
Galang hanya terus terdiam sambil menatap ke arah Rania dengan mata yang terus menahan air matanya agar tak terjatuh, Rania pun mencoba menguatkan hati agar tak goyah dengan apa yang telah menjadi pilihan hatinya
"Aku minta maaf kak, aku minta maaf untuk semua pengorbanan kak Galang selama ini. Tapi mulai sekarang tolong jangan pernah hubungi dan cari aku lagi"
"Apa ini benar-benar yang kamu mau?"
"Iya kak, ini adalah pilihan terbaik untuk kita berdua"
"Apa kamu masih marah sama semua perbuatan aku di masa lalu? dan dengan cara ini kamu mau balas perbuatan aku?"
"Ga kak, ini ga ada hubungannya dengan semua masa lalu kita. Tapi keputusan aku sudah bulat, aku ga bisa berada di dekat kak Galang" dengan yakin
Rania mulai bangkit dari duduknya
"Aku balik dulu ya kak"
Dengan cepat Galang memegang tangan Rania
"Apa kamu tau? kalo kamu benar-benar jahat" lirih
"Lebih baik kak Galang pikir aku sebagai perempuan jahat, ini akan membuat kita saling menjauh dengan sendirinya. Dari pada aku harus bertemu dengan dia saat aku berada di samping kak Galang"
"Kalo gitu aku pulang dulu kak"
Secara perlahan Galang mulai melepaskan tangannya, Rania pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke mobil Revan yang masih menunggu dirinya
Rania segera masuk ke dalam mobil dan Revan yang melihat ekspresi wajah Rania hanya bisa terdiam seribu bahasa, Revan dapat melihat bila Rania pun merasakan sakit dengan keputusan yang telah dia ambil. Tetapi Revan tak ingin memaksa Rania menceritakan semuanya saat itu
Air mata yang sedari tadi Rania tahan akhirnya terjatuh juga dari pelupuk matanya, Revan hanya melihat sekilas saat Rania menyeka air matanya
"Sebenernya ada apa lagi sekarang? aku bisa liat Rania juga sakit menahan ini. Tapi apa yang membuat dia mengambil keputusan ini? sebaiknya aku cari tau semuanya"
Setelah kembali ke dalam kamarnya Rania mengunci pintu kamar dan meluapkan segala kesedihannya seorang diri
"Kenapa harus dia? apa aku memang di takdirkan untuk ga akan pernah bisa bersama?"
Rania segera mengirimkan pesan kepada sekretaris pribadinya untuk menyiapkan penerbangan mereka setelah acara malam ini, Rania hanya ingin segera meninggalkan kota sejuta kenangan itu
Di tempat lain ternyata Galang sedang meneguk segelas minuman keras untuk melenyapkan segala beban di hatinya, tak selang berapa lama Revan sudah duduk tepat di sampingnya
"Woi.. Udah lo udah mulai mabuk" menarik gelas Galang
"Balikin Van"
"Kenapa lo kayak anak kecil gini? kalo ada masalah cari tau masalahnya bukan lari dari masalah gini"
"Masalah apa? masalahnya cuma satu Van dia ga mau bersama gw" tersenyum getir
"Ya cari tau lah alasannya?"
"Ga perlu Van, mungkin memang ini cara dia balas semua perlakuan gw di masa lalu" kembali mengambil gelasnya dari tangan Revan
"Ga.. Gw yakin masalahnya bukan cuma itu, gw yakin ada masalah lain yang membuat Rania berubah"
"Terus lo mau nyerah gitu aja?"
"Kalo itu keinginan dia, dan bisa membuat dia bahagia maka gw akan lakuin itu"
"Susah ngomong sama orang mabuk, udah besok aja kita bahas semuanya. Ayo udah malam gw antar lo pulang sekarang"
"Ga perlu Van gw bawa mobil"
"Nanti gw suruh supir antar mobil lo, ayo sekarang gw antar lo"
Revan berusaha menarik tubuh Galang, dengan tubuh yang gontai Galang ikut keluar dari tempat itu
"Gw pulang sendiri aja Van" melambaikan tangannya
"Akh.. Jangan rese lo..!!"
