
Melihat Galang yang baru saja selesai membersihkan diri mama Widya pun tersenyum bahagia, Galang tampak anak kesayangannya yang dahulu kala
"Nah kalo kamu yang begini mama baru ikhlas membiarkan dia sama kamu"
"Kenapa kata-kata mama terdengar agak aneh ya?"
"Ya udah mama pergi dulu ya, bersihin apartemen kamu. Pusing mama liatnya kayak kapal pecah gini"
"Mama mau ke mana?"
"Mama mau pulang dulu istirahat, baru nanti mama akan temui calon istri kamu itu"
"Makasih ya mah" tersenyum bahagia
Mama Widya berjalan mendekati Galang dan memeluk Galang dengan erat, Galang sedikit heran dengan sikap mamanya tetapi dia hanya membiarkan itu semua
"Terima kasih sayang, di saat terpuruk mama dulu kamu adalah cahaya bagi mama. Sekarang mama akan berusaha serahkan harta paling berharga mama untuk kamu selamanya"
"Kamu harus ingat semua pesan mama dan janji kamu tadi ya" berbisik, Galang hanya bisa terdiam dalam pelukan mamanya dan menganggukkan kepalanya
Sedangkan di tempat lain Revan sedang menerima sebuah amplop coklat yang baru saja di serahkan oleh sekretaris pribadinya, Revan pun mulai membuka lembar demi lembar dokumen tersebut
"G*la.. Apa ga salah ini? jadi Rania sebenarnya anak tante Widya. Kak Revan ga sangka jalan hidup kamu terlalu menyakitkan, pantas kamu memilih untuk menjauh dari Galang"
"Tapi apa ini adil untuk Galang? Galang mencintai kamu dengan tulus. Kesalahan mamanya apa harus Galang yang menanggung itu semua?"
Revan menghentikan semua aktivitasnya karena mendengar suara ponselnya berdering
"Ya tante"
"Van kamu lagi sibuk ga?"
"Ga juga kok tante"
"Bisa tante ajak kamu ketemu, ada yang mau tante omongin ke kamu"
"Ok.. Di mana tante?"
"Tante tunggu di cafe xx ya Van"
"Ok.. Aku ke sana sekarang tante"
"Makasih ya Van"
"Sama-sama tante" Revan segera memutuskan sambungan teleponnya
"Mungkin ini kesempatan aku mencari tau semua tentang kejadian itu, aku ga mau akan ada penyesalan di belakangnya nanti" Revan mulai bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan dengan membawa amplop coklat yang baru saja dia terima
"Maaf tante tadi aku kena macet" mendudukkan dirinya di hadapan mama Widya
"Ga apa kok Van, kamu mau pesan apa?"
Revan pun memanggil seorang pelayan di tempat itu dan memesan segelas minuman hangat
"Kalo boleh tau ada apa tante mau ketemu sama aku?"
"Van bagi tante kamu sudah seperti anak tante sendiri, jadi tante mau minta tolong sesuatu sama kamu"
"Kalo boleh tau apa ya tante?"
"Tolong bantu tante menjaga Rania dan Galang nanti ke depannya"
"Apa maksudnya tante bilang gitu ke aku? memang tante mau ke mana?"
