Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Sebuah Pengakuan


Nyonya besar Widya mengikuti sang dokter ke luar dari ruang rawat Galang dan mereka menuju ke arah ruang kerja sang dokter, dan Revan pun menemani Galang di ruang rawatnya


" Gimana perasaan lo Lang ? "


" Sakit semua badan gw rasanya " tersenyum meringis


" Yang penting sekarang lo udah ga apa-apa " tersenyum lega


" Van tolong in gw "


" Lo mau apa Lang ? "


" Tolong hubungi Anggi, gw takut dia punya pikiran aneh-aneh kalo nanti dia ada telpon dan sampai ga ke angkat sama gw "


" Sejak kapan lo perduli sama dia lagi ? " mengerutkan keningnya


" Van... "


" Apa lo mau dia tau keadaan lo sekarang ? bukannya si... " Memasang wajah bingung


" Siapa maksud lo Van ? "


" Rania lah... "


" Rania? Siapa Rania? kenapa nama itu ga aku ingat tapi kenapa aku ngerasain perasaan yang aneh "


Akh.... Galang merasakan sakit yang teramat di kepalanya, Revan pun menjadi panik dan berhamburan ke luar ruangan tersebut untuk memanggil dokter jaga


Sedangkan mama Widya sudah duduk di bangku tepat di hadapan meja kerja sang dokter yang menangani Galang


" Ada apa ya dok? "


Sepertinya saya harus menyampaikan sebuah kabar kurang baik kepada ibu "


Sontak saja wajah mamanya Galang langsung berubah menjadi cemas mendengar hal tersebut, dia pun hanya bisa diam untuk mendengarkan penjelasan dari sang dokter


" Saya akan melakukan pemeriksaan lanjutan, tapi untuk sementara ini saya bisa menyimpulkan bahwa benturan keras pada kepalanya membuat pasien melupakan sebagian dari memorinya di masa lalu "


" Apa itu sebabnya tadi Galang sempat tanya tentang Anggi ? Ya Tuhan ini akan menjadi sebuah anugerah ataukah bencana bagi keluarga kami "


" Setelah saya mengajukan beberapa pertanyaan tadi saya menyimpulkan bahwa pasien tak ingin mengingat tentang sesuatu di masa lalunya "


" Aneh kalo Galang ingin melupakan gadis itu, bukannya selama ini Galang selalu tersiksa merindukan gadis itu "


" Apa itu berbahaya untuk anak saya dok? " lirih


" Kami akan segera melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan tindakan apa yang terbaik untuk kita ambil, tetapi saya minta kepada ibu untuk sementara ini jangan memaksa pasien untuk mengingat sesuatu yang dia tidak inginkan. Untuk sementara ini pasien di larang untuk berpikir dengan keras, dan usahakan pasien dalam keadaan nyaman "


" Saya mengerti dok "


Dengan langkah yang gontai mamanya Galang meninggalkan ruangan sang dokter dan menuju ke arah ruang rawat Galang, mamanya Galang melihat wajah panik Revan dari kejauhan yang sedang memanggil dokter untuk melihat keadaan Galang. Mamanya Galang segera berlari kecil menghampiri Revan


" Van.. Kenapa Van? "


" Galang kesakitan tante "


Mereka pun segera kembali ke ruang rawat Galang bersama dokter dan beberapa suster jaga di tempat itu, sesampainya di sana mereka melihat Galang yang merintih kesakitan. Dokter pun dengan sigap menangani Galang dan segera memberikan obat penenang dan penghilang rasa sakit, dan tak butuh waktu yang lama Galang pun mulai tenang dan terlelap


Mamanya hanya bisa menangis dengan hebat melihat keadaan anaknya, mamanya mendudukkan dirinya di samping Galang sambil berurai air mata dengan hebatnya


" Sebenernya Galang kenapa ya tante ? "


" Dokter bilang benturan keras di kepalanya menyebabkan Galang kehilangan sebagian memori di masa lalunya "


" Dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, tapi untuk sementara ini kita ga boleh memaksa Galang untuk mengingat kembali secara paksa "


