Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor Bab 13


Disebuah tempat yang terlihat seperti taman namun tidak banyak dikunjungi banyak orang, Salma berjalan sembari terus mengedarkan pandangannya.


Salma terus berjalan lurus ke depan hingga tiba di bawah sebuah pohon besar dia baru menghentikan langkahnya.


Dia duduk di atas batang pohon yang menjalar di tempat itu.


"Mana dia, kenapa lama sekali?" gumam Salma sembari terus mengedarkan pandangannya ke semua arah.


Tak lama seorang perempuan datang dan menghampiri, Salma!


"Salma, kamu sudah lama menunggu?" tanya wanita itu.


"Tidak terlalu lama tapi aku tidak bisa berlama-lama karena aku meninggalkan anak-anak," ucap Salma.


"Ada apa kamu mengajak aku bertemu? Kenapa tidak dibicarakan lewat telpon saja."


"Tari, ada baiknya kamu cepat temui Feri. Kasihan dia, tadi dua datang dan menanyakan tentang dirimu lagi."


"Tidak bisa, Salma sekarang belum waktunya."


"Dari dulu kamu selalu berkata seperti itu, lalu kapan waktunya? Aku tidak tega melihat, Feri seperti itu, dia pasti sangat merindukan belaian kasih sayang Ibunya."


Tari. Ya Tari adalah Ibunya, Feri yang menitipkan bayi yang tak berdosa itu di panti asuhan yang kebetulan pengurusnya adalah, Salma ~ temannya sendiri.


Dua puluh lima tahun yang lalu, Tari menitipkan Feri kepada, Salma dan meminta, Salma untuk tidak memberitahukan tentang dirinya kepada Feri.


Bukan karena dia tak sayang kepada putranya itu, tapi karena ada suatu alasan yang membuat, Tari harus melakukan itu.


Salma yang tahu permasalahan dalam hidup, Tari menyetujui permintaan, Tari yang memintanya untuk tidak memberitahukan tentang dirinya kepada Feri atau siapa pun yang bertanya tentang siapa Ibunya Feri.


Sampai saat ini, Salma masih mengunci mulutnya dan menyembunyikan semua yang dia ketahui tentang, Tari.


Meski sebenarnya, Salma merasa tidak tega melihat, Feri yang terus berusaha mencari Ibunya ke sana kemari.


"Tari, kamu yakin akan terus seperti ini? Jangan sampai kamu menyesal nantinya."


Tari meneteskan air matanya, sebenarnya dia juga sangat ingin bertemu dengan putranya dan memeluknya dengan pelukan kasih sayang.


"Kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku juga sangat merindukan, Feri. Aku ingin sekali memeluknya tapi aku tidak bisa melakukan itu."


Tari terus mengeluarkan air matanya, dia tidak bisa menahan tangisnya yang selama ini dia sembunyikan.


Salma menatap, Tari dengan tatapan sendu, dirinya ikut merasakan sesak seperti yang dialami oleh, Tari.


Diusap nya punggung, Tari dengan lembut, Salma berusaha menenangkan sahabatnya yang sedang menumpahkan air matanya.


*******


Di kantor.


"Gimana, Fer? Dapat informasi tentang Ibumu?" tanya Firman.


"Belum, Om. Ibu Salma masih menjawab pertanyaan aku dengan kata yang sama, kata yang dia ucapkan setiap kali aku bertanya padanya," sahut Feri.


"Salma?" Firman menatap Feri dengan tatapan penuh tanya.


"Iya, Om. Salma adalah nama, Ibu yang mengasuh aku dari kecil hingga akhirnya aku diadopsi oleh Ayah Ridwan."


Firman terdiam, dia mengingat-ingat masa lalunya, sepertinya dirinya tidak asing dengan nama itu.


"Om, Om! Ada apa?" tanya Feri karena Firman malah bengong.


Firman terperanjat dan tersadar dari lamunannya.


"Eh, tidak kenapa-kenapa, Fer. Kamu sabar ya, nanti, Om bantu kamu untuk mencari Ibumu."


*******


Di kampung.


"Aaaah! Sial. Sama siapa sih anak itu tinggal, sampai ada bodyguard segala di rumahnya?" ucap Vina.


"Ada apa sih, Bu teriak-teriak?" ucap Vira.


