
"Maaf Van mungkin tante ga akan punya keberanian untuk melakukan itu semua, biarkan mereka bahagia tanpa harus tau apapun tentang cerita pahit dari masa lalu" lirih
"Sebelum tante memutuskan untuk pergi, apa tante boleh tanya sesuatu? dan tolong jawab dengan jujur Van"
"Apa yang tante mau tau?"
"Apa Rania benar-benar mencintai Galang?"
"Yang aku tau Rania ga pernah bisa menghapus sosok Galang dari dalam hatinya"
"Kalo gitu sekarang tante sudah yakin untuk menghilang dari mereka" lirih
"Tapi tante juga berhak bahagia bersama mereka" yang ada di pikiran Revan saat ini adalah berusaha terus membujuk tante Widya, dia tak ingin ada suatu masalah lagi yang akan timbul nanti di kemudian hari
"Tante sekarang sudah cukup bahagia Van, ga ada kebahagiaan yang lebih besar bagi orang tua selain kebahagiaan anaknya sendiri"
"Apa sekarang tante sayang sama Rania dengan sepenuh hati?"
"Kamu tau Van, tante melakukan ini semua untuk Rania" dengan yakin dan tersenyum getir
"Kalo tante benar sayang sama Rania kenapa tante memilih untuk pergi meninggalkan mereka?"
"Karena itu syarat yang Rania ajukan untuk kembali ke sisi Galang" menundukkan kepalanya
"Aku yakin Rania perempuan baik-baik, aku yakin ini hanya emosi sesaat Rania. Apa ga ada cara lain untuk menyelesaikan semua masalah ini? kenapa juga aku harus selalu ada di antara masalah Rania dan Galang. Liat aja kalo ada kesempatan maka aku akan balas kalian"
"Revan ga bisa paksa tante, tapi apa boleh Revan tau tante mau ke mana?"
Tante Widya hanya membalas dengan senyuman getir sambil menggelengkan kepalanya
Dengan sigap Revan segera mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang
"Kalo gitu tante duluan ya Van" sudah mulai bangkit dari duduknya
"Tante mau ke mana? biar Revan antar"
"Ga perlu Van, tante sekarang mau pulang dulu istirahat. Mungkin besok tante baru menemui Rania untuk yang terakhir kalinya"
"Biar Revan antar aja ya" ikut bangkit dari duduknya
"Ga perlu Van, tadi tante ke sini sama supir"
"Ok kalo gitu Revan juga mau balik ke kantor"
"Sekali lagi tante ucapakan terima kasih untuk semua pertolongan kamu selama ini ya, dan maaf tante jadi merepotkan kamu lagi ke depannya" Revan hanya membalas dengan senyuman
Nyonya Widya kembali ke kediamannya dengan perasaan yang tak karuan, di satu sisi dia sangat bahagia karena mengetahui bila buah hatinya masih hidup hingga saat ini. Tetapi di sisi yang lain hatinya di buat remuk karena buah hatinya adalah orang yang pernah dia sakiti dengan tangannya sendiri
Setelah membersihkan dirinya nyonya Widya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya, dia ingin melepaskan penat yang bersarang di benaknya saat ini. Seribu sesal menggelayuti hatinya, ingin sekali rasanya dia berlari saat itu juga ke arah Rania lalu memeluk gadis kecilnya dan memanggil Rania dengan sebutan anakku
Tapi semua hanya tinggal angan belaka karena kenyataannya semua berbeda jauh dengan apa yang dia inginkan, yang ada kini adalah rasa benci Rania terhadap dirinya yang terpancar jelas dari mata Rania. Dengan seribu beban hatinya pada saat itu akhirnya nyonya Widya pun tertidur dengan lelap
Pagi baru saja menyapa nyonya widya segera membersihkan dirinya dan mempersiapkan diri untuk pergi menemui Rania, dia akan melepaskan apapun yang dia punya saat ini jika itu yang Rania inginkan
Nyonya Widya langsung menuju ke kantor Rania, dan yang terjadi Rania menggunakan seribu alasan untuk menolak bertemu dengan dirinya. Sekretaris pribadi Rania mengatakan bahwa Rania saat ini sedang meeting di luar kantor, nyonya Widya pun memutuskan untuk menunggu Rania di kantornya
Waktu terus berjalan detik demi detik pun berlalu dengan sangat cepat tanpa terasa hari sudah mulai menjelang sore, terapi Rania masih saja mengeraskan hati untuk tidak bertemu dengan nyonya Widya. Rania memerintahkan asisten pribadinya untuk menanyakan secara langsung kepada nyonya Widya apakah yang menyebabkan dirinya mencari Rania?
