Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 60


Kini, Feri dan Rendi sudah tiba di tempat dimana, Sari berada.


"Bu, ayo kita pulang! Maaf susah membuat, Ibu menunggu lama," ucap, Rendi pada, Sari.


"Kamu dari mana saja? Ibu khawatir," ucap, Sari.


"Aku habis ada urusan sebentar, nanti di rumah aku ceritakan ya."


Sari mengangguk lalu mulai berjalan berdampingan dengan, Rendi!


Feri mengulas senyum lalu membuka pintu mobilnya untuk, Sari! "Silahkan masuk, Bu," ucapnya.


Feri pun langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah, Firman.


"Kalian habis ngapain? Kok kalian pada luka gitu?" tanya, Sari.


"Kami habis melakukan sesuatu, Bu," sahut, Rendi.


"Sesuatu apa?"


"Nanti kita ceritakan di rumah ya, Bu. Sekarang, Ibu pulang ke rumah, Om Firman dulu ya," ucap, Feri sembari terus fokus berkendara.


Sari terdiam dan hanya menatap jalanan yang sedang dilewati oleh mobil yang ditumpanginya.


Feri mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu menelpon, Tari.


Tak butuh waktu lama, Tari langsung menerima telpon darinya.


[Halo, Feri. Kamu di mana, Nak? Kamu sama siapa, kamu baik-baik saja kan?] Tari langsung menghujani, Feri dengan beberapa pertanyaan dari sebrang telpon.


[Mama, aku baik-baik saja. Sudah aku bilang,Mama jangan mengkhawatirkan aku.] ucap, Feri.


Rendi yang duduk di samping, Feri itu hanya diam sambil sesekali dia menatap, Feri.


[Gimana, Mama gak khawatir. Tadi, Papamu telpon katanya tidak ada tugas luar kota untuk kamu.]


[Om Firman gak tahu, Ma. Rendi yang menugaskan aku untuk pergi ke Bogor.]


Rendi menatap, Feri dengan tatapan aneh, kenapa, Feri membawa-bawa dirinya dalam masalah pribadinya.


Feri tersenyum tipis ke arah, Rendi yang saat itu sedang menatapnya lalu meletakkan jari telunjuknya di bibirnya untuk mengisyaratkan pada, Rendi agar Rendi tidak berucap sesuatu apa pun.


Rendi menghela nafasnya panjang lalu membuangnya perlahan. Dia menangkap wajahnya ke arah lain.


[Kapan kamu pulang? Mama khawatir.]


[Aku sedang dalam perjalanan pulang, Ma. Mungkin nanti siang sekitar habis zuhur ya.]


[Mama tunggu ya.]


[Iya. Bay, Mam.]


Feri mematikan sambungan telponnya setelah selesai bicara dengan, Tari.


*******


Firman sudah mendatangi tempat-tempat biasa, Rendi nongkrong, namun dia tidak berhasil menemukan, Rendi. Firman juga sudah mendatangi beberapa teman, Rendi dan menanyakan apakah mereka tahu dimana keberadaan, Rendi saat ini. Namun satu pun dari mereka tidak ada yang tahu dimana keberadaan, Rendi.


"Kemana lagi, aku harus cari, Rendi? Gak mungkin dia ke rumah, Feri karena, Tari bilang, Feri sedang tidak ada di rumah," gumam, Firman.


Firman terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak hentinya dia memperhatikan kendaraan dan manusia yang melewati jalan itu. Berharap dia bisa melihat, Rendi di sana.


"Apa mungkin dia ke rumah, Sari?" tanya, Firman pada dirinya sendiri.


"Tapi gak mungkin, Rendi ke rumah, Sari subuh-subuh," sambung, Firman.


*******


"Pintar lo ya, membohongi Mama lo sendiri," ucap, Rendi pada, Feri.


Feri yang sedang fokus ke jalanan itu mengalihkan pandangannya pada, Rendi lalu sedetik kemudian dia kembali menatap jalanan yang sedang dia lalui.


"Sorry. Terpaksa gue bohongin dia dan bawa nama, lo dalam kebohongan gue ini," ucap, Feri.


"Lo punya, Mama cuma satu-satunya. Kenapa lo gak bilang aja kalau lo pergi ke Bogor diluar dari tugas pekerjaan kantor."


"Gila kali lo ya? Gak mungkinkah gue bilang yang sejujurnya, Mama gue bisa jantungan dan gak akan ngizinin gue pergi."


"Kalian sedang membicarakan apa sih? Ibu tidak mengerti kenapa kalian sering berdebat seperti ini," ucap, Sari.


Sari yang dari tadi hanya diam dan hanya mendengarkan mereka bicara akhirnya dia ikut membuka suaranya karena dua orang laki-laki yang bersamanya itu terus berdebat.


Entah apa yang ada dalam pikiran mereka tapi, Rendi dan Feri sering berdebat dalam semua hal.


Rendi dan Feri menatap, Sari secara bersamaan lalu mereka berdua tersenyum pada wanita paruh baya itu.