" Sebaiknya gw ga kasih tau Rania tentang ini, Rania perempuan yang berhati baik. Gimana kalo nanti dia maksa untuk ada di samping Galang kayak kejadian Adrian dulu, tapi masalahnya sekarang keadaan Galang dan Adrian beda "


" Tante menyesal Van "


" Yang sabar ya tante, Revan yakin semua akan berlalu. Yang terpenting sekarang Galang sudah selamat "


" Tante tau Galang mencintai gadis itu "


" Kalo masalah itu dari awal aku liat mereka aku udah tau, bahkan sebelum Galang sadar dengan perasaan dia sendiri "


" Tante yakin Galang selalu cerita apapun ke kamu kan ? " Revan menganggukkan kepalanya


" Kamu tau Van tante yang salah, Galang begini karena tante "


" Tante ga boleh salahin diri tante sendiri, tante harus kuat untuk Galang "


" Seandainya tante tau apa yang akan terjadi sama Galang, tante ga akan rencanakan itu semua dulu sama Anggi Van. Tante dulu cuma berpikir yang terbaik untuk Galang, dan ternyata tante salah kepergian gadis itu menghancurkan hidup Galang " menangis dengan hebatnya, sedangkan Revan hanya bisa terdiam seakan-akan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar


" Jadi Galang melakukan itu semua karena rencana mamanya dan Anggi, kok tante bisa sampai setega itu sama anak tante sendiri ? seandainya aja tante tau gimana perasaan menyesalnya Galang sudah melakukan itu semua ? "


Untuk beberapa saat Revan sempat seperti terlarut dalam pikirannya yang tak percaya dengan semua yang baru saja dia dengar, hingga tiba-tiba dia menjadi tersadarkan melihat keadaan tante Widya yang sudah menangis dengan hebatnya. Revan pun mencoba mendekati mamanya Galang dan menggenggam tangan mamanya Galang


" Ya udah biarin aja udah tante, kita ga akan bisa merubah yang udah kita lakuin di masa lalu. Sekarang yang terpenting adalah Galang "


Mamanya Galang menganggukkan kepalanya masih dengan air mata yang setia menghiasi kedua bola matanya


" Sekarang gimana rencana tante ? tadi Galang minta aku kasih kabar ke Anggi "


" Tante akan temuin Anggi, bagaimana pun juga ada anak di antara mereka. Tante akan minta tolong Anggi untuk temuin Galang, dokter minta Galang tidak boleh berpikir dengan keras sementara ini "


" Apa aku aja yang temuin Anggi tante ? "


Mamanya Galang menggelengkan kepalanya


" Biar tante aja Van, siapa tau dia mau bantu. Boleh tante minta tolong ke kamu sekali lagi Van ? "


" Tante mau minta tolong apa ? kalo Revan bisa pasti Revan bantu "


" Tolong jaga Galang sebentar, tante mau temuin Anggi "


Revan hanya membalas dengan anggukan kepalanya


Mamanya Galang pun segera menghubungi Anggi mengajak Anggi bertemu di suatu tempat, setelah Anggi menyetujui untuk bertemu mamanya Galang pun bergegas membersihkan wajahnya sejenak dan segera pergi dari ruang rawat Galang


Sedangkan di tempat nan jauh di sana Rania menyingkirkan segala risau yang bersarang di dalam hatinya, hari itu dia memutuskan untuk menyibukkan dirinya menyiapkan segala acara untuk perayaan ulang tahun anaknya. Rania memilih hal itu karena dia yakin bila dia pergi untuk bekerja maka hasilnya akan sia-sia, mimpi buruk itu terus saja terbayang dengan jelas oleh Rania


Untuk acara pesta ulang tahun anak yang terbilang masih cukup kecil itu Rania mengadakan acara yang cukup mewah, Rania akhirnya berhasil keluar dari perasaan tak nyamannya


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗


Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak " Zahra Anak Yang Tak Berdosa "


Ceritanya sudah TAMAT kak🤭


Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