"Orang kita belum bisa membawa, Indah pulang karena dia dijaga oleh bodyguard," jelas Vina.


"Udah sih, Bu kembalikan saja uang, Pak Rudy yang dua ratus juta itu. Kan masalahnya jadi beres."


"Sekarang gak segampang itu, Vira. Sekarang mereka meminta dua kali lipat kalau kita tidak bisa memberikan, Indah."


"Apa! Kenapa bisa begitu, Bu harusnya, Ibu menolak keinginan mereka."


"Ibu sudah menolak tapi, Pak Rudy malah mengancam, Ibu."


"Duuh, kenapa jadi ribet begini sih urusannya?"


"Sudahlah, Vira kamu pergi sana, Ibu pusing. Ibu butuh waktu untuk sendiri."


Vira tak berucap lagi, dia segera meninggalkan, Ibunya sebelum Ibunya itu ngamuk-ngamuk!


Vina melempar gelas yang berada di atas meja didekatnya!


Saat sedang kesal, Vina menang selalu membanting barang apa saja yang ada didekatnya, makanya dia segera menyuruh Vira pergi karena takut jika dirinya kalap, secara tidak sengaja dia akan melukai Vira.


Biasanya saat ada, Indah di rumahnya, Vina melampiaskan kekesalannya kepada, Indah dengan menjambak, menampar bahkan tak segan akan memukul, Indah sampai, Indah terluka.


*******


Di sawah, Kang Asep.


Asep sedang beristirahat setelah setengah hari bekerja, dia duduk di pinggir sawahnya yang terdapat pohon besar sehingga dirinya bisa berteduh di bawah pohon itu.


"Kang Asep, sudah selesai nyangkul nya?" tanya salah satu warga yang kebetulan lewat di sawah milik, Asep.


Asep menoleh ke arah suara!


"Eh Akang, belum Kang sedikit lagi baru selesai," sahut Asep.


Laki-laki itu duduk di sebelah Asep dan numpang minum pada Asep karena air minumnya sudah habis.


"Mau pulang, Kang?" tanya Asep.


"Iya, Kang. Oh iya, Kang udah lama saya tidak melihat, Indah lewat ke kali. Dia sehat kan?" tanya laki-laki itu.


Rumah laki-laki itu memang berada tepat di depan jalan menuju kali tempat biasa, Indah mencuci pakaian.


Setiap hari, Indah pasti lewat ke halaman rumahnya namun sudah lama dirinya tidak pernah melihat, Indah lagi


"Saya tidak tahu, Kang," sahut Asep.


"Kenapa tidak tahu? Akang kan biasanya yang dekat dengan, Indah. Istri saya khawatir sama, Indah katanya takutnya, Indah sedang sakit. Istri saya sudah mencoba datang ke rumah, Bu Vina namun malah mendapatkan perlakuan tidak baik dari, Bu Vina," jelas tetangganya Vina itu.


"Sekarang saya tidak tahu tentang, Indah, Kang karena sekarang saya sendiri tidak tahu dia teh aya di mana."


"Memang dia kemana, Kang?"


"Saya tidak tahu, yang saya tahu, Indah kabur."


"Mungkin anak itu tidak tahan dengan sikap, Bu Vina dan Vira kepadanya."


"Saya harap, Indah selamat meski dimana pun dia berada," ucap Asep.


"Iya, Kang kasihan dia. Semoga dia selalu sehat ya."


"Saya berharap semoga dia selalu bahagia dimana pun dia berada dan semoga dia tidak pernah kembali lagi ke rumah yang tiba-tiba menjadi neraka baginya. Saya tidak tega saat mendengar suara jeritan dia saat, Bu Vina menyiksanya. Saya pernah ingin menolong, Indah tapi saya tidak bisa apa-apa karena, Bu Vina tidak membiarkan saya masuk ke dalam rumahnya," jelas Asep.


Beberapa warga yang tahu bahwa, Indah sering diperlakukan tidak baik oleh, Ibu dan kakak tirinya merasa kasihan kepada, Indah apalagi, Indah terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Saat Ayahnya masih hidup, Indah sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan rumah karena semuanya sudah dikerjakan oleh asisten rumah tangga mereka :tapi setelah, Ayahnya meninggal mendadak, Vina memecat semua asisten rumah tangganya dan menjadikan, Indah sebagai penggantinya


Bersambung