"Ibu, gak akan ngerti. Feri ini menang selalu cari masalah," ucap, Rendi.


"Nyalahin orang lagi. Bukannya lo yang suka cari masalah?"


Karena mereka terus mengobrol, akhirnya tanpa terasa mereka sudah tiba di depan rumahnya, Firman.


Feri turun lebih dulu lalu dia membukakan pintu untuk, Sari dan setelah itu dia langsung membantu, Rendi untuk berjalan.


Feri tahu luka yang diderita oleh, Rendi masih terasa sakit.


"Sini, gue bantu lo," ucap, Feri.


"Udah deh, Ren. Jangan kayak anak kecil, gue tahu lo masih merasa kesakitan."


Saat mereka akan masuk ke rumah rumah, Firman tiba di halaman rumahnya. Dia langsung turun dari mobilnya dan berlari menghampiri mereka!


"Rendi, Feri, kok kalian bisa bersama?"


"Om, tadi aku ...."


"Awh, lo niat gak sih bantu gue?" ucap, Rendi memotong perkataan, Feri yang belum sempat terselesaikan.


"Apa sih lo."


"Mas!" seru, Indah dari dalam rumah.


Indah berlari menghampiri, Rendi dan langsung memeluknya!


"Aw, awh," lirih, Rendi saat lukanya tersentuh tangan, Indah yang melingkar di perutnya.


Feri yang melihatnya ikut ngilu, dia membayangkan bagaimana rasa sakit yang, Rendi rasakan saat itu.


Luka yang sudah diperban itu berdarah lagi akibat terkena tekanan keras.


Firman dan Indah sangat terkejut melihat baju yang dikenakan, Rendi basah oleh darah segar.


"Mas, kamu kenapa?"


"Surya!" Firman berjalan dengan sedikit berlari menghampiri, Rendi!


"Astaga, kamu kenapa?" tanya, Firman.


Firman sangat terkejut saat itu, dia menatap, Feri dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bukan kamu kan yang melakukan ini?" ucap, Firman.


"Pa, Papa apaan sih. Gak mungkin lah, Feri melakukan ini sama aku," ucap, Rendi sembari memegangi sisi perutnya yang terluka dan mengeluarkan darah.


"Masuk dulu. Luka lo harus segera diobati," ucap, Feri.


Feri langsung membantu, Rendi untuk berjalan memasuki rumahnya!


Indah dan Firman saling tatap lalu mereka berdua segera menyusul Rendi dan Feri ke dalam rumah.


Sari yang sudah menyiapkan air minum untuk semua orang, dia juga terkejut saat melihat, Rendi yang berlumur darah.


"Astaghfirullah! Kamu kenapa, Nak?"


"Tolong ambilkan tissue, 'Ndah," ucap, Feri pada, Indah.


Tanpa menjawab, Indah langsung mengambil tissue yang ada di atas meja makan.


"Sini, gue bersihkan dulu darahnya," ucap, Feri.


"Kamu kenapa sih, Mas, kok bisa sampai luka seperti ini?" tanya, Indah dengan air mata yang mulai menetes.


"Gak apa-apa kok, Indah. Ini hanya luka kecil," sahut, Rendi.


"Luka kecil tapi kamu sampai kesakitan seperti tadi."


"Rendi, sebenarnya ada apa, Nak? Tadi sebelum subuh kamu sudah membawa, Ibu pergi dari rumah, Ibu lalu kamu pergi dan kembali dengan luka seperti ini?" tanya, Sari.


"Nanti aku jelaskan setelah anak ini selesai mengobati luka ini," sahut, Rendi.


"Sudah bersih dan darahnya juga udah gak ngalir lagi, gue ambil obat dari dokter dulu ya di mobil," ucap, Feri.


Feri segera beranjak dari duduknya dan langsung berjalan untuk mengambil obat, Rendi di dalam mobilnya!


"Sebenarnya ada, Mas. Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu aku?" tanya, Indah.


"Sebenarnya aku ...."


Semua orang di tempat itu menatap, Rendi tanpa berkedip, mereka menunggu jawaban dari, Rendi.


Bersambung.


Teman-teman sambil nunggu Gadis Bogor up lagi, mampir yuk ke karya temanku ini!


Judul:Rahim Sengketa


Author Asri Faris


Seorang laki-laki muncul di hadapan Ajeng. Tidak amat tampan tetapi teramat mapan. Mengulurkan keinginan yang cukup mencengangkan, tepat di saat Ajeng berada di titik keputus-asaan.


"Mengandung anaknya? Tanpa menikah? Ini gila namanya!" Ayu Rahajeng


"Kamu hanya perlu mengandung anakku, melalui inseminasi, tidak harus berhubungan badan denganku. Tetap terjaga kesucianmu. Nanti lahirannya melalui caesar." Abimanyu Prayogo


Lantas bagaimana nasab anaknya kelak?


Haruskah Ajeng terima?


Gamang, berada dalam dilema, apa ini pertolongan Allah, atau justru ujian-Nya?



Karya: