Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Kesedihan Dan Penyesalan


Rania sedang sibuk dengan segala urusan pekerjaannya di dalam ruangan hingga terdengar suara pintu yang di ketuk


Tok.. Tok..


" Masuk "


" Maaf bu pihak dari PT Buana sudah hadir di ruang rapat "


" Semua bahan sudah di siapkan ? "


" Sudah bu "


" Ok tunggu sebentar "


Asisten pribadi Rania pun membungkukkan sedikit kepalanya dan meninggalkan ruangan tersebut


Rania pun bergegas untuk bangkit dari duduknya dan menuju ke ruang rapat, sedangkan sekretaris Rania sudah menunggu di luar ruangan Rania dan mereka mulai melangkahkan kakinya menuju ke ruang rapat


" Selamat siang "


Rania menjulurkan tangannya dan di sambut oleh seorang pria muda yang sangat tampan dan masih terbilang muda dengan senyuman yang sangat menawan


" Cantik... "


Pertemuan itu berjalan dengan lancar dan Rania berhasil melakukan kesepakatan dengan lancar, hanya satu hal yang Rania tak sadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang diam-diam memperhatikan dirinya. Pria tersebut adalah CEO dari perusahaan yang sedang naik daun tersebut


Mereka pun mencapai sebuah kesempatan dan melakukan penanda tanganan kontrak dan saling berjabat tangan bergantian dengan dengan tersenyum bahagia


" Kalo ga keberatan untuk merayakan ini, apa boleh saya undang ibu dan yang lainnya untuk makan siang ? "


Karena untuk menghormati Rania pun tak menolak ajakan tersebut walaupun di dampingi oleh beberapa orang dari pihak PT Buana dan perusahaannya, dan tatapan pria tersebut kini semakin tak bisa lepas dari Rania. Rania pun mulai menyadari karena beberapa kali Rania memergoki saat pria tersebut sedang menatap ke arah dirinya


Setelah itu pun mereka kembali ke kantor mereka masing-masing, dan setibanya Rania di dalam ruangan tak berselang lama pria itu sudah mulai mengirimkan pesan kepada Rania


Di dalam ruang kerjanya pria tersebut terus tersenyum sendiri membayangkan wajah polos dan cantik seorang Rania, akhirnya dia pun membulatkan tekad dan meraih ponselnya


" Sudah sampai belum ? "


" Astaga apa-apaan sih ini orang, sayang aja klien penting " menaruh ponselnya di atas meja dan mengabaikan pesan itu


" Sebelumnya aku minta maaf, kalo aku sudah membuat kamu kurang nyaman. Tapi aku memang begini orangnya, aku akui aku benar-benar tertarik dari pertama melihat kamu. Apa boleh aku mengenal kamu lebih jauh ? "


" Maaf pak saya sedang tidak tertarik untuk menjalin sebuah hubungan, karena saya sudah pernah menikah dan mempunyai seorang anak "


" Maaf kalau begitu minimal kita bisa menjadi teman kan, saya juga pernah menikah dan mempunyai seorang anak. Istri meninggal saat melahirkan anak kami "


Membaca pesan terakhir dari pria tersebut Rania bak merasa nasib pria tersebut hampir sama dengan dirinya, dan hati kecil Rania pun tak bisa menolak ajakan berteman dari pria tersebut


Hubungan mereka pun secara perlahan mulai menjadi semakin dekat sebagai seorang teman dan tempat saling bercerita, mereka dapat bercerita dengan bebas kehidupan mereka karena merasa nasib mereka yang hampir sama. Mereka pun sudah sering untuk bertemu walaupun hanya sekedar makan siang atau pun makan malam


Di keseharian Rania sudah menjadi sebuah kewajiban bagi dirinya mengantarkan anaknya ke sekolah terlebih dahulu sebelum dirinya pergi ke kantor, cara itu Rania gunakan agar buah hatinya tetap merasa dekat dengan dirinya di antara sejuta kesibukan yang kini dia miliki, Rania pun ikut turun dari mobilnya dan mengantarkan anaknya ke arah gerbang sekolah


