
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk"
"Maaf tuan ada ibu Widya mau ketemu"
"Akhirnya kamu mau juga ketemu papa sayang, papa kira sampai akhir hayat papa nanti kamu ga akan pernah temui papa lagi" menganggukkan sedikit kepalanya
Dengan langkah yang sudah berat papanya bersemangat menuju ke ruang tamu untuk menemui anak semata wayangnya
"Wid" nyonya Widya bangkit dan mencium tangan papanya, dan mereka pun saling duduk dan saling bertatapan
"Ada apa Wid?"
"Pah aku sudah tua sekarang, jadi aku mohon ceritakan semua kejadian tentang anak aku yang sebenarnya"
Pria tua itu memejamkan kedua bola matanya, seakan-akan berat rasanya dia mengungkapkan semua yang terjadi terhadap anaknya. Dia tak ingin membuat anaknya mempunyai perasaan bersalah yang teramat besar karena tak pernah mencari di mana kah anaknya berada
"Tolong pah, jangan bohongi Widya lagi" lirih
"Kamu tunggu di sini sebentar ya" pria tua itu pergi ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah surat yang sudah usang
"Mungkin ini saatnya kamu tau semuanya" kembali ke ruang tamu dan memberikan surat tersebut
"Apa ini pah?"
"Baca aja, dan sebelum kamu baca dan tau semuanya papa cuma bisa bilang tolong maafin semua kesalahan papa di masa lalu" lirih
Dengan tangan yang bergetar nyonya Widya mengambil surat tersebut, dia ingin sekali mengetahui semuanya tetapi jauh di dalam lubuk hatinya ada perasaan takut yang juga menghantui. Dia benar-benar takut bila ada yang ada di dalam pikirannya akan menjadi sebuah kenyataan, dengan membulatkan tekad nyonya widya pun membuka surat tersebut
Untuk : Widya tersayang
Sayang tolong maafin mama yang tak pernah punya keberanian untuk membantu kamu di masa lalu, perasaan bersalah ini akan mama bawa sampai mama menghembuskan nafas terakhir mama
Mama tau kamu marah dengan kami setelah kamu tau papa memberikan perintah untuk melenyapkan bayi mungil kamu, apalagi setelah kamu sadar dan mengetahui bahwa anak kamu meninggal dunia. Mama yakin kamu berpikir bahwa kami yang telah memisahkan kamu dan bayi kamu untuk selamanya
Mama hanya bisa bilang di sini sayang, mama minta maaf karena mama selama ini hanya diam dan menceritakan kebenarannya kepada kamu. Mama saat itu takut orang suruhan papa kamu akan berbuat seperti yang di perintahkan jadi mama memberikan bayi kamu kepada seseorang di rumah sakit tersebut
Mama memberikan kalung peninggalan keluarga kita kepada orang itu, mama berharap suatu saat nanti kamu akan bisa menemukan bayi mungil tersebut
Mama mungkin ga berhak meminta maaf kepada kamu, karena kesalahan mama yang teramat besar. Tapi jika kamu bisa berbesar hati tolong jangan membenci papa kamu sayang, dia juga menyesali segala perbuatannya di masa lalu terhadap kamu
Hidup lah dengan bahagia sayang, kejar kebahagiaan yang kamu inginkan. Mama akan selalu berdoa di mana pun untuk kebahagiaan kamu
Salam sayang selalu dari mama yang selalu mencintai kamu
Air mata nyonya Widya mengalir dengan sendirinya hingga terjatuh di atas kertas usang tersebut, sedangkan sang papa yang berada di hadapannya hanya bisa terdiam menyesali semua perbuatannya di masa lalu
"Kenapa papa baru kasih ini sekarang?" menatap tajam
"Apa ada lagi yang papa sembunyikan dari aku selama ini?" pria tua itu pun mulai menceritakan semua kejadian yang sebenarnya
"Papa minta maaf ya Wid, saat papa tau perlakuan keluarga Baskoro terhadap kamu. Papa ga ingin hancurkan kebahagiaan kamu, papa tadinya akan menyimpan ini sebagai kesalahan papa selamanya agar kamu bisa bahagia tanpa ada penyesalan"
"Apa dia itu anak aku? darah daging aku sendiri? berarti aku ini ibu yang seperti apa? aku udah melakukan banyak sekali kesalahan terhadap anak itu "
"Papa minta maaf ya Wid, papa benar-benar menyesal" lirih, nyonya Widya hanya bisa terdiam dengan air mata yang mengalir dengan deras
"Tapi papa ga tau kan kalo seandainya benar adanya dia itu darah daging aku, aku sudah menyakiti dia banyak sekali baik hati dan badannya pah"
"Kalo kamu mau papa bisa bantu cari di mana keberadaan anak itu sekarang"
"Apa kamu ga mau tau keberadaan anak kamu itu?"
