Gadis Bogor

Gadis Bogor
Garis Bogor bab 51


Beberapa hari berlalu namun hubungan antara, Rendi dan Feri belum terlalu membaik semenjak mereka sama-sama tahu bahwa merek bersaudara bahkan memiliki satu Ayah yang sama. Rendi dan Feri terlihat seperti memberi jarak dalam hubungan merek.


Saat itu saat, kakak beradik itu hendak pergi ke suatu tempat tanpa sengaja saat mereka melewat sebuah taman, mereka melihat, Firman dan Tari sedang bertemu.


"Mama," gumam, Feri.


Rendi yang dari tadi hanya diam sambil terus melangkah mengikuti arah langkah, Feri mengalihkan pandangannya ke arah yang kini sedang ditatap oleh, Feri.


"Papa," ucap, Rendi.


Rendi berjalan hendak menghampiri, Firman dan Tari namun langkahnya dihentikan oleh, Feri.


"Jangan, Ren. Jangan ganggu mereka," ucap, Feri sembari terus menatap, Mamanya yang sedang tertawa bahagia bersama, Firman.


"Gue harus bicara sama, Papa," ucap, Rendi sembari melangkahkan kakinya.


Lagi-lagi, Feri menghentikan langkahnya. Dia menahan, Rendi agar tidak mengganggu orang tua mereka.


"Lo apa-apaan sih, Fer! Lo gak berhak ya ngatur-ngatur hidup gue."


"Ren, lo gak bisa liat apa. Lihatlah, mereka terlihat sangat bahagia, mereka sangat menikmati kebersamaannya. Kalau lo gak mau nerima gue dan Mama gue, setidaknya lo pikirkan tentang kebahagiaan, Bokap lo."


Rendi berhenti berusaha untuk menghampiri mereka, akhir-akhir ini menang, Firman terlihat murung.


"Biarkan mereka menikmati kebersamaannya, sebentar saja. Lo boleh ngomong tentang ini sama, Om Firman tapi jangan sekarang karena sekarang bukan waktu yang tepat."


"Gue gak bisa menggantikan posisi, Mama gue dengan siapapun dan tidak boleh ada orang lain yang menggantikan posisi, Mama gue di rumah gue."


"Terserah, mau lo apa. Tapi gue minta, jangan pernah berkata kasar sama, Mama gue karena gue gak akan terima itu."


Rendi masih terdiam sembari terus menatap ke arah, Firman dan Tari.


Dua insan yang pernah saling menyayangi itu terlihat sangat bahagia. Mereka tertawa lepas tanpa ada beban pikiran. Entah apa yang sedang mereka bicarakan tapi yang pasti dua orang yang lama tak bertemu itu terlihat begitu bahagia.


"Ayo kita pergi dari sini kalau tidak, meeting dengan klien kita batal dan kita gak akan dapat kontrak kerja sama dengan perusahaan mere," ucap, Feri.


Feri menarik tangan, Rendi dan membawanya ke arah mobilnya!


"Gak usah narik-narik! Gue bisa sendiri." Rendi menarik tangannya yang sedang dipegang oleh, Feri.


"Masuklah, kita sudah telat lima menit," ucap, Feri kepada Rendi.


Feri langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa menghiraukan, Rendi yang masih berdiri mematung.


Tin!


Tin!


Feri membunyikan klakson mobilnya karena, Rendi tidak juga masuk ke dalam mobilnya.


"Lo jadi orang jangan kebanyakan melamun. Nanti cepat tua," ucap Feri saat, Rendi sudah masuk ke dalam mobilnya.


Feri pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu!


Di taman itu.


Firman dan Tari duduk berdampingan di sebuah kursi taman.


"Aku ingin mengulang kembali kebersamaan kita yang dulu sempat terpisah," ucap, Firman.


Tari yang sedang tertawa bahagia tiba-tiba tawa itu hilang entah kemana. Tari menatap laki-laki yang sampai saat ini masih dia cintai itu.


"Mas, aku juga ingin kita seperti dulu lagi tapi sepertinya itu akan sulit."


"Jika kita menghadapi semuanya bersama-sama, tidak akan ada sesuatu apapun yang terasa sulit. Semua akan baik-baik saja."


"Sekarang keadaannya beda, Mas ada, Feri dan juga Rendi yang tak mungkin mengizinkan kita untuk bersama."


