
Mama Widya meninggalkan apartemen Galang dan memerintahkan mencari tau di manakah kediaman Rania saat ini, setelah mengetahui di mana Rania tinggal mama Widya segera mempersiapkan diri untuk pergi ke sana. Karena sebagai seorang ibu hatinya sangat hancur melihat keadaan anaknya
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh nyonya Widya pun tiba di kota di mana Rania kini berada, dia pun langsung meluncur ke kediaman Rania dan ternyata Rania tak berada di rumah karena dia sudah pergi bekerja. Rania melarutkan segala beban pikirannya dengan lari ke sejuta kesibukan
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk"
"Maaf bu ada ibu Widya ingin bertemu dengan ibu"
"Apa harus secepat ini aku bertemu dengan dia? tapi aku ga mungkin selamanya menghindar dari dia"
"Biarin dia masuk"
Sekretaris Rania mengantarkan nyonya Widya memasuki ruangan Rania, nyonya Widya sempat sedikit kagum melihat Rania sudah menjadi sosok yang berbeda. Rania benar-benar berbeda dengan gadis yang dulu rela melakukan apapun hanya demi pengobatan ibunya
"Silahkan duduk"
Nyonya Widya mulai melangkahkan kakinya dan mendudukkan dirinya tepat di hadapan Rania
"Apa kabar?" tersenyum
"Seperti yang ibu lihat, tanpa seorang ibu dan ayah sekali pun kehidupan saya sekarang baik-baik saja" penuh penekanan
"Apa ada yang bisa saya bantu untuk nyonya Widya yang terhormat?"
"Saya datang ke sini untuk meminta maaf"
"Untuk kesalahan nyonya Widya yang mana?" menatap tajam
"Karena dulu saya sudah bersikap kasar kepada kamu, bahkan saya menganggap kamu tidak pantas untuk anak saya" menundukkan kepalanya
"Hanya untuk masalah itu nyonya Widya?" melepaskan tatapan membunuhnya
"Apa maksud dia? kenapa aku ngerasa dia seperti sangat membenci saya? apa aku punya kesalahan lain lagi?" mengerutkan keningnya
"Lalu apa tujuan nyonya melakukan ini semua?"
"Saya berharap kamu bisa memaafkan saya, dan kamu bisa memberikan kesempatan untuk Galang"
"Jadi kamu datang ke saya rela meminta maaf hanya untuk seorang anak yang bukan darah daging kamu, lalu bagaimana dengan hati saya yang ternyata adalah darah daging kamu sendiri?"
"Apa yang bisa nyonya berikan kepada saya selain permintaan maaf?" sinis
"Apa yang kamu minta? saya akan lakukan apapun itu. Hati saya sebagai seorang ibu saya ikut hancur melihat anak saya terpuruk" menundukkan kepalanya
"Maaf nyonya Widya yang terhormat" penuh penekanan membuat nyonya Widya menatap ke arah Rania
"Saya tidak bisa bersama kak Galang semua karena satu orang, dan itu adalah anda nyonya Widya"
"Apa yang harus saya lakukan supaya kamu bisa memaafkan saya?" lirih
"Saya mau kamu meminta maaf karena kamu berusaha melenyapkan saya dari dunia ini, saya mau kamu meminta maaf karena mencampakkan saya, saya mau kamu memeluk saya sebagai seorang anak bukan sebagai wanita yang menyelamatkan jiwa anak kamu"
Wajah Rania tak dapat menutupi kemarahan di dalam dirinya, membuat nyonya Widya menjadi heran melihat ekspresi Rania. Tetapi dia sendiri tak bisa menerka apa yang sedang di pikirkan oleh Rania
"Kalo saya bilang saya mau kembali ke kak Galang dengan satu syarat, apakah anda akan memenuhi permintaan dari saya nyonya Widya yang terhormat?"
