Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Salah Apa?


Dengan perasaan yang bercampur aduk antara bingung dan juga sedih Galang tetap berusaha tersenyum di hadapan putri kecilnya, Galang masih menyempatkan diri bermain lagi bersama Caca tetapi Rania tak kunjung ke luar dari dalam kamarnya


"Sayang bisa tolong panggil mami kamu sebentar papi mau pulang dulu, nanti malam papi datang lagi"


Caca hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kepala


Gadis kecil itu pun masuk ke dalam kamar mereka dan melihat Rania yang sedang berbaring sambil terus menatap kalung berliontin giok hijau dengan tatapan mata yang kosong, gadis kecil itu pun mendekati Rania


"Mami katanya papi mau pulang"


Rania pun tersenyum getir


"Maafin aku ya kak, aku belum siap ketemu kak Galang" bilangin ke papi kamu kalo mami lagi tidur ya sayang"


"Tapi mami kan ajarin aku supaya ga pernah bohong" sedikit cemberut


"Caca sekali ini tolongin mami ya, mami benar-benar lagi capek banget sayang"


Dengan berat hati gadis kecil itu pun keluar dari salam kamar "Papi maaf tapi mami lagi tidur" menundukkan kepalanya tak berani menatap ke arah Galang sama sekali


"Bahkan kamu meminta anak kita berbohong cuma supaya ga bertemu aku?"


Walaupun Galang baru bertemu dengan Caca tapi dia sangat yakin pada saat itu Caca sedang berbohong kepadanya, Galang hanya bisa membuang napasnya dengan kasar dan mulai berjalan mendekati Caca


"Ya udah sayang ga apa kok, mungkin mami kamu lagi capek. Papi pulang dulu ya, nanti malam papi datang lagi" menyentuh ujung kepala Caca dengan lembut


Galang mulai melajukan mobilnya dengan sangat cepat dia tak tau apa yang harus dia lakukan pada saat itu, Galang menepikan mobilnya di tepi jalan dan mulai mencoba menghubungi Rania dan hasilnya pun hanyalah sia-sia. Galang akhirnya mengirimkan sebuah pesan kepada Rania


"Aku ga tau apa salah aku ke kamu? kenapa sekarang kamu menghindar dari aku? tolong jangan hukum aku begini"


"Aku pergi dulu nanti malam aku datang lagi, aku harap nanti malam kamu bisa temuin aku. Kita bicarakan semuanya baik-baik. Apapun masalahnya kita selesaikan bersama"


Rania kembali hanya membaca pesan yang di kirimkan Galang dan tak membalas apapun. Dengan perasaan yang sangat resah Galang memutuskan untuk tak kembali ke kantornya dan menuju ke kantor Revan


Kini Galang pun sudah mendudukkan dirinya tepat di hadapan Revan dengan wajah yang murung, Revan pun sedikit terheran-heran melihat wajah Galang. Karena baru saja tadi malam dia menghubungi Revan menceritakan semua yang terjadi


"Kenapa lo?"


"Ga tau gw bingung" menyenderkan tubuhnya dan memejamkan matanya


"Kenapa lagi ini anak? semalam dia telpon gw kayaknya lagi seneng banget. Kayaknya cuma Rania yang bisa bikin dia begini"


"Kenapa lagi Rania?"


"Si kamp*ret kenapa bisa tau? apa keliatan jelas?"


Galang mulai memposisikan duduknya dengan benar dan menatap ke arah Revan dengan sendu


"Gw ga tau kenapa dari semalam abis gw antar dia pulang, dia bener-bener berubah" lirih


"Apa lo ada buat salah?" menatap tajam


"Ga kok, waktu kami pisah semua masih baik-baik aja"


"Aneh banget, Rania bukan tipe orang yang bisa berubah tanpa ada alasan yang jelas. Dan pasti itu sesuatu yang besar"


"Lo yakin?"