"Kalo benar dia orangnya aku udah melakukan banyak kesalahan terhadap dia pah"
"Maksud kamu?" nyonya Widya hanya membalas dengan senyuman getir dan mulai bangkit dari duduknya
"Aku pergi dulu pah" mencium tangan papanya dan pergi dari rumah itu
Nyonya Widya memerintahkan sang supir menuju ke apartemen Galang, air mata nyonya Widya sesekali masih terjatuh di pipinya memikirkan kemungkinan besar tentang semua kenyataan yang ada
"Apa kamu anak mama sayang? kalo benar kamu anak mama apa masih ada kesempatan bagi mama menebus semua kesalahan mama selama ini? mama janji mama akan lakukan apapun untuk kebahagiaan kamu sayang"
Setibanya di apartemen Galang mama Widya kembali mencium bau alkohol yang menyelimuti apartemen Galang, dia pun mulai masuk ke dalam dan kembali menyaksikan beberapa minuman keras yang bertaburan di dalam apartemen Galang
"Sampai kapan kamu mau begini?" lirih
"Maaf mah, cuma dengan cara ini aku bisa melupakan semuanya"
"Jika memang dia bisa membuat kamu bahagia, dan itu bisa menjadi jalan menebus semua kesalahan mama terhadap dia di masa lalu. Mama janji mama akan menghilang dari kehidupan ini kalian berdua selamanya"
"Mama mau tanya sesuatu ke kamu, apa kamu benar-benar mencintai dia?" Galang menatap sendu ke arah mamanya dan menganggukkan kepalanya
"Apa kamu bisa janji ke mama apapun yang kamu dengar nanti kamu akan tetap mencintai dia?"
"Aku ga perduli apapun mah, aku cuma mau dia"
"Apa kamu bisa janji sama mama kamu akan jaga dia dengan baik, melebihi nyawa kamu sendiri. Dan kamu ga akan pernah menyakiti dia"
"Apa sih maksud mama tanya itu semua ke aku?" mengerutkan keningnya
"Galang Baskoro jawab mama dengan serius" penuh penekanan
"Seandainya dia mau di samping aku untuk selamanya, aku janji ga akan pernah sakiti dia dan menjaga dia dengan baik. Apapun yang akan terjadi nanti ke depannya"
"Sebagai seorang laki-laki kamu harus pegang omongan kamu ya Lang, mama janji mama akan berusaha membuat kalian bersatu kembali" Galang hanya bisa terdiam seribu bahasa
"Sekarang bersihkan diri kamu, apa pantas seorang laki-laki seperti ini mendambakan seorang wanita baik-baik?"
"Tapi mah..."
"Galang pergi mandi dan mulai jalani kehidupan normal kamu yang dulu, atau apapun yang akan mama lakukan ga akan ada gunanya aku. Karena ga akan ada wanita yang mau dengan laki-laki itu seperti ini" menunjuk ke arah Galang yang sedang terlihat berantakan
Dengan berat hati Galang pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Galang menatap cermin yang berada di dalam kamar mandi dia melihat sosok yang sangat berantakan dengan kumis tipis yang mulai tumbuh
"Gw yakin mama akan berbuat sesuatu untuk mempersatukan kami lagi, dan ga mungkin gw temuin dia nanti dengan keadaan begini" tersenyum geli melihat penampilan dirinya
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak "Zahra Anak Yang Tak Berdosa"
Ceritanya sudah TAMAT kakðŸ¤
Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