Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 52


Tok!


Tok!


Tok!


Indah mengeruk pintu ruangan pribadi suaminya.


"Masuk!" Dari dalam terdengar suara, Rendi yang mempersilahkan masuk pada, Indah.


Indah membuka pintu itu dengan perlahan! Dia menampakkan senyum terbaiknya saat suaminya menatapnya.


"Indah, kamu ke sini kok gak bilang-bilang," ucap Rendi.


Rendi beranjak dari duduknya lalu menghampiri sang istri yang masih berdiri di ambang pintu!


"Tadi aku abis dari rumah, Ibu–"


"Iya, aku tahu kamu dari rumah, Ibu. Tadi pagi kan kamu udah izin sama aku kalau kamu mau ke rumah, Ibu."


"Ih aku belum selesai ngomong juga." Indah terlihat kesal karena, Rendi memotong perkataannya.


Rendi tersenyum melihat sang istri yang cemberut. Dia mengajak istrinya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan kerjanya!


"Duduk dulu, sayang. Kamu pasti capek," ucap, Rendi.


Indah duduk di sofa itu bersama dengan, Rendi.


"Aku baru pulang dari rumah, Ibu karena aku lewat sini jadinya aku mampir deh ke sini sekalian aku pengen ketemu sama, 'A Feri."


"Oh, gitu. Ya udah ayo aku antar kamu ke ruangan, Feri."


"Tadi aku udah ketemu sama dia."


"Kapan?"


"Sebelum aku ke sini."


"Kamu pasti kangen sama dia ya?"


"Iya. Kenapa sih sekarang, 'A Feri gak pernah ke rumah lagi? Biasanya juga hampir tiap hari dia ke rumah."


"M_mungkin dia sibuk, sayang."


Rendi memang tidak memberitahu, Indah tentang masalahnya dengan, Feri. Rendi tak ingin, Indah merasa sedih, biar bagaimanapun juga mengetahui orang-orang yang dia sayang berseteru, Indah pasti sedih dan kecewa. Meskipun, Feri hanyalah kakak angkat yang ketemu pas sudah dewasa tapi, Indah sangat menyayangi, Feri dan begitu juga sebaliknya.


"Sibuk, ada waktunya kali masa hari minggu juga sibuk kalau terus begini kalian gak akan pernah ada waktu untuk aku atau gimana kalau aku kerja aja di sini biar kalian gak terlalu sibuk."


"Nggak-nggak. Masa istri bos harus kerja. Mau ditaruh dimana muka aku."


"Ya di tepatnya lah masa di tong sampah, kan gak mungkin."


"Kalau kamu kerja, aku bisa malu sama orang banyak. Nanti dikiranya aku gak mampu mencukupi kebutuhan kamu."


*******


Firman dan Tari masih asyik berduaan di taman itu. Mereka membicarakan banyak hal dari tentang masa lalu yang indah saat mereka bersama dulu sampai perjalanan pahit setelah mereka berpisah.


Firman melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul tiga belas lewat lima belas menit.


"Kayaknya kita harus cepat pulang deh, anak-anak pasti sudah dalam perjalanan pulang," ucap, Firman.


"Ya sudah, ayo kita pulang," sahut, Tari.


Mereka pun mulai berjalan menuju mobil, Firman yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka duduk!


Setelah melakukan perjalanan selama sekitar sepuluh menit lebih, Tari meminta, Firman untuk menurunkannya di sana.


"Mas, turunkan aku di sini saja," ucap, Tari.


"Loh, kenapa? Rumah kamu masih jauh dari sini," ucap, Firman.


"Gak apa-apa, Mas. Aku bisa naik ojek atau kendaraan lain, aku gak mau, Feri melihat kita bersama, aku takut dia akan marah."


"Tapi, Tari–"


"Mas, tolong mengertilah, aku belum lama bersatu dengan dia, aku gak mau hubungan aku dan Feri renggang. Sudah lama aku menantikan saat-saat bersama dengan anak kita."


Firman menatap, Tari dengan tatapan penuh arti, dia tahu bagaimana perasaan, Tari terhadap, Feri saat itu karena dirinya juga merasakan hal yang sama. Bedanya, Tari bisa menyalurkan perhatian dan kasih sayangnya secara langsung pada, Feri sedangkan dirinya tidak karena dia tahu, Feri belum bisa menerima dirinya sebagai, Papa kandungnya.


"Baiklah, aku turunkan kamu di sini. Kamu hati-hati ya."


Tari langsung turun dari mobil setelah, Firman menghentikan mobilnya.


"Terimakasih untuk hari ini, Mas," ucap, Tari setelah dia keluar dari mobil itu.


"Seharusnya aku yang berterimakasih."


Tari tersenyum lalu menghentikan taksi yang kebetulan lewat di jalan itu.


"Aku pergi ya, Mas." Tari masuk ke dalam taksi itu lalu, Firman pun segera melanjutkan perjalanannya setelah memastikan, Tari sudah pulang dengan selamat dengan menumpangi taksi.


