
Hari-hari berikutnya Galang dan mamanya hanya fokus dengan berbagai terapi untuk kesehatan Galang, sedangkan Anggi sedang menggunakan beribu cara untuk bisa kembali menaklukkan Galang. Anggi benar-benar menjadi sosok yang berbeda dengan sosok dia yang dahulu kala hanya untuk bisa melancarkan misinya
Waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan kemajuan kesehatan Galang sangat besar tetapi itu hanya terjadi pada tubuhnya, lain hal dengan ingatan Galang dia tetap melupakan wanita yang sangat dia cintai. Pihak dokter saat melakukan terapi menemukan bahwa ada sebuah trauma yang sangat mendalam dari dirinya sehingga alam bawah sadar Galang sendiri yang menginginkan untuk melupakan Rania
Seperti hari sebelumnya hari itu pun Anggi kembali setia menemani Galang untuk terapi, dan pada hari ini Anggi sudah membulatkan tekad untuk meminta Galang menikahi dirinya kembali. Selesai terapi Anggi seperti biasa akan membawa Galang kembali dan membawanya ke dalam kamarnya
" Kamu sekarang udah lebih baik sayang " tersenyum hangat
" Iya " dingin
" Jadi apa kamu udah siap untuk mencoba kembali sama aku ? "
" Masalah itu.. "
" Enggak.. Dia mulai ragu lagi.. Aku harus cepat bertindak " Anggi pun langsung berlutut di atas lantai sambil menggenggam tangan Galang
" Tolong ingat semua masa lalu kita, setidaknya kita bisa lakuin ini demi anak kita. Apa kamu ga kasihan liat anak kita besar tanpa sosok papanya ? " memelas
" Benar aku harus pikirkan nasib anak kami, maaf Anggi mungkin aku ga bisa kasih hati aku ke kamu. Tapi aku akan coba jalani sampai tahap itu, maaf aku ga akan bisa kasih kamu lebih "
" Ok aku akan pikirin itu, tapi kasih aku waktu "
" Ga apa kok sayang " langsung bangkit dan sumringah
" Gimana kalo kita bertunangan aja dulu ? "
" Ok.. Mungkin ini pilihan terbaik yang bisa aku kasih ke kalian " batin Galang
Dengan berat hati Galang pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, sedangkan Anggi yang merasa akhirnya semua usahanya berhasil pun sangat bahagia dan langsung memeluk tubuh Galang
" Makasih ya sayang, aku akan terus berusaha menjadi pendamping yang terbaik untuk kamu"
" Akhirnya kamu luluh juga dengan semua yang aku lakuin selama ini, aku udah bilang kan kamu akan kembali menjadi milik aku lagi "
Pelukan dari Anggi membuat Galang semakin yakin bila dirinya benar-benar sudah tidak ada rasa apapun terhadap Anggi, dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat itu. Jauh di dalam lubuk hatinya dia ingin sekali menolak itu semua, tetapi melihat perjuangan Anggi merawat dia selama ini dan demi anak mereka Galang pun hanya bisa menyetujui itu semua
Acara pertunangan mereka di rencanakan dengan sederhana, hanya akan di hadiri oleh beberapa sanak keluarga dan para sahabat. Galang pun segera memberikan kabar tersebut kepada sahabatnya yang tak lain adalah Revan, Revan yang menerima kabar tersebut langsung bergegas untuk menemui Galang
Tak butuh waktu lama Revan sudah berada di kediaman mamanya Galang Revan meminta Galang untuk berbicara empat mata. Akhirnya Galang pun membawa Revan ke dalam ruang kerjanya, kini mereka sudah duduk saling berhadapan dengan wajah Revan yang tiada terhias senyum sama sekali
" Kenapa anak ini ? kayak lagi marah sama gw ? "
" Maksud lo apa Lang ? "
Galang mengerutkan keningnya
" Jangan pura-pura b*go lo sama pertanyaan gw " sinis
" Lo kenapa sih Van ? "
" Apa maksud lo tunangan sama dia ? apa lo juga berencana menikah sama dia ? "
Galang pun menyenderkan tubuhnya ke belakang sofa dan membuang napasnya dengan kasar
" Gw lakuin ini demi anak kami Van, mungkin gw cuma bisa lakukan sampe sini aja "
" Maksud lo ? "
