
"Kita harus merayakan kehamilan kamu 'Ndah, Feri pasti seneng banget karena dia akan dapat keponakan," ucap, Rendi pada, Indah.
"Ih lebay deh. Masa harus dirayakan segala."
"Gak apa-apa, sayang. Dari pertama kita nikah sampai kamu hamil itu perjuangan banget loh, 'Ndah."
Indah tersenyum lalu mencolek perut sang suami sambil berkata, "masa?"
"Iya, kamunya aja yang gak pernah merasa diperjuangkan sama aku."
"Kamu mau terus bicara atau mau berangkat ke kantor sekarang juga?"
Rendi nyengir setelah melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit.
"Aku ke kantor dulu deh, mau ngumpulin dana untuk masa depan kita."
Rendi mencium kening, Indah lalu, Indah mencium punggung tangan sang suami.
"Hati-hati ya," ucap, Indah.
"Iya, sayang."
*******
Di kantor.
Rendi memasuki ruang kerjanya, Feri! Seperti biasa dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Fer, ada kabar baik buat lo," ucap, Rendi.
Feri menatap, Rendi yang sedang berjalan menghampirinya!
"Kabar baik apa?" tanyanya penasaran.
"Indah, hamil."
"Apa?" Feri bangkit dari duduknya dan mendekati, Rendi!
"Serius lo?" ucap, Feri lagi.
"Ya serius lah. Sebentar lagi gue punya anak dong." Rendi berucap dengan raut wajah bahagia.
"Wah, selamat ya. Aku seneng sebentar lagi aku akan punya keponakan."
"Fer, gue butuh bantuan lo."
"Bantuan apa?"
"Gue mau merayakan kehamilan, Indah tepat di hari ulang tahunnya, Papa."
"Apa yang harus gue lakukan?"
"Bawa, Mamamu pulang. Gue mau menghadiahkan, Mama Tari untuk, Papa."
"Yakin lo? Yang gue lihat, Mama masih sayang sama, Papa tapi kan Papa ...."
"Papa juga masih sayang sama, Mama Tari. Gue tahu, Papa masih cinta banget sama Mama. Gue mau keluarga kita utuh dengan adanya, Papa, Mama, aku, kamu, Indah dan keluarga baru yang sedang dikandung, Indah."
"Ren, maaf ya selama ini gue udah salah menilai lo."
"Harusnya gue yang minta maaf. Mulai sekarang ayo kita perbaiki lagi hubungan kita yang sempat tersekat oleh jarak."
"Deal." Feri mengulurkan tangannya pada Rendi.
"Sekarang lo beneran adik gue ya," ucap, Rendi sembari menjabat tangan, Feri.
*******
Beberapa hari kemudian.
Semua orang sudah kumpul di rumah, Firman untuk merayakan kehamilan, Indah dan juga hari ulang tahunnya, Firman.
Firman sudah meniup lilin dan beberapa tamu undangan pun sudah mulai meninggalkan rumah itu karena acara sudah selesai.
Meski semua tamu sudah pergi meninggalkan rumah itu tapi acara utamanya belum dimulai. Rendi sedang menunggu kedatangan, Feri dengan perasaan harap-harap cemas.
"Feri kok gak datang? Acaranya udah selesai loh," ucap, Firman.
"Mungkin dia terjebak macet, Pa," ucap, Rendi.
"Iya, sepertinya Aa Feri terjebak macet deh," sambung, Indah.
Tak lama setelah mereka membicarakan tentang, Feri. Feri dan Tari tiba di rumah mewah itu.
"Selamat siang semuanya. Maaf aku terlambat datang," ucap, Feri.
Feri masuk ke rumah itu sendirian sedangkan, Tari dia tinggal di dalam mobilnya dengan mata yang ditutup oleh kain.
"Akhirnya kamu datang juga tapi sayang acaranya sudah selesai," ucap, Sari.
"Feri, sini masuk. Kamu gak mau ngucapin selamat sama, Papa?" ucap, Firman.
Feri tersenyum lalu menghampiri, Firman!
"Selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan selalu bahagia," ucap, Feri.
Feri memeluk Firman untuk yang pertama kalinya lalu, Feri memeluk Rendi juga.
"Kita jalankan rencana kita sekarang. Mama ada didalam mobil gue," bisik, Feri ditelinga Rendi saat dia memeluk, Rendi.
Rendi tersenyum lalu mengambil kain yang sudah dia siapkan diri dalam saku celananya.
"Feri bawa hadiah istimewa untuk, Papa. Sekarang, Papa tutup mata dulu ya," ucap Rendi.
Rendi menutup mata, Firman dengan kain itu dan setelah selesai dia memberikan kode kepada, Feri agar, Feri membawa, Mamanya masuk ke dalam rumah.
"Tunggu sebentar ya, Pa. Aku akan bawakan hadiahnya ke sini," ucap, Feri.
Feri berlari kecil untuk sampai ke mobilnya!
"Ma, maaf ya sudah membuat, Mama menunggu," ucap Feri.
"Feri, ini dimana? Mama udah boleh membuka penutup mata ini belum?" tanya, Tari.
"Sebentar lagi, Ma. Ayo kita turun dari mobil."
Feri menuntun, Tari berjalan memasuki rumah itu dan setelah berada di dalam rumah. Indah dan Sari menatap, Feri dengan tatapan aneh.
Rendi menempelkan jari telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan agar, Indah dan Sari tidak bertanya dulu.
Rendi membawa, Firman untuk lebih mendekat dengan, Tari dan memposisikan mereka dengan posisi berhadapan.
"Siap ya, aku buka penutup matanya ya," ucap, Feri.
Feri dan Rendi mulai membuka tutup mata yang menutupi mata, Tari dan Firman secara bersamaan.
Rendi membukakan penutup mata, Tari dan Feri membuka penutup mata, Firman.
Tari dan Firman saling bertatapan, mereka tak menyangka akan dipertemukan dengan cara seperti ini oleh anak-anaknya.
"Selamat ulang tahun, Papa," ucap Rendi dan Feri secara bersamaan.
"Jadi kado untuk, Papa?"
"Ini kado spesial untuk, Papa," ucap, Rendi sembari merangkul, Tari.
"Rendi," gumam, Tari.
"Aku mau, Papa sama Mama hidup bersama lagi seperti dulu, hidup bersama di rumah ini bersama aku dan juga keluargaku," ucap, Rendi.
"Tapi, Nak itu tidak mungkin," ucap, Tari.
"Kenapa tidak, Ma? Mama bilang, dia adalah Papaku kan? Kenapa tidak menjadi suami Mama lagi?" ucap, Feri.
Tari meneteskan air mata, impian untuk hidup bersama dengan suami yang dia cintai kini bisa terwujud. Dia bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.
Indah dan Sari yang menyaksikan kejadian mengharukan itu, ikut menangis, mereka ikut merasakan bahagia seperti yang kini dirasakan oleh Firman dan Tari.
Bersambung