
Rania melanjutkan membaca data-data yang di kirimkan oleh sekretaris pribadinya, hatinya semakin hancur melihat semua data-data tersebut. Dia pun segera menghubungi sekretaris pribadinya
"Ya bu"
"Pesan tiket pemberangkatan pertama ke sini, saya mau kamu temukan laki-laki itu. Saya harus pastikan semuanya dengan orang itu terlebih dahulu"
"Baik bu"
Rania segera mematikan sambungan teleponnya
Beberapa pesan di kirimkan oleh Galang saat dia tiba di kediamannya, tetapi saat ini Rania butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Dia pun mengabaikan pesan dari Galang, sedangkan Galang berpikir mungkin Rania sudah terlelap ke alam mimpi
Pagi hari saat Galang membuka mata dia langsung memeriksa ponselnya ternyata tetap saja tak ada balasan apapun dari Rania, Galang masih mencoba berfikir positif dia pun segera melakukan ritualnya seperti biasa di pagi hari. Sedangkan Rania sudah berada di hadapan makam ibunya
"Bu Nia datang, Nia ga tau apa ibu akan datang lagi ke mimpi Nia memberikan Nia kekuatan. Nia rasa Nia ga akan sanggup untuk berhadapan dengan orang itu bu, dia terlalu jahat bu" berkaca-kaca
"Maafin Nia bu kalo Nia bikin ibu kecewa, tapi Nia takut hati Nia ga akan kuat bu"
Rania mulai meneteskan air matanya di hadapan makam ibunya, hingga tiba-tiba suara ponselnya pun berdering
"Ya"
"Saya sudah tiba di kota xx bu, saya juga sudah mendapatkan info tempat tinggal orang itu bu"
"Ok.. Segera atur pertemuan saya dengan orang itu"
"Baik bu"
Rania memutuskan sambungan teleponnya
"Maafin Nia ya bu, tapi Nia janji Nia akan tetap hadapi semuanya sebatas kemampuan Nia"
Rania mulai melangkahkan kakinya meninggalkan area pemakaman tersebut
Rania melihat ada beberapa pesan masuk lagi ke ponselnya yang di kirimkan oleh Galang, Rania hanya membaca pesan-pesan tersebut dan kembali mengabaikan pesan dari Galang. Sedangkan di dalam ruangannya Galang sudah mulai memikirkan Rania yang tak kunjung membalas pesan darinya
Seorang pria muda mengendarai sebuah mobil yang terbilang mewah dan berpenampilan rapi memasuki sebuah perumahan dan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah
"Alamatnya sudah sesuai dari info yang aku dapat"
Rania mulai turun dari mobil dan mulai melangkahkan kakinya, sesaat sebelum mengetuk pintu ada seorang pria yang sudah berumur membuka pintu
"Maaf mau cari siapa ya?"
"Sepertinya ini orang ya aku cari"
"Selamat pagi pak Handoko, perkenalkan nama saya Dimas" tersenyum dan mengulurkan tangannya
"Ada perlu apa dengan saya?" menjabat tangan pria tersebut
"Ada yang ingin bertemu dengan bapak, apa bapak ada waktu sebentar untuk ikut dengan saya?"
Kini Rania sudah berada di sebuah cafe dan memesan sebuah coklat hangat, Rania terus melamun sambil mengaduk-aduk coklat hangat tersebut
"Selamat pagi bu, ini pak Handoko"
Rania bangkit dari duduknya, dan mempersilahkan pria tersebut untuk duduk sedangkan sekretaris pribadinya memilih untuk mencari tempat duduk yang sedikit jauh dari mereka berdua
"Mau pesan sesuatu pak?"
"Ga usah bu, terima kasih. Sebenernya ada apa ibu mencari saya?"
"Saya rasa ini pertemuan pertama kita, jadi ya saya juga ga mau membuang waktu bapak dengan percuma. Saya akan langsung aja pada inti masalahnya, apa bapak kenal dengan wanita ini" menyodorkan sebuah foto
"Maaf saya ga kenal dengan dia" memasang wajah masam
Pria tua tersebut langsung bangkit dan hendak meninggalkan Rania
"Apa kamu juga lupa kalo kamu telah menghamili dia?"
Pria tua tersebut menatap Rania dengan tajam, dan kembali mendudukkan dirinya di hadapan Rania
"Sebenernya apa maksud semua ini?"
Rania melepaskan senyuman sinis
"Saya mau tau semua tentang hubungan kalian berdua" dengan tegas
"Maaf tapi saya sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu"
"Lalu apa kamu juga lari dari tanggung jawab sebagai seorang pria?"
"Apa urusannya dengan kamu masa lalu kami?"
"Karena saya adalah anak dari hasil hubungan kalian berdua" sinis
"Itu ga mungkin, ga mungkin anak itu kamu" menatap tajam
Rania hanya bisa terdiam sambil mengerutkan keningnya
"Mereka bilang dia menggugurkan anak kami, dia juga lebih memilih untuk menikah dengan orang lain yang lebih pantas dari pada saya yang miskin ini" lirih
"Bagaimana mungkin ada wanita sejahat itu di dunia ini? jadi awalnya dia ingin menggugurkan kandungannya. Entah bagaimana ceritanya akhirnya dia melahirkan dan membuang aku?"
"Apa bener kamu anak kami?" berkaca-kaca,
Rania hanya bisa terdiam seribu bahasa. Seakan seluruh isi kepalanya menjadi kosong pada saat itu
"Saya minta maaf, saya ga tau apapun tentang kamu. Saat itu saya benar-benar terpukul mengetahui dia melakukan itu semua, saya tak pernah mencari tau lebih dalam lagi " lirih
FLASH BACK
"Permisi..." Mengetuk sebuah pintu di sebuah rumah yang sangat mewah
"Maaf mau cari siapa ya?"
"Maaf mbak saya mau ketemu sama.."
"Mau apa kamu datang lagi ke rumah kami?" menatap tajam
Sang pelayan di rumah tersebut pun langsung pergi menjauh meninggalkan tamu tersebut dan sang tuan rumah
"Maaf om saya ke sini mau cari..."
"Kamu ga perlu cari-cari dia lagi, dia sudah pergi ke luar negeri dan sebentar lagi dia akan menikah"
"Tapi om saya datang ke sini mau bertanggung jawab" menundukkan kepalanya
"Apa yang bisa kamu kasih ke dia? kalo untuk diri kamu sendiri aja kamu masih kekurangan" sinis
"Saya memang bukan orang kaya om, tapi saya janji saya akan bekerja keras untuk membahagiakan dia dan anak kami" memelas
"Anak apa? anak itu sudah di gugurkan. Dan itu pilihan dia sendiri" dengan tegas
"Kenapa? kenapa kamu tega membunuh anak kita? aku udah janji sama kamu aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan kalian nantinya"
"Kamu tunggu apa lagi? cepat pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi"
Dengan perasaan yang hancur berkeping-keping pria itu meninggalkan rumah sang kekasih, dia sempat beberapa kali berusaha memastikan kembali tetapi jawaban yang sama yang selalu dia dapatkan. Hingga beberapa tahun kemudian dia pun mendengar kabar bahwa sang kekasih hati baru saja kembali dari luar negeri dan sudah berkeluarga serta memiliki seorang anak
"Umur anak itu lebih tua dari umur kandungan kamu yang seharusnya, berarti kamu lebih memilih mengurus anak orang lain. Tetapi kamu tega membunuh anak kita"
Akhirnya pria tersebut memilih untuk mulai melanjutkan hidupnya setelah melihat wanita sang pujaan hatinya tersebut bersama keluarga kecilnya, pria tersebut melihat wanita itu sangat menyayangi anak yang berada di sampingnya. Dan dia pun berusaha melupakan segala masa lalu di antara mereka berdua
FLASH OFF
"Maaf.. Mungkin saya ga pantas untuk menjadi ayah kamu karena saya ga pernah melaksanakan kewajiban saya sebagai orang tua selama ini, tapi saya berani bersumpah saya benar-benar tidak mengetahui apapun tentang kamu. Saya pikir kamu sudah tidak ada di dunia ini" lirih
Rania hanya bisa terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca mendengar semua penjelasan dari sang ayah yang kini duduk di hadapannya
"Jika kamu mengizinkan maka saya akan mencoba menebus segala kesalahan yang telah saya lakukan di masa lalu" menundukkan kepalanya
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak "Zahra Anak Yang Tak Berdosa"
Ceritanya sudah TAMAT kakðŸ¤
Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