Rania tersenyum sinis mendengar hal itu
"Kamu bersedia berlutut karena melihat anak yang bukan darah daging kamu sendiri terpuruk, lalu ala susahnya mencari keberadaan saya dan meminta maaf dengan saya secara tulus sebagai seorang ibu yang telah menelantarkan anaknya. Kamu tau hati saya semakin sakit mendengar itu semua"
"Saya mau kamu menghilang dari hadapan kami selamanya, bagaimana nyonya Widya yang terhormat?" penuh penekanan
"Apa segitu bencinya kamu terhadap saya? hingga saya harus kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidup saya" memasang wajah sedih
"Sebaiknya anda pikirkan dulu semuanya baik-baik, saya cuma minta anda memikirkan semua kesalahan anda di masa lalu yang lebih lama sebelum anda melakukan itu semua terhadap saya"
Mama Widya mengerutkan keningnya saat itu dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang telah di ucapkan oleh Rania, dia berusaha keras untuk memikirkan apa kesalahan yang telah dia perbuat kepada Rania sebelum mereka bertemu saat perjanjian itu terjadi. Tetapi hasilnya hanyalah sia-sia dia benar-benar tak dapat menemukan apa maksud dari Rania
"Apa maksud semua omongan kamu sebenarnya?"
"Sebentar lagi saya ada meeting sebaiknya anda pergi dari sini"
"Sebenernya kesalahan apa yang saya perbuat ke kamu? selain hal kasar yang saya lakukan saat kamu menjadi istri Galang"
"Apa semudah itu seorang ibu melupakan anaknya sendiri?" maaf saya harus menghadiri meeting, saya permisi dulu"
Rania mulai bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah pintu, lalu dia berhenti tanpa menoleh ke belakang
"Kesalahan terburuk yang pernah anda lakukan adalah terhadap darah daging anda sendiri"
Rania keluar dari ruangannya tanpa menoleh sedikit pun, nyonya Widya tak dapat melihat bila saat itu mata Rania sudah berkaca-kaca
Nyonya Widya pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rania dengan seribu pertanyaan yang bersarang di dalam benaknya, dia segera menuju ke mobilnya dan meminta sang supir mengantarkan dia kembali ke bandara
"Apa maksud dia tadi? kesalahan yang lebih jauh lagi, kesalahan saya terhadap darah daging saya sendiri. Apa maksud dia tentang anak itu? tapi apa kesalahan saya?"
Nyonya Widya kembali ke kediamannya dan memutuskan untuk membersihkan dirinya sejenak, setalah itu dia mulai merebahkan tubuhnya masih dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa dia temukan jawabannya. Hatinya juga sedih memikirkan keadaan Galang, hingga dia pun mulai terlelap karena rasa lelahnya
Nyonya Widya terbangun dari tidur lelapnya dengan keringat yang bercucuran sangat deras, di alam mimpinya dia memimpikan semua kejadian di masa lalunya. Semua sikap keras papanya dan akhirnya dia pun harus menikah dengan seorang duda yang istrinya baru saja meninggal karena melahirkan anak mereka
"Papa.. Aku harus tanya semuanya ke papa.. Aku harus tau semua kebenarannya"
Malam yang masih panjang pun tak bisa membuat nyonya Widya kembali memejamkan ke dua bola matanya, semua perkataan Rania menjadi faktor utama beban pikirannya saat ini. Walaupun di sebagian benaknya tetap memikirkan keadaan Galang saat ini
Pagi baru saja menyapa nyonya Widya sudah bersiap-siap untuk pergi ke kediaman papanya, semenjak kepergian mamanya untuk selamanya dia sudah sangat jarang menginjakkan kakinya ke tempat itu
Semua itu dia lakukan semenjak dia mengetahui bahwa papanya memberikan perintah untuk melenyapkan buah hatinya dari dunia ini, sebagai seorang anak dia memaafkan semua perbuatan papanya. Tetapi sebagai seorang ibu sangat sulit bagi dirinya memaafkan itu semua
Dengan membulatkan tekad untuk mengetahui segala yang terjadi di masa lalu akhirnya dia pun tiba di kediaman papanya, dengan langkah yang pasti dia pun mulai memasuki rumah yang penuh kenangan manis dan pahit dalam masa lalunya
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak "Zahra Anak Yang Tak Berdosa"
Ceritanya sudah TAMAT kakðŸ¤
Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