Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 59


Rendi dan Feri sudah berhasil melumpuhkan kelima preman itu. Setelah mendapatkan informasi yang mereka cari, Feri dan Rendi melepaskan mereka dengan merampas kartu Identitas milik mereka semua.


"Ini akan jadi jaminan hidup kalian," ucap, Rendi sembari memperlihatkan kartu tanda penduduk milik orang-orang suruhannya, Vina itu.


"Jika kalian menuruti permintaan gue, kalian akan aman tapi jika kalian tidak menuruti perkataan gue, kalian akan selesai dipenjara. Katakan pada, Vina kalau, Ibu Sari masih hidup dan jika dia menyuruh kalian untuk menculik, Ibu Sari lagi kalian hubungi gue di nomor ini." Feri memberikan kartu namanya pada, Basri.


"Fer, lo gak salah?" ucap, Rendi.


"Gue yakin dengan ini, Ren," sahut, Feri.


Basri menerima kartu nama itu lalu menganggukkan kepalanya.


"Kita akan turuti perkataan, Anda asal kita tidak dilaporkan pada polisi," ucap, Sukri.


"Jangan coba-coba membohongi gue atau kalian semua akan menyesal."


"Tidak, kita gak bakalan membohongi, Anda," ucap, Deni.


"Pergilah dan katakan, Ibu Sari masih hidup pada wanita iblis itu."


Lima preman itu pun langsung pergi meninggalkan, Feri dan Rendi dengan sedikit berlari!


"Fer, apa rencana lo? Kenapa lo membahayakan, Ibu?" tanya, Rendi setelah para preman itu pergi dari tempat itu.


"Kita gak bisa menjadikan pengakuan mereka sebagai bukti kuat. Ini satu-satunya cara untuk kita bisa mendapatkan bukti yang kuat untuk kita menjebloskan, Vina ke penjara. Dia harus menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya pada, Ibu Sari."


"Gue gak yakin ini akan berhasil. Lo mempertaruhkan keselamatan, Ibu."


"Selama lo ada dan mau membantu gue, gak ada sesuatu apapun yang tidak berhasil. Bukankah selama ini kita selalu berhasil mendapatkan tujuan kita dengan bersama-sama?"


"Lo benar, Fer. Sekarang apa lagi?"


"Bawa, Ibu Sari ke rumah, Om Firman dulu sebelumnya rencana kita berhasil."


"Oke, kalau gitu sekarang gue jemput, Ibu dulu."


Saat, Rendi akan melangkahkan kakinya menuju tempat mobilnya terparkir, tiba-tiba dia terjatuh.


"Rendi!" Feri segera menghampiri, Rendi yang terduduk di aspal.


"Lo kenapa?" tanya, Feri.


Rendi meringis sembari memegangi perutnya!


Feri melihat perut, Rendi dan ternyata, Rendi mendapat luka tusuk di samping kiri perutnya.


Dari tadi, Rendi menahan rasa sakitnya dan terus mencoba menyembunyikan luka itu dari, Feri tapi ternyata dia tak kuat dan akhirnya, Feri tahu juga dengan lukanya.


"Lo terluka," ucap, Feri.


"Ini gak apa-apa kok. Cuma tergores sedikit."


"Dasar bodoh, kalau lo kehabisan darah gimana? Lo bisa mati, gimana dengan adik gue nanti, siapa yang akan menjaganya?"


Feri membantu, Rendi untuk berdirinya lalu membawanya ke dalam mobilnya! "Kita ke rumah sakit dulu setelah itu baru jemput, Ibu Sari."


Feri melajukan mobilnya perlahan!


"Fer, serius gue gak apa-apa," ucap, Rendi.


Lukanya memang tidak besar dan tidak parah tapi sekecil apapun lukanya tetap saja butuh diobati.


"Diam lo. Kalau lo kenapa-kenapa nanti gue yang repot."


Karena jarak dari rumah, Sari dengan rumah sakit tidaklah terlalu jauh, tak sampai sepuluh menit, Feri sudah tiba di rumah sakit itu.


"Dokter tolong!" seru, Feri.