Setelah membayar ongkosnya, Tari langsung turun dari taksi itu lalu seger berjalan memasuki rumahnya!


Saat, Tari melewati ruang keluarga dia melihat, Feri yang sedang duduk mungkin sedang menunggumu kepulangannya.


"Pulang naik taksi. Kenapa gak diantar sama, Om Firman?" tanya, Feri.


"M_maksud kamu apa? Mama gak ngerti."


Feri beranjak dari duduknya lalu menghampiri, Tari yang masih berdiri ditempat semula dia menghentikan langkahnya!


"Aku tahu tadi, Mama habis bertemu dengan, Om Firman kan," ucap, Feri.


Tari menatap, Feri, dia terkejut mendengar perkataan,Feri. Terlihat ada ketakutan yang tak biasa di wajahnya.


Feri mengarahkan, Tari untuk duduk di kursi yang tadi dia duduki! Sedangkan, Tari hanya terdiam sembari mengikuti kemana, Feri mengarahkannya.


"Ma, aku tidak akan marah karena, Mama menemui, Om Firman. Mama tidak perlu menyembunyikan ini dari aku," ucap, Feri setelah mereka berdua duduk di kursi itu.


"Nak, Mama bertemu dengan, Papamu hanya untuk membicarakan masalah ini."


Feri meraih tangan, Tari lalu mengusap punggung tangannya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Aku tahu kalian masih saling mencintai, kenapa tidak mencoba untuk bersatu kembali? Aku bahagia melihat, Mama bahagia."


"Tidak, Nak. Mama tidak mau kamu–"


"Aku akan baik-baik saja. Percayalah, Ma, aku tidak akan kenapa-kenapa," ucap, Feri yang memotong perkataan, Tari yang belum selesai.


*******


Firman sudah tiba di rumahnya, saat itu dia juga sudah selesai dengan semua urusannya, dia sudah mandi dan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.


"Pa, aku gak mau ya, Papa sering-sering menemui, Mamanya, Feri. Aku gak mau ada, Mama yang lain di rumah ini selain, Mamaku," ucap, Rendi dengan nada bicaranya yang datar.


Entah kenapa, Rendi tidak bisa menerima, Tari meski, Firman sudah menceritakan semuanya tentang masa lalu mereka.


Firman tak menanggapi permintaan, Rendi. Dia terus asyik membaca koran itu.


"Papa dengar gak sih apa yang aku ucapkan?" Rendi berucap lagi dengan nada bicara yang sedikit menaikan nada bicaranya.


"Iya, Papa dengar. Kamu jangan takut, Papa akan menuruti semua keinginan kamu asal kamu bahagia," ucap, Firman tanpa menatap, Rendi sedikitpun.


"Pa, ini aku buatkan kopi susu kesukaan, Papa," ucap, Indah yang baru tiba di tempat itu.


Rendi segera pergi dari tempat itu setelah tahu bahwa ternyata, Indah ada di sana!


"Jangan-jangan, Indah mendengar perkataan aku tadi," ucap, Rendi didalam hatinya.


Indah meletakkan kopi milik, Firman di atas meja lalu menyusul suaminya yang sedang berjalan ke arah lantai dua rumahnya!


*******


Di kampung.


"Bu ini sudah lumayan lama sejak dari hilangnya, Ibunya Indah," ucap, Vira.


"Iya, terus apa hubungannya dengan semua masalah ini," ucap, Vina.


"Sampai sekarang gak ada polisi atau siapapun yang datang untuk mencari, Ibu, berarti wanita itu tidak melaporkan, Ibu ke polisi atau menceritakan tentang, Ibu kepada orang-orang yang membawanya dari hutan itu," jelas, Vira.


Vina menatap, Vira dengan tanpa berkedip sekalipun.


"Benar juga kamu, Vir. Mungkin saja wanita itu hilang ingatan atau mati aja sekalian."


"Mulai sekarang, Ibu jangan gelisah lagi ya karena sudah pasti wanita itu tidak membuka suaranya dan mengatakan tentang, Ibu kepada mereka."


Vina bernafas lega. "Semoga saja wanita itu mati saja sekalian," ucap Vina.


"Sekarang sudah malam, Ibu tidur yang nyenyak ya, jangan pikirkan tentang wanita itu lagi."


Vina tersenyum ke arah Vira lalu dia segera masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Sejak menghilangnya, Sari, Vina tidak bisa tidur tenang karena takut, Sari melaporkannya ke polisi.


Perkataan, Vira barusan membuatnya lebih tenang karena menang sudah lama, Sari hilang namun tidak ada satu orang pun yang mencarinya.


"Mungkin yang dikatakan, Vira itu benar," batin, Vina.


Vina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya lalu mulai tertidur.


Bersambung


Selamat malam teman-teman. Seperti biasa aku datang dengan membawa rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca.


Setelah membaca novel ini, untuk menemani malam kalian, yuk mampir ke karya temanku yang satu ini! Ceritanya pasti seru abis.


Judul: JAMUR, janda muda dibawah umur


Karya: Ramanda