" Gw pernah menjadi anak yang tertutup semenjak kepergian papa gw, gw ga mau anak gw juga merasakan hal yang sama. Apa lagi dia masih terlalu kecil Van, tapi untuk menikah dengan Anggi mungkin gw ga bisa. Karena di sini ga ada rasa apapun sama dia " memegang dadanya
" Ini bukan mainan tau ga lo Lang..!! "
" Gw ngerti makanya gw cuma bisa kasih sampe sini aja ga bisa lebih lagi " menatap Revan dengan yakin
" Apa dia tau ? "
Galang menggelengkan kepalanya
" Lo tau kan Lang gw peduli sama lo udah kayak saudara gw sendiri "
Galang menjawab dengan anggukan
" Jadi ingat pesan gw ini, ikutin kata hati lo. Jangan pernah lakukan hal berlebihan untuk orang lain yang akan membuat lo menyesal untuk selamanya nanti " serius
" Lo sebenarnya kenapa sih Van ? gw selalu ngerasa ada hal yang lo tutupin dari gw "
" Sebenernya lo keberatan dari segi apa ? gw ngerasa lo selalu tutupi sesuatu dari gw " menatap tajam
" M*mpus gw, harus jawab apa gw sekarang ? "
Revan teringat kembali akan perbincangan dirinya sendiri dan tante Widya, mamanya Galang mengungkapkan segala penyesalan dirinya terhadap apa yang telah dia lakukan di masa lalu. Semua itu dia lakukan setelah pihak dokter menjelaskan terhadap mamanya Galang keadaan Galang saat ini
Alam bawah sadar Galang memaksa dirinya untuk melupakan Rania, karena Rania adalah sesuatu yang sangat menyakitkan bagi dirinya. Pihak dokter juga meminta untuk tidak memaksakan Galang untuk mengingat tentang Rania atau itu bisa berdampak buruk bagi kesehatannya
" Kenapa lo diam Van ? "
" Ya kan lo tau sendiri Anggi itu cuma cantik di luarnya aja, perempuan kayak gitu cuma bisa jadi pelampiasan aja bukan pendamping hidup kita Lang "
" Cuma itu ? " menatap tajam
" S*al.. Jadi gw yang kejebak di sini, ingat Van jangan sampe lo keceplosan " Ya gw juga memang ga suka dari dulu sama dia "
Tatapan mata Galang menunjukan bahwa dia tak percaya dengan apa yang sedang di ucapkan oleh Revan, tetapi Revan tetap berusaha sekuat tenaga menutupi tentang Rania. Hingga akhirnya Galang pun menyerah walaupun dia tetap yakin Revan masih menyembunyikan sesuatu dari dirinya
Hari yang di nantikan oleh Anggi pun tiba, Anggi sudah di balut oleh kebaya berwarna putih yang sangat cantik. Beberapa para undangan pun sudah tiba di sana, sedangkan Galang juga sedang bersiap di dalam kamarnya dengan balutan jas hitam
Semua orang kini sudah bersiap berkumpul di sebuah ruangan, pihak keluarga sedang menuju ke arah kamar Galang untuk memanggil Galang dan sebuah kamar yang sudah di siapkan untuk Anggi. Karena sesaat lagi prosesi acara pertunangan mereka akan segera di lakukan
Anggi melangkahkan kakinya dengan gemulai ke arah ruangan di mana semua orang sudah berkumpul, dengan senyuman bahagia yang selalu terhias di bibirnya
" Aku sudah sampai ke tahap ini, sebentar lagi aku akan bisa mengendalikan dia lagi kayak dulu "
Di ruangan itu juga Revan hadir bersama keluarga kecilnya, wajah kekecewaan terlukis jelas di wajah Revan. Walaupun dia sudah mengetahui tentang apa yang dipikirkan oleh Galang, dia tetap tak bisa menutupi rasa kekecewaannya melihat acara tersebut
" Walaupun hanya sebatas ini, gw cuma berharap lo ga akan menyesali apa yang lo lakukan ini Lang "
Lamunan Revan pun menghilang karena genggaman tangan dari istrinya yang mengerti apa yang kini sedang di rasakan oleh suaminya, istrinya mencoba memberikan ketenangan pada hati Revan dengan senyuman hangatnya
" Semua akan baik-baik aja kok sayang, kita harus percaya Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Aku yakin Tuhan akan memberikan mereka kebahagiaan dengan caranya sendiri " berbisik
" Aku yakin Tuhan akan menunjukkan jalan bagi Galang, Galang pasti akan memilih pilihan yang terbaik bagi dirinya "
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak " Zahra Anak Yang Tak Berdosa "
Ceritanya sudah TAMAT kakðŸ¤
Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