"Maaf ya Van, untuk alasannya tante ga bisa cerita ke kamu. Tante cuma bisa berharap mereka berdua akan hidup bahagia" tersenyum getir
"Tante juga berharap bisa ada di antara mereka Van, tapi itu mungkin ga akan pernah terjadi. Karena Rania sangat membenci Tante, Dan tante juga harus menebus segala kesalahan tante selama ini ke dia"
Revan dapat melihat dengan jelas guratan kesedihan terlukis jelas dari wajah tante Widya, Revan semakin yakin bila semua data yang di terima kemungkinan salah
"Apa aku boleh jujur sama tante?" dengan serius
"Boleh lah Van, tante kan udah anggap kamu seperti anak tante sendiri"
"Apa bisa tante lihat ini dulu?" menaruh amplop coklat yang sudah dia terima di atas meja
Tanpa ada perasaan apapun tante Widya mengambil amplop tersebut dan mulai membuka lembar demi lembar data yang ada di dalam amplop tersebut, kini tante Widya tak lagi dapat menahan kesedihannya. Air mata pun mulai mengalir dari pelupuk matanya
"Ini semua ga benar, aku ga pernah ada niat sedikit pun menggugurkan kandungan aku saat itu. Aku hanya tau bila anak itu sudah meninggal" air matanya pun mengalir semakin deras
"Apa itu semua benar adanya tante? semua itu data yang Rania ketahui"
Tante Widya hanya bisa terdiam memegang kertas-kertas tersebut dengan kuat dan di hiasi air mata yang terus mengalir
"Sebagian data di dapat saat Rania mencari info dan sebagian lagi saat Rania menemukan pak Handoko"
Tante Widya hanya terdiam dengan mata yang terus mengalirkan air mata
"Kalo yang aku lihat dari reaksi tante saat ini pasti itu semua ga benar kan? apa boleh aku tau semuanya? itu pun jika tante berkenan menceritakan tentang semua itu"
"Tante ga tau harus mulai semua cerita itu dari mana Van" lirih
"Aku cuma berharap tante bisa kasih aku kesempatan memperbaiki semua ini"
Tante Widya pun mulai mengatur napasnya agar dapat mengendalikan air matanya yang terus saja terjatuh, setelah dia cukup tenang akhirnya dia pun mulai menceritakan semua kejadian di masa lalunya yang kelam kepada Revan
Di mulai dari masa indah dia bertemu dengan kekasih hatinya dan mereka pun melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan, ketika mengetahui kehamilan tentang dirinya sang pria bersedia bertanggung jawab. Tetapi lain hal dengan papanya yang tak bersedia menerima dirinya sebagai seorang menantu karena perbedaan status mereka yang teramat jauh
Dirinya mendapatkan siksaan yang teramat besar dari papanya agar dia mau menggugurkan kandungannya, tetapi sebagai seorang ibu dia bersikeras untuk tetap mempertahankan kandungannya tersebut. Akhirnya papanya pun memutuskan mengurung dirinya agar tak terlihat oleh dunia luar termasuk sang kekasih hati
Beberapa kali sang pujaan hati mencari dirinya ke rumah mewah tersebut tetapi yang dia dapatkan adalah berita bahwa dirinya sudah menggugurkan janin dalam kandungannya, dan akan segera menikah dengan seorang pria yang setara dengan mereka. Dan lambat laun akhirnya sang pujaan hati pun menyerah untuk mencari dirinya setelah menerima sebuah surat undangan pernikahan gadis sang pujaan hati
Sedangkan sesaat setelah melahirkan dia pun tak sadarkan diri, saat dia tersadar dia hanya mengetahui bahwa bayi mungilnya telah tiada untuk selamanya. Dia pun akhirnya mengetahui bahwa papanya yang sedang berada di luar kota memerintahkan orang kepercayaannya untuk melenyapkan buah hatinya
Dia pun tak lagi bisa menahan segala amarahnya mengetahui bahwa papanya sendiri yang telah melenyapkan buah hatinya, dan dengan paksaan dari papanya dia memutuskan untuk menikah dengan seorang pria yang kehilangan istrinya karena melahirkan pria tersebut adalah papanya Galang
Dia menerima lamaran tersebut karena papanya mengancam akan menghancurkan keluarga sang pujaan hatinya bila dia menolak lamaran tersebut, tetapi yang terpenting bagi dirinya adalah dia ingin segera pergi meninggalkan keluarga itu. Karena baginya rasa kecewa terhadap papanya sudah teramat besar
Dan semua kisah pun di mulai di sana, sang gadis kecil yang ternyata masih hidup dan dia mencurahkan segala kasih sayangnya terhadap Galang untuk melepaskan segala kerinduan terhadap buah hatinya
"Apa tante ga mau coba untuk jelaskan ke Rania semua permasalahan ini? karena tante juga cuma korban di sini"
"Ya Van tante hanya korban keegoisan orang tua yang memandang status sosial seseorang sangat penting, tapi apa tante masih punya hak untuk itu semua?"
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak "Zahra Anak Yang Tak Berdosa"
Ceritanya sudah TAMAT kakðŸ¤
Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉
Mampir juga ke karya terbaru aku ya kak