Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Tidak Membenci


Rania pun bergegas mencari di mana letak ponselnya dan segera menghubungi sekretaris pribadinya, Rania segera memberikan tugas untuk mencari tau tentang kalung itu


"Nia ga akan lari dari masalah bu, ibu yang tenang ya di sana" menyimpan kalung itu ke dalam tasnya


Rania memilih untuk keluar dari dalam kamar dan melihat persiapan untuk acara nanti malam dan membantu apapun yang bisa dia bantu, walaupun hampir semua pekerjaan sudah di handle dengan yang lain


Menjelang malam hari Galang pun kembali ke rumah itu dan kembali mengikuti acara yasinan untuk pamannya Rania, Revan pun ada di sana karena permintaan Galang


Selepas acara semua mulai membubarkan diri termasuk Revan, hanya Galang yang masih setia dia menunggu Rania berganti pakaian karena ingin mengajak Rania ke suatu tempat. Kini mereka pun sudah berada di dalam mobil dan Galang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang


"Kita mau ke mana kak?"


Galang hanya menoleh sambil tersenyum


"Seandainya kamu tau kak, perasaan aku ke kamu ga pernah berubah sedikit pun sampai detik ini. Ya Tuhan senyuman itu hal yang paling aku rindukan"


Galang mulai menghentikan mobilnya tepat di sebuah taman, Galang memandang Rania dengan penuh arti


"Aku harus ungkap semua perasaan aku ke kamu sekarang, aku ga tau apapun yang ada di masa lalu kita yang pasti aku ingin memiliki kamu seutuhnya saat ini"


"Ada yang mau omongin ke kamu Nia, boleh kan aku panggil kamu begitu?"


"Itu panggilan orang-orang terdekat aku kak, tapi kalo itu kak Galang aku pasti setuju" menganggukkan kepalanya


"Aku ga mau ada penyesalan di dalam hidup aku, aku tau aku ga ingat apapun tentang kamu di masa lalu. Tapi aku yakin kamu pasti seseorang yang penting untuk aku, karena dari pertama aku liat kamu di bandara kamu sudah ada di sini" memegang dadanya


"Kak..."


"Tolong biarin aku selesaikan dulu omongan aku"


Rania hanya bisa terdiam dan terus menatap Galang


"Aku minta maaf untuk masa lalu kita Revan udah cerita sebagian tentang kita, aku yakin aku banyak nyakitin hati kamu. Tapi apa bisa kita belajar melupakan semua di masa lalu kita? kita mulai semua dari awal"


Wajah Rania kembali tersipu


"Aku janji aku akan jaga kamu dan anak kita dengan sepenuh hati, tolong kasih aku kesempatan untuk membuat kalian bahagia dan menebus segala kesalahan aku di masa lalu" dengan yakin


"Apa bisa kasih aku waktu kak?" menundukkan kepalanya


"Aku akan tunggu kamu sampai kamu mau terima aku sepenuh hati, bagi aku ini aja udah cukup asal kamu kasih aku kesempatan" memegang ujung kepala Rania dengan lembut


"Terima kasih"


Rania melihat ke arah Galang dengan tersipu


"Untuk apa kak?"


"Karena kamu mau kasih aku kesempatan" tersenyum dengan hangat


"Ya Tuhan apa aku bisa raih kebahagiaan aku bersama laki-laki ini ? laki-laki yang sudah menghancurkan hati aku paling dalam. Dan laki-laki yang akhirnya mencuri hati aku"


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa kak?"


"Kata Revan kamu menolak lamaran seseorang karena aku, apa bener?"


Wajah Rania pun semakin tersipu


"Tolong jawab aku dengan jujur apa yang kamu benci dari aku di masa lalu? supaya aku ga akan ulangi hal yang kamu benci"


"Aku boleh jawab jujur ga kak?"


Galang menatap Rania dan menganggukkan kepalanya


"Aku ga suka saat kak Galang jadi galak atau berbuat kasar ke aku, apalagi suka marah hanya karena hal sepele. Apa kak Galang tau aku kasih julukan apa ke kak Galang dulu?"


Galang menggelengkan kepalanya


"Raja neraka" tersenyum dengan hangat


"Serius?" mengerutkan keningnya


Rania pun mengangguk dan mereka berdua pun tertawa dengan lepas


"Terus apa yang membuat kamu bisa menyimpan perasaan dengan raja neraka ini?"


Rania menatap ke arah taman sambil tersenyum


"Aku bisa lakuin itu semua ke kamu ? aku sekarang benar-benar yakin dari dulu pasti aku udah jatuhin pilihan hati aku ke kamu seorang"


"Hal apa yang paling menyakitkan hati kamu dari aku yang dulu?"


Rania menatap ke arah Galang dengan senyuman getir


"Apa aku harus jawab yang satu ini kak ? ini adalah hal yang paling menyakitkan bagi hati aku hingga saat ini"


"Aku mau minta maaf sama kamu tulus dari dasar hati aku yang paling dalam, jadi aku harus tau kesalahan terbesar yang pernah aku buat sama kamu"


Rania membuang napasnya dengan kasar dan menutup kedua bola matanya


"Saat kak Galang lakukan itu ke aku secara paksa kak, kak Galang sama sekali ga mau dengar penjelasan aku saat itu. Padahal itu adalah hari kepergian ibu aku untuk selamanya, jujur kak saat itu badan dan hati aku benar-benar sakit" lirih


"Ya Tuhan apa yang udah aku lakuin ke perempuan ini?"


Galang menundukkan kepalanya ke kemudi mobilnya, kata-kata Rania terus terngiang di telinganya


"Kak.."


Rania merasa khawatir dan memegang pundak Galang, Galang mulai mengangkat kepalanya dan menatap Rania dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Kenapa kak?"


"Apa aku masih pantas berharap memiliki kamu?"


"Kita pulang ya" memalingkan wajahnya dan mulai memegang stir mobilnya


"Kamu kenapa kak?" memegang tangan Galang


"Akh...!!" Memukuli kemudi mobilnya berulang kali dengan air mata yang mulai mengalir


"Kak..!!"


Galang menghentikan semua tindakannya dan menatap Rania dengan sendu


"Aku minta maaf.. Maaf..."


Galang menarik tangan Rania dan mulai mengarahkan ke wajahnya plak... Sebuah tamparan mendarat di pipi Galang, Galang mulai mengarahkan kembali tangan Rania ke arah pipinya Rania yang sudah tersadar menahannya dengan sekuat tenaga


"Kamu apa-apaan sih kak..!!"


"Kamu boleh pukul aku, pukul semau kamu. Aku rasa itu juga ga akan bisa menebus semua kesalahan aku ke kamu"


"Cukup kak..!!" menarik tangannya


Galang hanya bisa terdiam dan mengalirkan air mata dalam diam, dia hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya


"Makasih kak, makasih udah menunjukkan rasa bersalah kakak ke aku. Rasa yang selalu mengganjal di hati aku selama ini seperti benar-benar menghilang"


"Kak" menarik tangan Galang


Rania dapat melihat air mata Galang yang sudah mengalir dengan derasnya, sedangkan Galang hanya bisa memalingkan wajahnya


"Setiap kita manusia pasti punya kesalahan kak, tapi biarin itu semua jadi masa lalu kita yang hitam. Yang terpenting adalah bagaimana kita yang sekarang kak" menggenggam tangan Galang dengan erat,


Galang pun mulai berani menatap ke arah Rania


"Apa kamu ga benci sama aku?"


Rania menjawab dengan menggelengkan kepalanya dan melepaskan senyuman terbaiknya


"Makasih karena kamu ga membenci aku"


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗


Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak "Zahra Anak Yang Tak Berdosa"


Ceritanya sudah TAMAT kak🤭


Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