Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Rencana Yang Gagal


" Apa maksud kamu kak ? kak Galang ga bisa seenaknya gini. Caca itu masih kecil kak..!! " sedikit menaikkan nada suaranya, wajah Rania pun sudah memasang mode marah


" Kenapa aku ngerasa cewek ini kayak lagi marah sama aku ya ? padahal aku aja ga kenal sama cewek ini "


" Sebenernya kamu ada masalah apa sama saya ? " menatap dengan tajam


" Seharusnya aku yang tanya itu sama kak Galang..!! "


" Bahkan kakak udah tau tentang Caca tapi ga pernah sekali pun mencari dia, sekarang kakak datang bersedia di panggil papi hanya dengan alasan nama belakang. Apa besok kakak juga akan sakiti perasaan dia ? "


Galang semakin tak mengerti dengan apa yang sedang Rania katakan, dia hanya bisa terdiam dan mengerutkan keningnya


" Kak aku mohon tolong jangan pernah sakiti Caca dia harta paling berharga buat aku, jangan kasih dia harapan palsu dengan sebutan papi. Dia itu anak aku kak " lirih


" Aku kan udah bilang aku ga keberatan dia panggil aku papi "


" Panggil kamu papi, jadi maksudnya kamu ga akuin dia sebagai darah daging kamu sendiri " air mata Rania mengalir dengan sendirinya


Dan sesuatu yang tak di sangka pun di lakukan oleh Galang, melihat Rania yang menangis hati Galang benar-benar merasakan sakit yang teramat. Galang langsung mendekati Rania dan memeluk Rania dengan erat


" Maaf.. Maaf.. "


Hanya kata-kata itu yang bisa terlontar dari bibir Galang dengan sendirinya, Rania pun menangis di dalam pelukan Galang


" Aku minta maaf kalo apa yang aku lakuin ke Caca nyakitin perasaan kamu "


Rania melepaskan dirinya dari dalam pelukan Galang, Galang sendiri seperti tak ikhlas untuk melepaskan pelukannya


" Kalo kakak mau bantu aku cukup menjauh dari Caca, dia merindukan sosok papinya tapi aku masih bisa menjadi sosok papi juga untuk dia. Karena Caca ga butuh seseorang yang tidak mengakui dirinya "


Rania menyeka air matanya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu, langkahnya sempat terhenti saat memegang handel pintu


" Kalo kamu ga mau mengakui dia sebagai anak kamu, lebih baik kamu ga usah di panggil papi untuk selamanya "


Rania keluar dari ruangan itu dengan penuh amarah dan air mata yang menetes dengan cepat di hapus oleh Rania


Rania mengatur napasnya untuk menghilangkan segala beban yang kini bersarang di dalam hatinya, dengan langkah yang dia rasakan sangat berat dia pun kembali ke kerumunan orang-orang dan langsung menghampiri Revan bersama istrinya


" Kak " tersenyum getir


" Apa gagal rencana aku ? " kamu kenapa ? "


Rania hanya membalas dengan menggelengkan kepalanya


" Maaf kak aku harus pulang sekarang " lirih


" Ya udah kamu istirahat ya "


" Maaf ya kak, aku duluan ya "


Revan menganggukkan kepalanya


Dengan cepat Rania segera mencari di mana anaknya berada dan membawa anaknya kembali, di sepanjang perjalanan Rania hanya bisa memandangi luar jendela menatap jalanan dengan tatapan yang kosong


" Mami " memegang tangan Rania


" Kenapa sayang ? "


" Mami kenapa ? "


" Mami ga apa kok sayang " tersenyum getir, langsung memeluk tubuh mungil anaknya


" Kamu boleh kak lakuin apapun ke aku, tapi ga ke Caca. dia cuma anak kecil yang ga perlu tau semua kesalahan kita di masa lalu kak "


" Caca sayang ga sama mami ? " melepaskan pelukannya dan menatap sendu


" Caca harus janji ya sama mami, walaupun tanpa papi Caca tetap harus hidup bahagia "