"Mereka akan mengerti jika kita menjelaskannya bersama-sama."


"Tidak, Mas. Jangan bicarakan ini sama mereka, aku gak mau hubungan antara Rendi dan Feri menjadi renggang sekarang saja mereka terlihat seperti musuh apa lagi kalau mereka tahu kalau kita ingin bersama. Bisa-bisa mereka saling membunuh nanti."


"Tari, kamu jangan bicara seperti itu. Apa salahnya kita mencoba."


*******


Kini, Sari sudah tinggal di rumah pribadinya. Saat itu, Indah sedang berada di rumah, Ibunya itu.


"Bu, tinggal di rumah ini, sendirian. Apa, Ibu tidak kesepian?" tanya, Indah.


"Ibu harus bagaimana lagi, sekarang kamu bukan milik, Ibu lagi jadi, Ibu tidak bisa memaksa kamu untuk tinggal di sini," sahut, Sari.


"Iya sih, Bu. Maaf ya karena, Indah gak bisa selalu ada di samping, Ibu."


Sari tersenyumlah lalu meraih pipi mulus sang putri!


"Jangan minta maaf. Kan bukan salah kamu. Oh, ya. Kapan kamu kasih Ibu cucu?"


Indah terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan sang, Ibu.


"Ditanya kok malah bengong."


"Maaf, Bu mungkin aku belum dikasih kepercayaan untuk merawat seorang anak."


"Tapi udah usaha kan?"


Indah menatap, Sari lalu tersenyum tipis. Sebenarnya dia merasa malu dengan pertanyaan sang Ibu yang dia rasa pertanyaan itu menjurus ke hal-hal pribadi.


"Ibu, sudah tua, Nak. Ibu takut, Ibu tidak memiliki sisa usia yang banyak untuk melihat kalian hidup bahagia dengan beberapa anak."


"Ibu, jangan bicara seperti itu. Pamali tahu."


*******


Feri dan Rendi sudah selesai dengan urusan mereka, setelah menemui klien mereka langsung kembali ke kantor.


Saat ini, Rendi dan Feri sudah tiba di kantor mereka.


Rendi berjalan memasuki ruangan pribadinya sedangkan, Feri masih berada di parkiran karena harus membereskan berkas penting terlebih dahulu.


Saat, Feri akan masuk ke area kantornya dia melihat, Indah yang baru tiba di sana. Feri berjalan menghampiri, Indah yang baru turun dari taksi itu!


"Ndah, kamu ke sini?" tanya, Feri saat dia sudah dekat dengan, Indah.


"Eh, Aa. Iya nih kebetulan aku lewat sini jadi aku mampir deh," sahut, Indah.


"Ya udah ayo kita masuk bareng! Oh ya, Ndah gimana kabarmu dan Ibu?"


"Indah baik-baik saja, 'A, Ibu juga baik."


"Alhamdulillah, syukur kalau kalian sehat."


"Aa kenapa sekarang, Aa jarang ke rumah? Memangnya sesibuk apa sih kerjaan di kantor sampai-sampai, Aa gak pernah ke rumah untuk nemuin aku?"


"Ada lah, 'Ndah namanya juga kerja pasti ada saat-saat sibuknya."


"Saking sibuknya sampai, Mas Rendi juga sering murung di rumah dan lagi, Aa juga gak ada kabarnya."


Mereka terus berjalan memasuki kantornya. Feri tak berucap lagi karena dia takut salah bicara.


"Mungkin, Rendi belum memberitahu, Indah tentang masalah ini," batin, Feri.


"Ndah, kamu langsung ke ruangan suami kamu aja ya, aku gak bisa nganter soalnya ada tugas yang gak bisa ditinggalkan," ucap, Feri sembari mengangkat berkas yang dia pegang sampai sebatas dadanya.


Indah tersenyum manis. "Jaga kesehatan, 'A jangan lupa makan. Aku temui suami aku dulu ya." Indah berjalan menuju ruangan sang suami sementara itu, Feri langsung masuk ke dalam ruangannya.


Bersambung


Teman-teman mampir juga yuk ke karya temanku. Ceritanya dijamin seru loh.


Yuk kepoin keseruan kisahnya.


Judul: Gairah Cinta Kakak Angkat


Karya: Eni Pua