
Sebulan berlalu dari hari, Indah menyetujui perjodohan itu dan bersedia menikah dengan,Rendi.
Hari ini adalah hari pernikahan Rendi dan Indah. Resepsi pernikahan berjalan dengan lancar meski tanpa kehadiran orang tuanya Indah, Vina dan Vira pun tak di undang ke acara pernikahan itu karena memang sebelumnya mereka menolak untuk datang dengan satu alasan yang sebenarnya tidak masuk akal.
Setelah acara akad nikah selesai, mereka berfoto ria bersama orang-orang terdekat.
"Selamat ya bro, semoga menjadi keluarga samawa!" ucap Feri sambil menjabat tangan Rendi.
"Makasih. Lo cepet nyusul ya," Sahut Rendi.
"Ndah, selamat ya. Aa ikut bahagia dengan pernikahan kalian."
Indah tersenyum seraya meneteskan air mata.
"Makasih banyak A," lirih Indah.
"Jangan nangis atuh, nanti make-up nya luntur terus jadi kaya badut deh," ucap Feri menghibur Indah.
"Aa mah. Aku bahagia karena punya kamu," ucap, Indah sembari mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
Hari sudah sore, para tamu undangan sudah pergi meninggalkan rumah mereka!
Di depan pintu ada seorang gadis yang baru tiba di rumah Firman, ia berdiri dengan membawa sebuah kado di tangannya! Gadis itu berjalan memasuki rumah itu dengan senyuman yang terus membingkai di wajahnya.
"Maaf, Om. Saya terlambat," ucap gadis itu pada Firman.
Feri memandang kearah wanita itu dengan tatapan aneh.
"Ga apa-apa. Ayo masuk!" ucap Firman.
Gadis itu tersenyum. "Makasih, Om. Eh tapikan aku udah ada di dalam rumah ini, Om."
Firman dan gadis itu pun tertawa bersama.
"Om, aku temuin, Surya dulu ya," ucap gadis itu lagi.
Gadis itu berjalan menghampiri Rendi dan Indah! lalu menyalami kedua pengantin!
"Selamat ya, semoga bahagia," ucap gadis itu.
"Kamu? kamu gadis yang waktu itu nolong saya kan?" ucap Feri.
Gadis itu hanya mengangguk pelan.
"Udah ketemu, kenalan dong," ucap Rendi.
"Emm! sebelumnya, saya mau bilang terimakasih, karna kamu udah nolongin aku. Dan maaf, kalo waktu itu saya membuat kamu kerepotan," ucap Feri salah tingkah.
"Gak apa-apa, Mas. O'ya, kenalin, namaku Alisa," ucap gadis itu sembari mengulurkan tangannya!
"F_feri," Jawab Feri gugup.
"Gini nih, kalau orang lagi jatuh cinta pada pandangan pertama. Bawaannya gugup," celetuk Rendi.
"Indah, kita ke sana yuk! kita jangan ganggu orang yang mau melakukan pendekatan," ucap Rendi.
Rendi dan Indah pun meninggalkan Feri dengan Alisa!
*******
Malam hari setelah magrib, Rendi dan Indah tengah berada di kamar.
Suasana di dalam kamar saat ini hening, tak ada yang memulai pembicaraan mereka hanya duduk bersebelahan nampaknya pengantin baru itu sama-sama asyik dengan pemikirannya masing-masing.
Tok!
Tok!
Tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar mereka hingga membuat keduanya menatap pintu itu.
Rendi beranjak dari duduknya dan segera membukakan pintu dan langsung nampak sosok, Feri yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Masih sore kali. Jangan dulu di mulai," celetuk Feri yang kini berdiri di depan pintu kamar Rendi.
"Apa sih, lo. Ngapain lo kesini, mau ngintip ya?" ketus Rendi.
"Aish, fitnah itu. Makan dulu yuk! bentar lagi gue mau pulang," ucap Feri.