Seorang gadis kecil yang tidak paham apapun hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala, Rania kembali memeluk anaknya dengan erat


" Walaupun tanpa adanya sosok papi di sisi kamu, mami janji akan selalu jaga kamu sepenuh hati sayang. Jadi tolong jangan pernah sedih di dalam kehidupan ini "


Sedangkan di tempat lain sesaat setelah kepergian Rania dari ruangan itu, Galang terjatuh duduk di lantai dengan air mata yang terus mengalir walaupun dia sendiri tak mengerti mengapa air matanya bisa keluar dengan sendirinya


" Sebenernya aku kenapa ? kenapa di sini sakit banget dengar perempuan itu bilang begitu ? apa. maksud perempuan itu bilang itu semua tadi ? siapakah kalian berdua sebenarnya ? "


" Aku yakin mereka pasti sesuatu yang penting bagi aku. Siapa kalian kenapa aku ga bisa ingat dengan kalian ? " menyeka air matanya


Sekilas tampak bayangan Rania yang sedang tertidur di atas sofa kebangsaan dia di mana dahulu kala tempat itu menjadi tempat tidur bagi Rania, Galang seperti mendapat sebuah gambaran di mana dirinya sedang mencium Rania di keningnya seperti kebiasaannya yang sering dia lakukan dahulu kala


" Akh...!! " Memegang kepalanya " Ga aku harus kuat, aku harus bisa mengingat semua tentang perempuan itu "


" Akh...!! "


Terbesit kembali gambaran tentang Rania sedang menerima lamaran dari Bara, dan secara perlahan Galang mulai kehilangan kesadarannya


" Lang... Lang... Lo kenapa Lang ? " menepuk pelan pipi Galang


Ternyata tepat setelah Rania berpamitan Revan tak kunjung melihat Galang kembali di antara mereka, karena merasa sedikit khawatir Revan pun memutuskan melihat keadaan Galang di dalam ruangan tersebut. Dan tepat sesuai dugaan Galang sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai


" Apa aku salah memaksa mereka ketemu ? "


Dengan keadaan yang panik Revan langsung meminta bantuan beberapa orang dan membawa Galang ke rumah sakit, bahkan dia dan istrinya meninggalkan acara yang sedang mereka adakan


Revan membawa Galang ke rumah sakit di mana selama ini dia melakukan pengobatan, tak lupa dia pun segera menghubungi tante Widya untuk memberikan kabar tentang Galang


" Van... "


" Lo sadar Lang ? bentar gw panggil dokter dulu ya "


Dengan cepat Galang memegang tangan Revan


" Siapa sebenarnya mereka Van ? "


" Lang kalo seandainya lo sehat detik ini juga gw akan teriak di hadapan lo kasih tau siapa mereka sebenarnya, tapi gw ga bisa Lang "


" Lo ga usah bohong lagi Van, tadi saat lihat perempuan itu nangis di sini sakit banget Van " memegang dadanya


" Dia banyak bilang hal yang aneh Van, dan gw ngerasa dia benci sama gw Van " Maaf Lang gw lupa cerita tentang keadaan lo sama Rania, gw pikir mungkin lebih baik kalian ketemuan dulu. Dan ternyata semua perkiraan gw salah "


" Lo ga usah pikirin yang aneh-aneh dulu Lang, yang penting lo stabil aja dulu "


" Gw ga ngerti kenapa lo ga mau cerita sama gw Van, tapi kalo lo pilih diam maka gw akan cari tau sendiri siapa sebenarnya mereka berdua "


Sesampainya tante Widya di rumah sakit Revan bersama istrinya pun tak lama berpamitan, bagaimana pun juga mereka harus meminta maaf kepada para undangan yang telah hadir di acara yang mereka adakan


" Gw balik dulu ya Lang " Galang hanya menjawab dengan senyuman " Gw pasti akan bantu lo biar bisa kumpul dengan mereka Lang "


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗


Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak " Zahra Anak Yang Tak Berdosa "


Ceritanya sudah TAMAT kak🤭


Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