"Van gw tau lo sahabat terbaik gw, lo pasti mau gw bahagia kan? jadi sini kunci mobil gw biar gw pulang sendiri. Gw butuh waktu sendiri"
"Gw itu Galang, gw itu laki-laki kuat"
"Kuat dari Hongkong, lah lo selalu galau di buat satu perempuan doang"
"Yakin lo? ya udah kalo lo udah sampe hubungi gw ya"
"Ok.."
Galang pun kembali ke apartemennya di sana dia melanjutkan meminum minuman keras, yang ada di pikirannya saat ini dia benar-benar ingin tak sadarkan diri dan melupakan semuanya. Revan pun dapat bernafas lega setelah mengetahui Galang sudah tiba di apartemennya dengan selamat
Waktu pun terus berlalu sudah berjalan tiga hari dari kepergian Rania kembali ke kota di mana dia tinggal saat ini, sedangkan Galang sudah tiga hari ini melarutkan dirinya dengan minuman keras. Galang mengabaikan segala pekerjaan yang menanti dirinya, dia tak memiliki kekuatan untuk menghadapi hidup lagi
Mama Widya yang mendengar Galang sudah tiga hari tidak datang ke kantor pun mulai cemas dan mendatangi apartemen Galang, mama Widya cukup lama membunyikan bel di pintu apartemen Galang. Hingga akhirnya Galang membukakan pintu dengan tampilan yang acak-acakan dan semerbak bau alkohol menyelimuti apartemen Galang
"Kamu apa-apaan sih Lang?"
Galang hanya terdiam dan masuk meninggalkan mamanya yang masih di depan pintu
Mamanya Galang mulai masuk ke dalam apartemen Galang, matanya terbelalak melihat keadaan apartemen Galang yang berantakan. Dan botol minuman keras berserakan dimana-mana, Galang pergi ke dapur dan minum segelas air putih untuk mengembalikan sedikit kesadarannya
Kini Galang dan mamanya sudah duduk berhadapan di ruang tamu, tatapan tajam di lepaskan oleh mamanya sedangkan Galang hanya santai seperti tak melakukan kesalahan apapun
"Kamu kenapa Galang Baskoro?" dengan sinis
"Aku ga apa mah" mengusap wajahnya
"Terus apa-apaan ini semua?" menunjuk botol yang berserakan
Galang hanya menoleh ke arah botol dengan malas
"Kenapa kamu ga pergi ke kantor?"
"Aku lagi malas mah" dengan santai
"Apa kamu mau menghancurkan perusahaan peninggalan papa kamu..?!!" Sedikit menaikkan nada suaranya
"Kalo mama mau ambil alih aja" acuh
"Galang..!!" Bangkit dari duduknya
Galang masih terlihat acuh tak acuh
"Ya Tuhan sebenarnya apa yang terjadi sama kamu nak? apa yang membuat kamu jadi begin?" kembali mendudukkan dirinya
"Sebenernya kamu kenapa? jangan begini Lang, jangan bikin mama sedih" lirih
"Maaf mah, tapi Galang benar-benar ga kuat. Sakit mah"
Sang mama mendekati Galang dan memeluk tubuh anaknya
"Cerita ke mama Lang, mama akan bantu sebisa mama"
"Dia ga mau di samping aku mah, aku tau aku banyak sakiti hati dia aku juga ga ingat apapun di masa lalu kami. Tapi aku janji aku akan berubah jadi apapun yang dia mau mah, tapi dia tetap ga mau kasih aku kesempatan mah"
"Mama belum pernah liat terpuruk hingga sedalam ini selain sama dia sayang. Mama akan berusaha menyatukan kalian berdua, walaupun mama harus berlutut di hadapan dia"
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak "Zahra Anak Yang Tak Berdosa"
Ceritanya sudah TAMAT kakðŸ¤
Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