia rasakan pada saat itu


Adrian sore itu duduk di taman belakang menghadap ke arah taman bunga mawar, taman itu sengaja dia buat untuk Rania karena Rania menginginkan sebuah taman yang di penuhi oleh bunga mawar


" Aku kangen banget sama kamu Nia, tapi aku ga bisa biarin kamu liat keadaan aku sekarang. Apalagi saat nanti aku harus pergi untuk selamanya " Adrian menutup kedua bola matanya membayangkan wajah Rania yang sedang tersenyum, dan tanpa dia sadari air matanya mengalir begitu saja


" Aku kangen kamu kak " sebuah tangan merangkul pundak Adrian dari belakang


" Ga pasti aku lagi berhalusinasi, ga mungkin ini tangan dan suara Rania "


Adrian tak berani membuka kedua bola matanya, rasa rindunya terhadap Rania membuat dia berharap masih merasakan pelukan itu walaupun dia kira itu hanya sebuah ilusi


Rania mulai melepaskan pelukannya dan berjalan ke hadapan Adrian lalu memegang kedua pipi Adrian dengan lembut


" Aku mohon kak selama kita masih bernafas jangan biarkan kita saling menjauh "


Adrian memaksa membuka kedua bola matanya


" Nia " lirih,


Rania pun langsung memeluk Adrian dengan lembut


" Aku ga bisa jauh dari kakak, tolong ijinin aku tetap di sini kak " terisak Rania mulai melepaskan pelukannya


" Kenapa dia bisa di sini ? ga aku ga bisa biarin ini semua "


Adrian mulai bangkit dari duduknya


" Kenapa kamu ada di sini ? "


Rania hanya bisa terdiam menatap wajah Adrian sambil meneteskan air mata


" Kamu harus pergi dari sini, aku ga bisa lagi ada di samping kamu. Maaf Nia tapi sekarang udah ada perempuan lain "


Adrian melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Rania


" Sampe kapan kakak mau bohong kak ? "


Rania berlari ke kecil ke arah Adrian dan kembali memeluk tubuhnya dari belakang


" Tolong jangan suruh aku pergi kak, udah cukup kak "


" Apa Nia udah tau semuanya ? " Adrian hanya bisa diam mematung


" Aku bisa lakukan apa aja kak, tapi jangan suruh aku pergi kak " menangis dengan hebat


Adrian mulai membalikkan tubuhnya


" Nia aku harus lakuin ini " lirih


" Aku udah tau kak, aku tau semuanya. Jadi aku mohon jangan minta aku pergi lagi kak "


" Kalo kamu udah tau kenapa kamu balik lagi ke sini Nia ? tolong pergi cari kebahagiaan kamu " menutup mata dan mulai meneteskan air mata


" Apa kakak mau seumur hidup aku hanya di jalani dengan penyesalan ? "


" Kalo gitu jangan suruh aku pergi lagi kak. Aku mohon " memeluk tubuh Adrian dengan erat


" Apa aku salah ? aku bahagia banget kamu peluk aku Nia walaupun mungkin ini ga akan lama lagi. Apa boleh aku sedikit egois ? aku ingin kamu di sisi aku " membalas pelukan dari Rania dengan erat


" Aku takut Nia "


" Aku akan selalu di samping kakak, kita akan jalanin ini semua bersama kak "


" Kamu salah Nia, yang paling aku takutkan kamu akan melakukan hal yang sama seperti mama dulu "


" Aku mohon Nia pikirkan sekali lagi " melepaskan pelukannya dan menatap Rania dengan sendu


" Aku ga akan pernah ragu kak, aku yakin anak kita juga pasti akan pilih ini " mengelus perutnya


Adrian menangis dengan hebat sambil memeluk tubuh mungil Rania dengan erat dan menghujani ciuman di ujung kepala Rania, dia merasakan sebuah kekuatan tumbuh di dalam hatinya mendengar ucapan dari Rania


" Terima kasih Nia, terima kasih "


Mereka pun kembali masuk ke dalam rumah mewah tersebut, dengan perasaan sedikit canggung Adrian ikut melangkah kakinya masuk ke dalam kamar mereka. Kamar di mana hampir setiap malam di hiasin oleh Adrian yang selalu merindukan Rania


Rania memutuskan untuk membersihkan dirinya sejenak dan masuk ke dalam ruang ganti, sesampainya di sana Rania melihat dengan jelas bahwa segala barang miliknya masih tertata di tempat yang sama


" Terima kasih kak "


Adrian memeluk tubuh Rania dari belakang


" Aku ga pernah rubah apapun sayang, buat aku cukup kamu satu untuk selamanya " bisik Adrian


Rania merasakan sebuah kehangatan dari dalam pelukan itu, perasaan yang sangat di butuhkan oleh seorang wanita. Sebuah perasaan nyaman dan di hargai


" Makan malam yuk, aku udah suruh bawa makanan ke kamar "


" Iya kak, sebentar " Adrian mencium pipi Rania


" Aku tunggu di depan ya "


Rania hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum


Mereka pun makan malam dengan biasa hanya Rania yang selalu salah tingkah dan sesekali mencuri pandang, setelah berbincang cukup lama mereka memutuskan untuk beristirahat


Adrian memeluk tubuh mungil Rania seperti biasanya Rania tersenyum bahagia dan membalas pelukan hangat tersebut


Hari demi hari terus berlalu Adrian terus memperlakukan Rania bahkan jauh lebih perhatian dari waktu sebelumnya, karena semenjak Adrian mengetahui tentang penyakitnya Adrian tak lagi pergi ke kantor


Sore itu mereka berdua duduk di bangku taman menghadap ke arah taman bunga mawar tempat kesukaan Rania


" Sebentar lagi anak kita akan lahir sayang, apa ada yang kamu mau untuk dia ? "


Rania menatap wajah Adrian dengan penuh pengharapan


" Apa kakak janji, kakak akan kasih apapun yang aku minta "


Adrian tersenyum dan mencium ujung kepala Rania


" Aku cuma minta satu hal kak, tolong jangan menyerah demi kami kak. Kita coba apapun itu walaupun kesempatannya kecil, tolong kasih kami sebuah harapan kak "


" Tapi Nia.. " ragu-ragu


" Maafin aku ya kak aku gunakan anak ini untuk minta itu, aku tau semuanya cerita tentang masa lalu keluarga kakak. Aku tau apa yang kakak takutin, tapi setidaknya kita harus coba dulu kak "


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Mampir kak ke karya aku Zahra Anak Yang Tak Berdosa S2 🤭