
Galang lebih banyak diam menyesali segala perbuatan yang telah dia lakukan di masa lalu terhadap Rania, Galang hanya memandang kosong ke arah taman. Rania memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan ke arah salah satu bangku yang berada di taman itu, dan karena melihat Rania sudah berada di taman Galang ikut turun dari mobil dan menyusul Rania
Galang ikut mendudukkan dirinya di sebelah Rania dengan kepala yang terus tertunduk, Rania hanya bisa tersenyum melihat Galang yang seperti itu
" Ternyata aku ga salah jatuhin pilihan hati aku ke kamu kak, kamu berhati lembut seperti dugaan aku. Entah apa yang membuat kamu menjadi orang yang dingin bila di hadapan orang lain "
Rania kembali teringat akan semua ucapan Revan sebelumnya, Revan telah menceritakan bagaimana terpuruknya Galang saat melepaskan Rania kembali ke dalam pelukan Adrian
Revan juga telah menceritakan tentang Galang yang selalu datang ke kota di mana Rania berada, hanya untuk sebatas memandangi Rania dan Caca dari kejauhan. Galang tak memiliki keberanian untuk mendekati Rania karena perasaan bersalah yang dia rasakan
Cukup lama juga mereka berdua duduk di bangku taman itu hanya saling diam, dan Galang masih terus setia menundukkan kepalanya tak ada keberanian untuk menatap ke arah Rania
" Apa semuanya mau di akhiri sampe sini aja kak ? "
" Aku ga tau apa aku masih punya keberanian untuk mengejar cinta kamu lagi ? " menatap sendu
" Apa seorang raja neraka akan menyerah oleh rasa bersalah ? "
" Aku.. "
" Apa aku dan Caca ga bisa di jadikan kekuatan untuk kak Galang ? " tersenyum
Galang hanya bisa diam seribu bahasa pikirannya menjadi kosong bahkan dia tak menyadari apa yang baru saja Rania katakan
" Ya udah kita pulang aja ya kak "
Rania sudah mulai bangkit dari duduknya, Galang seperti baru saja mendapatkan semua kesadarannya dengan cepat Galang memegang tangan Rania
" Yang tadi kamu bilang, apa boleh aku pakai itu untuk alasan ? "
" Apa ada yang larang kak ? "
Galang segera bangkit dan memeluk tubuh Rania dengan lembut
" Terima kasih "
Mereka pun kembali duduk di bangku taman itu, dan kini Galang sudah mulai berani menatap ke arah Rania
Galang mulai menceritakan semua tentang dirinya kepada Rania dia ingin memulai semuanya dari awal tanpa ada yang di tutupi dari Rania, Galang kecil adalah seseorang yang sangat di manja oleh papanya dan mamanya. Galang hidup dengan mendapatkan semua yang dia inginkan
Galang mulai berubah semenjak kepergian papanya untuk selamanya, karena ada suatu kejadian pahit yang dia alami saat itu. Papanya meninggal dunia karena serangan jantung saat perusahaan mereka sedang ada masalah, dan mamanya menggunakan segala cara untuk bisa mempertahankan perusahaan itu
Kenangan itu membuat Galang berubah menjadi anak yang pendiam, di satu sisi ingin sekali rasanya dia membenci mamanya dan di sisi lain dia tak bisa melakukan itu karena hanya mamanya saja orang tua yang tersisa. Tetapi lambat laun hubungan mereka semakin ada jarak, Galang memilih untuk menjadi sosok yang dingin dan sedikit arogan
Hingga dia mulai mendekati Revan saat keluarga Revan mengalami masalah di perusahaan papanya, dan akhirnya Revan pun menjadi orang terdekat bagi Galang hingga saat ini
" Oh.... Jadi kamu cuma mau nutupin rasa kesepian kamu doang ya kak " tersenyum hangat
" Cerita hidup aku terlalu banyak drama ya ? "
Rania membalas dengan senyuman hangat
" Setiap orang punya kisah hidupnya masing-masing kak, aku juga punya satu rahasia "
Galang menatap serius
" Kak Galang udah cerita semua bagian terdalam di dalam hidupnya, ga mungkin aku harus bohong untuk masalah ini "
" Sebenernya aku cuma anak yang di pungut oleh ibu " menundukkan kepalanya
" Apa kamu udah tau itu dari lama ? "
Rania tersenyum getir dan mengangguk
" Tapi kamu tetep mau melakukan hal itu cuma untuk seorang ibu angkat, hati kamu benar-benar baik "
" Apa kamu tau orang tua kandung kamu ? "
Rania menggelengkan kepalanya
" Aku cuma tau kalo aku adalah anak dari sebuah hubungan tanpa status yang tidak di inginkan " lirih
" Maaf... Aku ga bermaksud untuk... "
" Ga apa kok kak, aku juga baru tau itu semua. Apa sekarang kak Galang mau berhenti setelah tau ini semua ? "
" Yah sekarang kan kak Galang udah tau aku cuma seorang anak yang terlahir ke dunia ini sebagai status anak... "
Ucapan Rania langsung terpotong karena Galang langsung memegang tangan Rania
" Yang salah kan mereka bukan kamu " dengan yakin
Rania pun tersenyum mendengar ucapan Galang
" Makasih ya kak ga memandang rendah ke aku "
" Apa kamu ada niat mencari keluarga asli kamu ? aku bisa bantu kalo kamu mau "
" Ga perlu kak, aku udah minta orang untuk cari tau "
" Kalo kamu butuh bantuan apapun kamu bisa bilang ke aku ya, kamu tau aku seneng banget kamu bisa cerita semua masalah aku ke kamu. Kamu orang ke dua yang tau semuanya setelah Revan. Dan jujur aku juga seneng kamu bisa cerita masalah kamu ke aku, berarti aku masih ada kesempatan "
" Aku cuma takut kak " tersenyum
" Takut apa ? "
" Takut kak Galang bawa aku ke neraka kalo aku ga kasih kesempatan buat kak Galang "
Mereka pun tertawa lepas, seperti tak ada beban lagi di hati mereka berdua
" Kamu tau wahai wanita, bahkan bila seluruh dunia ini banyak yang membenci kamu atau tak menginginkan kamu. Aku akan jadi orang pertama yang berdiri paling depan untuk menginginkan kamu " tersenyum
" Kenapa kak ? "
" Ga, aku semakin tau kalo kamu benar-benar cantik saat kamu tertawa "
" Aduh kok jadi aneh ya denger kak Galang ngomong gombal gini " tertawa
" Aku akan berusaha membuat tawa itu takkan pernah hilang dari bibir kamu "
Setelah puas berbincang dengan lama untuk pertama kalinya selama perkenalkan mereka, Galang mengantarkan Rania kembali ke kediaman pamannya
" Mau mampir dulu ga kak ? "
" Ga usah ya, ga enak udah malam "
" Oh.. Makasih ya kak untuk hari ini "
Galang hanya tersenyum
" Kamu salah seharusnya aku yang bilang itu, terima kasih banyak ada perasaan lega di hati aku saat ini "
" Aku masuk dulu ya kak "
" Selamat istirahat, kalo bisa mimpiin aku ya " tersenyum
Rania pun hanya bisa tersenyum geli
" Kenapa kak Galang jadi kayak anak ABG gini sih ? "
Setelah turun dari mobil Galang Rania langsung menuju ke kamar mereka dan merebahkan tubuhnya di samping putri kecilnya, dia pun mencium kening Caca dengan lembut
" Seandainya Tuhan mengizinkan maka sebentar lagi kamu akan bisa bersama dengan papi kamu sayang "
Rania segera mencari di mana letak ponselnya karena saat dia pergi di tak membawa ponselnya, ke dua bola mata Rania langsung membulat dengan sempurna saat melihat sebuah email yang masuk ke ponselnya guratan kekecewaan terlukis dengan jelas di wajahnya
" Ga... Ini ga mungkin ? gimana caranya aku harus berhadapan dengan dia " meneteskan air matanya
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak " Zahra Anak Yang Tak Berdosa "
Ceritanya sudah TAMAT kakðŸ¤
Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