"Aa kok mau pulang, nginep aja atuh," ucap Indah sembari berjalan menghampiri mereka.
"Maunya sih gitu, tapi Aa harus nganter Alisa pulang."
"Cieee Sikat, Fer. Jangan kasih kendor," ucap Rendi.
"Aahhh elu bos. Ayo makan!"
Feri berjalan lebih dulu sedangkan, Rendi dan Indah berjalan di belakang, Feri!
Merekapun makan malam bersama.
Setelah hampir lima belas menit akhirnya mereka selesai makan Feri dan Alisa berpamitan untuk pulang!
"Om, Al pulang dulu ya," ucap Alisa.
"Iya. Kamu hati-hati ya," sahut Firman.
"Ya udah, Om. Feri pulang ya sekalian nganter Alisa," ucap, Feri kepada,Firman.
"Ndah, Ren. Aku pulang ya!" sambung, Feri lagi.
"Hati-hati, 'A."
Alisa mencium punggung tangan, Firman setelah itu baru, Feri juga mencium punggung tangan, Firman.
"Sengaja tuh cium tangannya setelah, Alisa. Biar bisa nyium bekas bibirnya kan," celetuk, Rendi.
Alisa yang sudah berjalan lebih dahulu tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu menatap mereka.
"Maksud lo? Kalau gue mau, gue gak harus mencium bekasnya," timpal, Feri.
"Lo berani mencium dia secara langsung?"
"Tidak," sahut, Feri dengan nada datar.
Firman dan dua gadis yang berada di tempat itu hanya diam dan menatap mereka.
"Dasar payah."
"Emang lo berani cium, Indah?" Feri malah memutar balikkan perkataan, Rendi.
"Berani lah."
"Coba lakukan! Gue mau liat."
Rendi mendekati, Indah lalu menatap wajah gadis yang kini sudah berstatus sebagai istrinya itu.
"Mau apa kamu? Awas ya kalau kamu melakukannya," ucap, Indah dengan tatapan tajamnya yang mengarah kepada, Rendi.
"Sudah-sudah. Kalian ini baru menikah sudah mau berantem," ucap, Firman.
"Feri, cepat kamu antar, Alisa pulang!" ucap, Firman pada Feri.
Feri mengangguk lalu segera meninggalkan rumah itu.
"Kalian istirahat ya! Papa juga mau istirahat," ucap Firman.
"Iya, Pa," jawab Rendi.
Rendi dan Indah mulai melangkah menuju kamar mereka!
"Tunggu!"
Rendi dan Indah menghentikan langkahnya!
"Kenapa Pa?" tanya Rendi.
"Papa, pengen cucu. Secepatnya ya," goda Firman.
Seketika mata Indah membola, ia terkejut dengan ucapan mertuanya barusan.
"Tenang aja, Pa," jawab Rendi santai. Sedangkan Indah menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan rasa malu yang melandanya!
Rendi memangku tubuh, Indah ala bridal style!
"Do'akan semoga aku berhasil ya, Pa!" ucap, Rendi dengan penuh semangat.
"Rendi, apaan sih. Turunin aku! Aku bisa jalan sendiri kok!" Indah meronta meminta agar, Rendi menurunkannya dari pangkuannya.
Saat itu, Indah begitu malu kepada, Firman karena kelakuan laki-laki yang baru tadi siang sah menjadi suaminya itu.
"Diam lah, jangan bergerak nanti kamu terjatuh," ucap, Rendi.
Rendi terus berjalan sambil terus memangku sang istri.
"Buka pintunya," ucap, Rendi setelah tiba di depan pintu kamar mereka.
Indah langsung menuruti perkataan, Rendi karena dirinya ingin cepat turun dari pangkuan sang suami.
Rendi berjalan memasuki kamarnya setelah pintunya terbuka lebar lalu membaringkan tubuh, Indah di atas tempat tidurnya!
Setelah itu, Rendi menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Di dalam kamar itu kedua orang yang baru aja sah tadi siang. Hanya diam dan tak tahu harus mulai pembicaraan dari mana Indah duduk di tepi ranjang dan Rendi duduk di sebelah sang istri.
