
Entah mengapa saat itu ada sedikit perasaan lega di dalam hati Rania karena dia tak perlu lagi merasa bersalah tetap berada di samping Adrian dengan tidak mencintainya setulus hati, tetapi tetap ada perasaan sakit yang amat karena sebuah pengkhianatan yang ada di depan matanya
Sang supir terus melajukan mobil tersebut ke arah bandara, mang Jajang sesekali melirik ke arah belakang melalui kaca spion. Dengan sangat jelas dia dapat melihat sesekali Rania menghapus air mata yang terjatuh ke pipinya
" Sabar ya sayang, mungkin papa ga bahagia sama kita. Kita ga bisa paksa dia, tapi mama janji mama akan selalu jaga kamu dengan baik " Rania mengelus perutnya yang sudah membesar
Lain hal di dalam kamarnya Adrian terduduk lemas di atas sofa, karena setengah kekuatannya ikut menghilang dengan kepergian Rania dari sisinya, dia mulai mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya
Tut..Tut..Tut..
" Ya "
" Rania udah pergi bang, dia ke arah bandara. Mungkin dia akan kembali ke sana lagi bang " lirih
" Kenapa ? " terkejut
" Tadi dia liat gw lagi ketemu sama Mei bang "
" Terus lo ga jelasin ke dia ? "
" Gw minta lo jangan bilang apapun ke dia bang, biar dia temuin kebahagiaan dia bang "
" Lo ga bisa egois gitu dong, dia juga berhak tau "
" Gw ga mau kejadian mama dulu ke ulang lagi bang, jadi gw mohon tolong jaga dia bang sampe dia bisa temuin orang lain pengganti gw "
" Tapi apa lo ga bayangin perasaan dia saat ini ? dia lagi hamil dan yang paling parah pasti dia pikir lo selingkuh "
" Itu lebih baik bang, dari pada dia harus tangisin kepergian gw untuk selamanya " lirih
" Tapi kan belum tentu kejadian om ke ulang lagi, apa lo ga mau coba untuk kemoterapi ? "
" Gw ga bisa bang, gw ga mau yang papa alami dulu gw juga harus alami. Gw udah pasrah bang, gw cuma mau nikmati sisa hidup gw "
" Lo yang sabar ya " bergetar menahan tangis
" Gw cuma mohon sama lo bang, bantu jaga dia dan anaknya sebagai pengganti gw " lirih
" Gw janji akan jaga dia dan anaknya dengan baik "
" Tolong ya bang jangan sampe Nia tau bang, cuma lo dan gw yang tau "
" Gw ngerti, gw akan bilang ke dia saat waktunya udah tepat "
" Gw percaya sama lo bang, makasih " Adrian langsung memutuskan sambungan teleponnya
Jauh di sana tanpa terasa mata Revan sudah berkaca-kaca setelah mendapatkan telpon dari Adrian
" Gw ga sangka penyakit om akan turun ke lo, lo terlalu sibuk dengan semua urusan Rania sampe lupa semua tentang diri lo sendiri "
" Gw janji akan jaga dia dan anaknya dengan baik, bagaimanapun juga mereka udah buat lo bahagia di hari-hari terakhir lo "
Ternyata Adrian sudah di vonis menderita penyakit leukemia akut sama seperti papanya, saat dahulu kala papanya mencoba menjalankan kemoterapi. Adrian masih ingat dengan jelas bagaimana papanya menderita saat menjalankan kemoterapi, dan ternyata tetap berakhir sia-sia. Sedangkan tak ada yang cocok untuk melakukan proses pencangkokan sumsum tulang belakang
Selepas kepergian papanya untuk selamanya, mamanya menjadi depresi dan tak berselang lama meninggal dunia karena suatu kecelakaan yang di sengaja untuk mengakhiri hidupnya. Membuat Adrian hanya tersisa sendiri untuk melanjutkan perjalanan hidupnya tanpa kedua orang tuanya
Di saat terpuruk itulah dia bertemu dengan sosok Rania kecil yang menemani dirinya duduk di tepi danau, dan Rania memberikan dirinya sebuah permen yang dia punya
