Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Laki-laki Bodoh


Rania sedang sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk acara tahlilan bagi pamannya setelah dia bangun dari istirahat, sedangkan Galang masih saja setia duduk di hadapan Revan dengan tatapan membunuhnya


" Lo mau apa sih Lang sebenarnya ? "


" Gw mau tau semuanya " penuh penekanan


" Ya apa yang lo mau tau ? "


" Apa lo takut gw ga sadarkan diri lagi Van? sebaiknya gw tekan dia. Kalo ga pasti dia bakal tutup mulut terus "


" Gw cuma bingung kenapa bisa ada perempuan murahan kayak dia " sinis, sontak saja kata-kata Galang membuat Revan sedikit terpancing. Wajah Revan langsung berubah menjadi ekspresi marah


" Bener dugaan gw dia mulai kepancing, saatnya gw lanjutin atau gw ga akan pernah tau tentang kebenarannya " tersenyum


" Coba aja lo bayangin Van, dia pernah nikah sama gw walaupun gw ga ingat tentang dia. Terus dia nikah lagi sama laki-laki yang lebih kaya dari gw, dan semua itu jaraknya ga jauh " tersenyum meledek


Sedangkan wajah Revan semakin merah padam mendengar ucapan Galang


" Dan kalo gw lihat-lihat umur anaknya gw ga tau itu anak siapa ? anak gw, anak laki-laki itu. Atau jangan-jangan anak itu anak.. "


Brak.... Revan memukul meja di hadapannya, dia tak dapat lagi menahan semua amarahnya mendengar kicauan dari Galang


" Itu anak lo b*jingan..!! "


" Kena lo kan Van sama gw, oh jadi anak itu anak aku. Pantas aja di hati aku ada perasaan yang aku sendiri ga bisa bohongi saat melihat anak itu " tersenyum


" Apa lo berharap gw percaya ? buktinya selama ini lo ga pernah bilang apapun ke gw "


" Terserah lo mau percaya apa ga sama gw..!! Lo aja yang terlalu lemah untuk ingat tentang mereka "sinis


" Buktinya dia udah tunangan lagi sama laki-laki kaya juga "


" Dia ga tunangan sama laki-laki itu "


" Masa ? tapi dari data yang gw dapet "


" Iya awalnya dia terima tapi dia sadar kalo dia ga bisa karena dia udah suka sama orang lain "


" Oh.. Ternyata ada orang lain yang perempuan itu suka " memasang wajah kecewa


" Udah lah Lang ga usah lo pasang muka kayak gitu depan gw "


" Gw rasa Galang udah siap untuk tau semuanya "


" Apa lo yakin mau tau semuanya Lang ? " menatap tajam


" Iya gw ga mau kayak orang b*doh yang ga tau apapun, dan gw cuma tau di sini sakit Van waktu liat dia nangis "


Revan membuang napasnya dengan kasar, Revan pun mulai menceritakan semuanya kepada Galang tentang semua perjalanan kisah mereka yang dia ketahui. Dan hal yang tak pernah Revan saksikan pun terjadi air mata Galang menetes dengan sendirinya


" Lo ga apa kan Lang ? "


" Gw ga apa kok Van, gw cuma ga sangka aja ternyata gw bisa sejahat itu. Makasih ya " menyeka air matanya


" Syukur deh paling ga sekarang dia udah tau semuanya, walaupun mungkin dia belum ingat apapun "


" Terus sekarang apa rencana lo Lang ? "


" Gw mau temuin dia, setidaknya gw harus dapat kata maaf dari dia "


" Apa lo ga mau memiliki dia ? "


" Apa gw pantes ? " menundukkan kepalanya


" Dasar laki-laki b*doh, hilang ingatan atau ga sama-sama ga berani untuk coba maju "


" Kalo gw bilang dia tolak lamaran itu karena lo gimana ? "


" Lo ga bercanda kan Van ? " sumringah


" Iya, dia ga pernah bisa lupain lo " dengan yakin


" Makasih Van " langsung bangkit dari duduknya


" Lo mau kemana Lang ? "


" Mau cari dia "


" Kemana ? " mengerutkan keningnya


" Oh iya.. "


Revan pun tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan sahabatnya itu


" Ok.. Gw kirim no telpon dia ke lo ya "


" Makasih Van lo memang sahabat terbaik gw "


Tut.. Tut.. Tut..