"Selamat sore bu"
"Ya, apa ibu Rania sudah kembali?" bangkit dari duduknya
"Maaf bu sepertinya ibu Rania tidak kembali lagi ke kantor, saya di minta ibu Rania untuk menanyakan kepada ibu. Ibu ada keperluan apa bertemu dengan ibu Rania?"
"Saya hanya berharap bisa bertemu kamu untuk yang terakhir kalinya wahai anakku, tapi saya paham bila kamu enggan untuk bertemu dengan saya. Doa saya akan selalu menyertai kehidupan kamu selamanya sayang"
"Apa saya bisa pinjam kertas dan bolpoin?"
"Baik, tunggu sebentar ya bu" sekretaris pribadi Rania segera ke bagian resepsionis dan meminta yang di inginkan oleh nyonya Widya
"Saya akan tulis pesan saya untuk ibu Rania, terima kasih ya"
"Baik bu, sama-sama"
Tidak butuh waktu yang lama nyonya Widya sudah menyelesaikan segala hal yang ingin dia sampaikan kepada Rania, dan menyerahkan kepada sekretaris pribadinya
"Tolong sampaikan ini kepada ibu Rania, kalo begitu saya permisi dulu" menyerahkan kertas tersebut
"Baik bu"
Nyonya Widya pun membereskan barang-barangnya dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari gedung besar tersebut dengan perasaan yang hancur, karena dia bahkan tak berhasil untuk melihat buah hatinya yang terakhir kalinya
Sekretaris pribadi Rania langsung menuju ke ruang kerja Rania membawa kertas yang di titipkan pada oleh nyonya Widya
Tok..Tok..Tok..
"Masuk"
"Permisi bu saya mau mengantarkan surat yang di titipkan ibu Widya"
"Ok, kamu bisa keluar"
Sekretaris pribadi Rania menundukkan sedikit kepalanya dan keluar dari ruangan Rania
Rania terus menatap kertas yang sudah terlipat rapi di atas meja kerjanya, ada perasaan sedikit penasaran yang bersarang di dalam hatinya tentang apa yang di tuliskan nyonya Widya di dalam surat tersebut. Rania pun akhirnya mengambil kertas tersebut dan mulai membacanya
Sedangkan di luar sana nyonya Widya memerintahkan sang supir untuk pergi terlebih dahulu, sedangkan dia mendudukkan dirinya di sebuah bangku taman dan dia pun memandangi beberapa orang tua yang sedang bermain dengan anak-anak mereka yang masih kecil
"Andai saja waktu bisa di putar kembali, maka saya akan mencari kamu sekuat tenaga saya. Dan saya akan membuat masa kecil kamu sama seperti mereka sayang tapi itu ga mungkin pernah terjadi. Saya benar-benar berharap kamu bisa bahagia di sisi Galang, jangan biarkan anak kalian merasakan keluarga yang tidak utuh"
Nyonya Widya pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Galang
"Ya mah"
"Kamu lagi apa Lang?"
"Masih di kantor mah, kenapa mah?"
"Syukurlah kalo kamu sudah bisa bangkit Lang" ga apa kok Lang, mama cuma mau bilang mama udah ketemu Rania. Dan mungkin cara mama ini akan berhasil"
"Mama ga bohongin Galang kan mah?"
"Dasar kamu ini, memang ada untungnya kalo mama bohongi kamu?"
"Akh... Aku seneng banget mah"
"Mama telpon kamu cuma mau bilang, mama kayaknya untuk sementara ini mau istirahat menenangkan diri dulu sayang"
"Maksud mama?" khawatir
"Ya mama mau berlibur lah cari tempat yang tenang, gimana juga mama udah stress belakangan ini karena kamu"
"Maafin Galang ya mah"
"Nanti kalo kamu ga bisa hubungi mama ga usah khawatir ya, mama mau cari perkampungan kecil dulu untuk istirahat"
"Mama baik-baik aja kan?" khawatir
"Mama kenapa? semua baik-baik aja kok lang. Jadi mama minta tolong sama kamu, kalo kamu sudah kembali lagi dengan Rania. Tolong janji untuk jaga dia"
"Apa cuma perasaan aku aja? kata-kata mama dari kemarin kedengarannya selalu aneh" Galang janji mah" mereka pun memutuskan sambungan teleponnya
"Maafin mama ya Lang, mungkin ini terakhir kalinya mama hubungi kamu. Mama mohon tolong jaga putri kecil mama"
Mampir ke karya terbaru aku ya kak🤗