Itulah alasan utama yang menyebabkan Adrian ikhlas melepas Rania dari sisinya, dia tak ingin Rania melakukan hal yang sama seperti mamanya. Dan akan membuat anak dalam kandungan Rania menjadi menderita, walaupun anak itu bukan darah dagingnya tetapi anak itu sudah di anggap sebagai anaknya sendiri
Lain hal Rania yang sedang duduk di ruang tunggu menunggu pesawat yang akan mengantarkan dirinya kembali ke kota asalnya, tanpa Rania sadari ada seorang gadis muda yang sudah duduk di sampingnya dan terus memperhatikan dirinya
Rania sudah tak lagi meneteskan air matanya, dia menguatkan hatinya untuk tetap bertahan demi buah hati yang sedang tumbuh di dalam rahimnya
" Mbak mau ke mana ? "
" Ke kota X "
" Delapan bulan mbak "
" Wah sebentar lagi ya, Santi " menyodorkan tangannya
" Rania " menyambut tangan Santi sambil tersenyum
" Saya sama kakak saya baru ke kota itu mbak, semoga kita bisa jadi teman ya "
Rania hanya membalas senyuman
Tak selang berapa lama datang lah seorang pemuda menghampiri mereka berdua, dan terdengar suara pengumuman bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi sudah siap. Tanpa menunggu perintah pria tersebut langsung mengambil tas adiknya dan tas Rania
" Ga usah kak biar saya aja sendiri yang bawa "
" Ga apa mbak, itu kakak saya. Masa mbak lagi hamil bawa berat-berat "
" Tapi nanti jadi merepotkan " ucap Rania dengan memasang wajah tak enak hati
" Ga lah mbak, ayo mbak " Santi menggenggam tangan Rania
" Aneh banget sih dua orang ini, katanya kakak adik tapi kok ga mirip ya muka dan kelakuannya. Si kakak dingin banget "
Tanpa ambil pusing Rania mulai melangkahkan kakinya mensejajarkan diri dengan Santi, dan begitu masuk ke dalam pesawat ternyata Rania duduk bersebelahan dengan Santi
Sepanjang perjalanan Rania dan Santi terus bercerita hal-hal menarik yang membuat Rania benar-benar melupakan semua hal yang sudah dia lalui, Santi adalah sosok yang sangat supel membuat jarak antara mereka langsung menghilang dalam sekejap
Sedangkan sang pria hanya terdiam dan tertidur selama di dalam pesawat, setelah melalui perjalanan yang cukup lama mereka tiba di kota tujuan mereka
" Hai kota sejuta kenangan, aku kembali lagi ke sini. Semoga saja di kemudian hari akan ada kebahagiaan buat aku di kota ini "
Pria tersebut langsung membawa semua barang-barang mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan koper-koper Rania pun sudah di bawakan semua
" Mbak mau ke mana ? "
" Sementara saya mau cari penginapan aja dulu, sampe nanti saya dapat rumah kontrakan "
" Apa mbak mau tinggal di tempat kami ? "
" Akh.. Maaf ga usah " wajah Rania mulai terlihat sedikit terkejut, dan Santi pun mengerti
" Ya udah kalo gitu biar kita cari taksi, kita antar dulu mbak duluan aja " tersenyum ramah
" Aneh banget sih orang ini, masa baru kenal udah bisa sebaik ini ? "
" Mbak ga usah takut, saya bukan orang jahat. Saya cuma ga kenal siapapun di sini, jadi mbak teman pertama saya di kota ini "
Mendengar ucapan tersebut membuat Rania sedikit tak enak hati, seperti Santi dapat mendengar suara hatinya. Akhirnya Santi dan kakaknya mengantarkan Rania pergi mencari penginapan, setelah mengangkat semua barang Rania ke dalam kamar mereka meninggalkan Rania sendiri di sana. Dan mulai menghubungi seseorang
Tut.. Tut.. Tut..
" Ya "
" Kita udah antar ke penginapan bos "
" Terus awasi dan jaga dia dengan baik "
" Baik bos " dan orang di seberang sana langsung memutuskan sambungan teleponnya
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Mampir yuk ke karya aku Zahra Anak Yang Tak Berdosa S2 ðŸ¤