" Halo.. "


Galang sempat terdiam begitu mendengar suara Rania


" Halo.."


" Ini aku Galang " dengan suara yang sangat pelan


" Iya, ada apa kak ? "


" Kamu lagi di mana ? apa aku bisa ketemu kamu ? "


" Maaf kak aku lagi di rumah paman aku, paman aku baru aja meninggal "


" Apa aku boleh datang ? "


" Apa lagi sih maunya orang ini ? "


" Bisa ya kita ketemu dulu "


Rania pun memberi tau alamat rumah pamannya, dan benar saja tak butuh waktu lama Galang pun tiba di sana. Galang ikut membantu apa yang bisa dia bantu di sana walaupun terlihat jelas Galang seperti bingung apa yang harus dia lakukan, sehingga Rania pun sedikit terheran-heran melihat itu semua


Rania pun sedikit menjauh dari kerumunan orang-orang dan mengangkat telepon yang masuk dan ternyata itu panggilan dari Revan


" Ya kak "


" Kamu di mana ? "


" Lagi di rumah paman kak, paman baru aja meninggal "


" Turut berduka ya, apa ada yang bisa kak Revan bantu ? "


" Ga apa kok, makasih ya "


" Ya udah nanti kalo kerjaan kak Revan udah selesai kak Revan ke sana ya "


" Iya kak "


" Apa Galang ada hubungi kamu ? "


" Ya kak, kak Galang juga lagi ada di sini "


" Apa kamu bisa menjauh sedikit ? ada yang mau kak Revan omongin ke kamu "


" Ok.. Sebentar ya kak "


Rania pun memilih masuk ke dalam kamar yang di sediakan untuk dirinya


" Ya kak aku udah di kamar "


" Maaf ya kak Revan selama ini ga bilang ke kamu, kak Revan takut kamu berbuat nekad kayak dulu ke Adrian. Karena keadaannya beda "


" Ada apa ya kak ? "


" Sebenernya Galang kehilangan sebagian ingatannya, dan yang ga dia ingat adalah semua tentang kamu "


" Maksudnya kak ? "


" Banyak hal yang selama ini kamu ga tau, dan Galang minta supaya kakak ga cerita ke kamu. Tapi sekarang kak Revan akan cerita semuanya, kak Revan ga mau ada salah paham lagi antara kalian "


Revan mulai menceritakan semua perjuangan Galang selama ini hanya untuk melihat Rania dan anaknya dari kejauhan, Revan juga menceritakan tentang Galang yang menyaksikan Rania menerima lamaran dari Bara sehingga membuat dia frustasi dan hingga terjadi kecelakaan tersebut


Tak ada satu kisah pun yang di sembunyikan lagi oleh Revan dari Rania, dia juga ikut menjelaskan alasannya dia menutupi itu semua dari Rania. Karena keadaan Galang saat itu masih belum memungkinkan, air mata Rania mengalir dengan sendirinya mendengar semua penjelasan dari Revan


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Rania pun kembali ke luar dari dalam kamar dan melihat Galang masih berusaha mencoba menyibukkan diri membantu apa yang bisa dia bantu, Rania memandangi Galang dari kejauhan


" Dasar laki-laki b*doh, aku pikir selama ini kak Galang ga pernah ingat sama kami. Bahkan aku kemarin kira kak Galang melupakan kami "


" Apa bener kak di hati kak Galang ada aku ? "


Galang sedang menoleh ke arah Rania dan tersenyum dan Rania pun membalas dengan senyuman


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗


Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak " Zahra Anak Yang Tak Berdosa "


Ceritanya sudah TAMAT kak🤭


Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