"Ya gw yakin"


"Ok.. Nanti gw cari tau" Galang pun kembali menyenderkan tubuhnya dan menutup ke dua bola matanya


"Ampun deh gw sama hubungan kalian berdua, kenapa selalu bikin pusing gw? gw kira hubungan kalian akan lancar"


Seharian penuh Galang menghabiskan waktunya di kantor Revan dia hanya banyak terdiam dan merenung, Revan sudah bisa menerka apa yang sedang Galang pikiran. Revan memilih untuk membiarkan saja Galang larut dalam pikirannya sendiri


"Ayo" merapikan meja kerjanya


"Lo udah selesai?"


"Selesai ga selesai lah, stres juga gw liat lo kayak orang b*doh gitu" Mereka berdua mulai meninggalkan ruang kerja Revan menuju ke mobil mereka masing-masing


"Temuin Rania"


"Tapi..."


"Ga usah tapi-tapian lagi biar jelas semuanya, gw bakal minta Rania temuin lo"


"Makasih ya van"


Mereka pun mulai melajukan mobilnya ke arah rumah pamannya Rania, dan yang tiba di sana ternyata hanya Revan seorang. Sedangkan Galang memilih untuk menunggu di taman tempat mereka terakhir bertemu


"Hai sayang"


"Om Revan" sumringah


"Mami kamu ada sayang?"


"Ada di kamar om, sebentar ya Caca panggil mami dulu" Revan hanya membalas dengan senyuman


Kini Rania sudah berada di ruang tamu bersama Revan, sedikit banyak Rania sudah tau tentang tujuan Revan menemui dirinya. Tetapi Rania tak mungkin menolak untuk menemui Revan


"Sebenernya kenapa?" menatap tajam


"Gimana juga kak Revan sahabat kak Galang, aku ga mungkin cerita ini ke dia" Maaf kak aku ga ngerti maksud kak Revan" memalingkan tatapan mata


"Aku tau kamu lagi bohong Nia" Apa kamu udah ga anggap kak Revan sebagai kakak kamu lagi?"


"Bukan gitu kak, tapi ada masalah yang aku ga bisa cerita ke kakak" lirih sambil menunduk


"Terus apa itu juga alasan kamu menghindar dari Galang?"


"Iya kak, aku ga tau gimana caranya?"


"Setidaknya kamu tolong kasih dia sebuah penjelasan Nia, kamu ga tau seberapa besar dia udah ngerasain sakit untuk kamu"


"Kamu hidup baik di sana, kamu cuma kira Galang melupakan kalian kan. Aku yang selalu ada di sini jadi teman cerita dia, aku yang tau semua sakit yang udah dia rasain" Rania hanya bisa terdiam


"Bukan karena aku sahabat dia aku mau bela dia, apapun keputusan kamu kak Revan ga akan ikut campur tapi kamu ga boleh begini. Kamu harus kasih dia sebuah penjelasan"


"Aku ngerti kak"


"Ayo aku antar kamu ketemu dia"


Dengan berat hati Rania hanya bisa mengikuti Revan menemui Galang, Revan mengantarkan Rania ke sebuah taman di mana Galang sudah duduk di salah satu bangku di sana dengan wajah yang muram


"Itu dia" menunjuk ke arah Galang "kak Revan tunggu kamu di sini"


Rania hanya membalas dengan anggukan kepalanya


Rania mulai melangkahkan kakinya ke arah Galang dan mulai mendudukkan dirinya tepat di samping Galang, cukup lama juga mereka hanya duduk sambil berdiam diri. Hingga Galang mencoba mengumpulkan keberanian dan membuka suara terlebih dahulu


"Aku sebenarnya ada salah apa ke kamu?" lirih, Rania menoleh ke arah Galang yang memandang lurus ke depan dengan tatapan mata yang kosong


"Kamu ga ada salah apapun ke aku kak, cuma takdir yang membuat semuanya jadi serba salah"


"Kak Galang ga ada salah apapun ke aku, tapi maaf kak aku ga bisa lanjutkan hubungan kita"


Galang menatap ke arah Rania dengan mata yang mulai berkaca-kaca


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗


Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak "Zahra Anak Yang Tak Berdosa"


Ceritanya sudah TAMAT kak🤭


Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