" Belajar yang bener ya sayang " mencium ke dua pipi buah hatinya


Buah hatinya pun masuk ke dalam lingkungan sekolahnya yang tergolong sekolah elite, bagaimana tidak karena hampir semua yang bersekolah di tempat itu adalah anak-anak para pengusaha dan orang-orang penting. Rania juga selalu mengutus seorang baby sitter untuk selalu mendampingi anaknya di sekolah


Setelah buah hatinya menuju ke dalam kelasnya Rania pun kembali ke dalam mobilnya dan meminta sang supir untuk membawa dirinya ke kantor, sedangkan dari kejauhan ada sebuah mobil yang terus memperhatikan Rania dan anaknya sedari tadi dengan tatapan sendu


Tut.. Tut...


" Ya "


" Lo di mana ? "


" Gw lagi di... "


" Apa lo lagi perhatiin mereka dari jauh lagi ? "


Ternyata pria itu adalah Galang, Galang sudah merelakan saat Rania pergi untuk menemui Adrian. Dan saat Adrian di kabarkan meninggal dunia Galang langsung meluncur untuk melihat keadaan Rania, Galang melihat Rania yang menangis dengan hebat karena kehilangan Adrian. Semenjak saat itu Galang tak berani menemui Rania, Galang merasa bila di dalam hati Rania hanya ada nama Adrian seorang


" Ya " lirih


" Mau sampe kapan lo begitu Lang ? " sedikit berteriak


" Gw ga tau Van, mungkin sampe Rania menemukan seseorang untuk menjaga mereka berdua "


" Apa lo yakin ? kenapa ga lo temuin aja dia ? gw bener-bener ga ngerti sama jalan pikiran lo Lang "


" Gw ga bisa Van "


" B*doh kalo lo ga coba dulu ya lo ga akan tau, minimal lo akan tau kalo lo udah coba. Gw sampe capek Lang nasehati lo, gw hanya berharap suatu saat nanti lo akan temui kebahagiaan lo sendiri "


" Terus apa lo siap kalo suatu saat dia bakal temuin orang lain ? "


" Lo ga tau Van, sekarang dia udah bisa senyum dengan laki-laki lain sedangkan gw cuma bisa perhatiin dia dari jauh. Rasanya bener-bener sakit Van, tapi semua itu udah ga penting lagi buat gw "


" Yang penting dia bisa bahagia " lirih


" Terserah lo lah Lang, sebagai teman gw cuma bisa ingetin lo aja. Kehidupan ini pasti berjalan, kalo lo terus begitu suatu saat nanti lo akan bener-bener kehilangan mereka. Semoga aja lo udah siap "


" Hmm.. " Memutuskan sambungan teleponnya


" Gw ga tau Van gw sanggup apa ga nanti saat Rania benar-benar mendapatkan seseorang untuk menjaga dia dan anak kami berdua, tapi gw janji gw ga akan melakukan sesuatu yang bisa menyakiti dia lagi "


Ternyata selama beberapa tahun ini Galang sering melarikan diri ke tempat di mana Rania berada dan selalu memperhatikan Rania dari kejauhan, tetapi hanya itu yang selalu dia lakukan dia tak berani menampakkan diri di hadapan Rania. Dia merasa tak pantas untuk menjaga Rania menggantikan posisi seorang Adrian


Galang pun terus memandangi Rania dan buah hati mereka dari kejauhan hingga Rania benar-benar pergi meninggalkan tempat itu


" Maafin papa ya sayang, papa sampe sekarang belum pernah peluk kamu. Tapi kamu harus tau kalo papa akan sayang kamu untuk selamanya, sama seperti papa menyayangi mama kamu "


Galang menjatuhkan wajahnya di kemudi mobilnya, Galang pun kembali mengingat semua yang telah dia lakukan dia pun semakin larut dalam kesedihan dan penyesalan


Hari demi demi hari terus berlalu dengan cepat bahkan kini hubungan antara Rania dan Bara sang CEO PT Buana sudah semakin dekat, Bara sangat berharap Rania bisa membuka hatinya suatu saat nanti. Tetapi berbeda dengan Rania di dalam hatinya hanya ada seorang nama yang tak pernah bisa dia lupakan hingga saat ini