"Astaga, kenapa ini?" Dokter itu terkejut saat melihat ada banyak darah di baju yang dikenakan oleh, Rendi.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk dia, dokter," ucap, Feri.


Dokter itu menganggukkan kepalanya. "Silahkan, Anda tunggu di luar," ucap dokter itu.


*******


"Kenapa, Rendi lama sekali ya?" gumam, Sari.


"Dia akan baik-baik saja. Anda tidak usah khawatir," ucap salah satu bodyguard itu.


"Itu hanya perasaan, Anda saja."


*******


Di kediaman, Firman.


"Indah, Papa mau cari, Rendi dulu. Papa khawatir karena ponselnya tidak bisa dihubungi," ucap, Firman pada, Indah.


"Aku ikut, Pa," ucap, Indah.


"Jangan, kamu di rumah saja ya. Mungkin saja, Rendi sebentar lagi pulang dan kalau dia pulang sebelum, Papa tiba di rumah tolong kamu kabari, Papa ya biar nanti, Papa langsung pulang."


"Iya, Pa. Papa hati-hati ya." Indah tahu yang dikatakan oleh, Firman itu benar jadi dia tidak melakukan protes pada Ayah mertuanya itu.


Firman masih kunci mobilnya lalu segera berjalan cepat menuju garasi mobilnya!


*******


Tak butuh waktu lama luka, Rendi sudah selesai diobati oleh dokter. Karena lukanya tidak terlalu parah, tak sampai membuat, Rendi diharuskan dirawat di rumah sakit itu. Rendi diperbolehkan pulang saat itu juga oleh dokter.


"Terimakasih ya dokter," ucap, Feri.


"Terimakasih kembali. Jangan lupa terus obati dan ganti perban nya secara teratur ya," ucap dokter itu.


"Iya, pasti dokter."


Feri membantu, Rendi berjalan sampai ketempat mobilnya diperkirakan.


"Makasih ya, Fer."


Feri menatap, Rendi. "Terimakasih untuk apa?"


"Untuk semuanya. Karena lo gue bisa selamat seperti sekarang ini."


"Diamlah, gue melakukan ini karena gue sayang sama, Indah. Kalau lo kenapa-kenapa, Indah bisa sedih nanti."


Rendi tak berita lagi, dia menatap, Feri dengan senyum tipis di bibitnya.


"Jangan liatin gue kayak gitu. Sekarang kita jemput, Ibu Sari, dimana lo tinggalin dia?"


"Jalankan saja mobilnya nanti gue kasih arah jalannya."


Feri pun tak berucap lagi, dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang!


*******


"Aku harus cari mereka ke mana?" gumam, Firman sembari terus menyetir.


Firman terus mengedarkan pandangannya ke samping kiri dan kanan berharap dia bisa menemukan salah satu dari putranya yang kini sedang sama-sama tidak bisa dihubungi.


"Papa harap kalian tidak melakukan sesuatu yang bisa membahayakan kalian berduka," gumam, Firman lagi.


*******


Di kediaman, Feri.


Tari semakin merasakan kekhawatiran yang besar kepada, Feri. Saat itu dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan putranya di manalu dia berada, tak ada yang bisa dilakukannya karena mau mencari pun dia tidak tahu harus mencari ke mana?"


Bersambung.


Hai teman-teman semoga kalian suka dengan part ini ya, sembari menunggu Gadis Bogor up lagi, seperti biasa aku bawain rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca nih.


Jangan lupa mampir ya guys ke karya temanku yang satu ini.


Judul: Gadis Kesayangan Tuan Agra


Author: Nurmay


Bagaimana rasanya di tinggalkan untuk selamanya di hari pernikahan. Hari yang harusnya membuat bahagia, namun itu membuat luka.


Dan gadis cantik itu pun harus menerima cacian dan makian, dan di cap sebagai gadis pembawa sial.


Lalu tiba-tiba, ada seorang laki-laki yang bersedia menikahinya agar membuang kesialan itu. Laki-laki yang tidak dia kenal sama sekali, tiba-tiba menjadi suaminya.


Siapakah Laki-laki itu? Dan bagaimanakah kehidupan rumah tangga mereka? Apakah cinta akan tumbuh di hati mereka?