Saling diam. Indah hanya menunduk! ia tak sanggup untuk menatap laki-laki yang baru tadi siang menjadi suaminya itu.
Mereka berdua duduk bersebelahan di tepi ranjang, Rendi menatap istrinya yang terdiam tanpa kata dan pergerakan.
Dengan keberanian yang sangat minim, Indah mendongak, memandang Rendi!
"Jangan liatin aku, kayak gitu," ucap Indah dengan nada pelan.
"Rendi tersenyum. "Kenapa?"
"Aku ... aku risih kalau di liatin terus."
Rendi mendekatkan wajahnya ke wajah Indah! hingga sepersekian centi lagi wajah mereka akan saling menempel!
Indah mencoba menjauh, namun tangan Rendi menahan pergerakan yang Indah lakukan!
"K_kamu m_mau ngapain?" tanya Indah terbata-bata.
"Aku mau ...." Rendi menggantung ucapannya.
"Apa?" sambung Indah.
"Cium, aku. Di sini!" ucap Rendi sembari menempelkan jarinya di bibir Indah.
Indah menundukkan kepala, lalu menggeleng!
"Oh jadi, kamu mau ngasih hak aku sebagai suami? tadinya sih, aku cuma minta cium. Tapi kalau kamu gak ngasih ciuman, ya udah aku mau hak aku sekarang," cerocos Rendi.
Tubuh Indah seketika terasa kaku lidahnya pun terasa kelu, hingga membuat ia sulit bergerak dan berucap.
Rendi membuka bajunya! lalu ia juga membuka kancing celana yang ia kenakan!
Indah duduk di posisi semula, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Rendi, aku akan memberikan hak mu sebagai suami, tapi jangan sekarang," Lirih Indah.
"Tapi, aku sudah terlanjur buka baju," goda Rendi sambil tersenyum.
Indah mengambil baju Rendi yang tadi di lempar ke sembarang tempat! lalu menghampiri Rendi yang kini tengah berdiri di depannya!
"Ini, pakai lagi bajunya!" ucap Indah sembari menyodorkan baju Rendi.
Cup!
Indah mengecup bibir Rendi sekilas! "udah," sambung Indah.
Rendi menempelkan tiga jari di bibirnya!
"Inikah, yang kamu sebut sbagai ciuman?" ucap Rendi.
"Ya. Emang ada yang salah?"
"Astaga! itu bukan ciuman, sayang,"
"Emang, gitu kan."
Rendi mendekati, Indah lalu menangkup kedua pipi istrinya itu! lalu mulai me****t bibir merah jambu milik Indah!
Setelah beberapa menit Rendi baru melepaskan ciumannya!
Indah menghirup udara dengan cepat, dirinya hampir kehabisan nafas akibat ulah sang suami.
"Itu baru ciuman," ucap Rendi sambil mengusap bibir Indah dengan ibu jarinya!
Indah terdiam, sambil mengulum bibirnya yang baru saja merasakan sesuatu yang aneh menurutnya.
"Itu bukan ciuman tapi percobaan pembunuh. Gimana kalau tadi aku kehabisan nafas? Aku bisa mati," ucap, Indah padahal sebenarnya tadi dirinya juga menikmati ciuman panas itu.
"Emang caranya gitu, Indah."
Indah tak menjawab, dia duduk dengan membelakangi suaminya itu.
"Kamu, udah tahu belum, cara bercinta?" goda Rendi.
"Mana aku tahu. Aku ini masih gadis."
"Kalau gitu, mari aku ajarkan, sekarang."
"Emang, kamu tahu?"
"Nggak sih. Kita coba-coba aja dulu," ucap Rendi sembari cengengesan.
Bersambung
Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.
Judul: Takdir
Karya: Nazwatalita
jangan lupa mampir ke sana ya teman-teman ceritanya bagus dan seru loh!