
"Papa pernah melakukan kesalahan. Dulu saat, Papa sedang mengurus pekerjaan di luar kota, Papa tidak sengaja merenggut kesucian seorang wanita. Saat itu, Papa sedang dalam pengaruh minuman keras–"
"Selama ini, Papa melarang ku menyentuh minuman haram itu dan, Papa juga melarang ku pergi ke tempat-tempat hiburan malam tapi apa yang, Papa lakukan dulu. Papa sampai mempunyai anak dari wanita lain." Rendi berucap dengan nada bicaranya yang sedikit tinggi.
"Itu karena, Papa tidak mau kamu melakukan kesalahan seperti yang, Papa alami dulu, Surya."
"Lalu apa, Papa bertanggungjawab terhadap wanita itu? Apa, Papa menikahi wanita itu?"
"Tentu saja, Papa menikahinya meski tanpa adanya cinta diantara kami tapi tanpa sepengetahuan, Mamamu. Seiring berjalannya waktu, perasaan cinta itu tumbuh dalam diri kami dan akhirnya kami melanjutkan hubungan pernikahan kami yang tiba-tiba itu sampai akhirnya semua rahasia itu terbongkar. Mamamu mengetahui bahwa, Papa mempunyai wanita lain dan wanita itu yang awalnya tidak tahu bahwa, Papa sudah punya istri, dia menjadi tahu semuanya. Saat itu, Papa melukai dua perempuan yang sangat, Papa cinta."
Rendi hanya diam dan terus mendengar semua kisah masa lalu, Papanya itu.
"Lalu kenapa, Papa bisa berpisah dari mereka?" Karena, Firman tak berucap lagi, Rendi bertanya kepada laki-laki yang sudah mulai tua itu.
"Mamamu berusaha menghabisi perempuan itu karena merasa perempuan itu yang sudah menggoda, Papa padahal semua ini adalah salah, Papa. Papa pikir, Mamamu baik-baik saja setelah, Papa menceritakan yang sebenarnya tapi ternyata, Mamamu terus meneror perempuan itu hingga akhirnya dia mengalah. Dia pergi dari kehidupan, Papa saat dia hamil muda dan tak pernah kembali lagi ke kehidupan, Papa lagi."
"Mama, aku tidak percaya, Mama sejahat itu."
"Papa juga tidak percaya tapi ini kenyataannya, Surya. Mamamu mengakui semua kejahatannya di dalam surat ini." Firman meletakkan secarik kertas di meja yang ada di depannya.
"Mamamu mengakui semua kejahatannya dan meminta, Papa untuk mencari perempuan itu untuk menyampaikan maafnya," sambung, Firman.
Rendi meraih kertas itu dari atas meja lalu membacanya dengan seksama. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut, Rendi sebelum dia selesai membaca surat yang ditulis tangan oleh, Mamanya itu. Di akhir kalimat sebelah kiri ada tandatangan, Mananya yang tertulis dengan jelas, sudah bisa dipastikan itu adalah memang surat yang dibuat oleh, Mamanya Rendi.
"Sekarang, Papa sudah menemukan mereka?" tanya, Rendi sembari menatap, Firman.
"Sudah. Nanti kalau sudah waktunya, Papa akan bawa mereka untuk bertemu denganmu."
Rendi terdiam, dia hanya mengangguk pelan ada rasa yang tak biasa setelah tahu bahwa dirinya mempunyai adik meski bukan terlahir dari rahim, Mamanya.
*******
"Feri, tidurlah. Kamu jangan bergadang hanya untuk nungguin, Mama," lirih, Tari.
Saat itu, Feri masih duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit tempat, Tari berbaring. Matanya masih terbuka lebar dan pandangannya tak pernah lepas dari sosok, Tari.
Tari melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat lima puluh lima menit. Malam semakin larut namun putranya itu sama sekali belum menutup matanya. Sedangkan, Bu Salma, karena dia kecapekan dia sudah tidur sejak tadi.
"Sudah larut malam. Cepatlah kamu tidur, Mama juga mau tidur."
"Iya, sebentar lagi aku tidur, Mama tidur duluan saja ya." Feri menggenggam tangan, Tari lalu menciumnya dengan lembut. "Selamat malam, Ma," sambungnya.
Tari tersenyum tipis lalu menutup matanya.
"Ya Allah, terimakasih engkau telah memberikan aku kesempatan untuk bertemu dengan putraku. Terimakasih juga karena engkau menjadikan dia anak yang baik yang perhatian sama aku meski kami baru saja bertemu," ucap, Tari didalam hatinya.
Feri masih terjaga, dia terus menatap wajah perempuan yang selama ini dia cari itu. Ada banyak sekali pertanyaan yang harus ditanyakan kepada wanita yang sedang terbaring di hadapannya itu, namun dirinya harus bersabar karena tak mungkin menyerang wanita itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di kepalanya disaat wanita yang mengaku sebagai, Ibunya itu sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Feri mulai merasakan berat pada matanya, perlahan dia menutup matanya lalu menundukkan kepalanya tak terasa dia tertidur dengan posisi duduk dengan kepalanya yang menindih tangan, Tari.
Tari yang belum sepenuhnya tertidur, membuka matanya untuk melihat putranya. Perlahan dia menarik tangannya yang tertindih kepala, Feri lalu meletakkan tangannya di atas kepala putranya itu. Tari mengelus kepala, Feri dengan penuh cinta.
Merasakan adanya belaian lembut di kepalanya, Feri merasakan kenyamanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia semakin tertidur pulas dalam perasaan saat itu dia sedang bermimpi indah dengan sosok wanita yang dia panggil dengan nama, Mama.
"Maafkan, Mama, Nak," ucap, Tari didalam hatinya."
Tari pun mulai tertidur. Baru malam itu dia merasakan tidur tenang setelah dua puluh tahun lebih tidak merasakan tidur nyenyak karena terus dihantui rasa bersalah pada putranya.
Bersambung
Selamat malam, teman-teman semuanya, seperti biasa aku selalu bawain rekomendasi novel yang pastinya seru untuk kalian baca.
Yuk! Yuk! Yuk! Mampir ke karya temanku ini.
Judul: Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Author: Nirwana Asri