
Pagi telah tiba, bulan sudah berganti dengan matahari. Seperti biasa, Feri sudah siap untuk ke kantor, meski saat ini dirinya sedang ada masalah pribadi dengan, Firman dan Rendi tapi dirinya tidak ingin mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan.
"Kamu yakin mau tetap ngantor?" tanya, Tari saat, Feri sudah selesai sarapan.
"Iya, kenapa memangnya?" sahut, Feri sembari mengelap bibirnya dengan tissue.
"Gak apa-apa. Ingat jangan ribut sama, Rendi ya, kalau dia berkata sesuatu yang menyakiti dirimu pergilah dan tinggalkan dia."
"Aku kenal sama dia udah lama, Ma gak mungkin dia mengatakan sesuatu yang menyakiti aku. Kemarin dia berkata dan bersikap seperti itu, mungkin karena dia terkejut dan belum bisa menerima kenyataan ini."
"Mama tahu, Mama hanya mengingatkan kamu saja. Mama harap kamu harus lebih banyak mengalah dari Rendi biar bagaimanapun juga dia adalah kakakmu."
Feri tersenyum sembari menatap wajah, Mamanya.
"Mama jangan khawatir, aku sudah terbiasa mengalah untuknya. Dia kan bos aku di kantor jadi aku memang tidak pernah melawannya."
"Kamu sudah bisa menerima, dia itu Papamu?"
Feri terdiam lalu menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menjawab, sebenarnya dia sendiri belum bisa menerima kenyataan itu.
"Mama tahu kamu pasti belum bisa menerima semua ini."
"Ma, aku ke kantor dulu ya udah siang nih," ucap, Feri.
Tak ingin meneruskan pembicaraan itu, Feri memilih segera pergi dari rumahnya.
*******
Di kediaman, Firman dan keluarga.
"Mas, kalau kamu tidak enak badan kamu gak usah ke kantor biar, 'A Feri yang mengurus semua pekerjaan kamu," ucap, Indah.
Melihat sang suami yang tidak semangat seperti biasanya membuat, Indah khawatir terhadap suaminya.
"Hari ini, Papa juga mau ke kantor kalau kamu sedang tidak enak badan, istirahat saja di rumah," sambung, Firman pada, Rendi.
"Aku baik-baik saja kok. Kalian tidak udah khawatir," ucap, Rendi.
Setelah selesai sarapan, Rendi segera berpamitan kepada, Indah. Meski dirinya sedang banyak pikiran tapi dia tidak melupakan kebiasaannya di pagi hari saat dia akan berangkat ke kantor.
Sementara itu seperti biasa, Firman akan menunggu putranya itu di mobilnya.
Tak lama, Rendi tiba dan langsung masuk ke dalam mobilnya, mereka pun mulai melakukan perjalanannya menuju kantor!
Indah berdiri sambil menatap mobil yang dikemudikan oleh suaminya itu, hingga sampai mobil itu tak terlihat lagi barulah dirinya masuk ke dalam rumahnya.
"Bu, jangan kerjakan itu semua. Ibu diam saja kan sudah ada orang yang bertugas mengerjakan itu," ucap, Indah saat melihat, Ibunya sedang mencuci piring.
"Tidak apa-apa, Nak. Lagi pula, Ibu senang melakukannya," sahut, Sari.
Indah tersenyum lalu meraih kedua tangan, Ibunya! Dicucinya tangan sang Ibu sampai bersih lalu mengeringkan tangan itu dengan lap tangan!
"Ibu, aku bilang jangan kerjakan ini. Ibu ngeyel ya kalau dibilangin," ucap, Indah.
Sari hanya tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari sang putri.
*******
Setelah melakukan perjalanan yang tidak begitu lama, akhirnya, Firman dan Rendi tiba di kantor.
Mereka berdua berjalan memasuki nantinya! Tidak ada yang berubah dari biasanya. Saat itu, Feri sudah tiba lebih dahulu di kantor.
Saat melewati ruangan kerja, Feri, Rendi hanya melewatinya begitu saja padahal setiap hari saat dirinya tiba di kantor dia akan menemui, Feri terlebih dahulu.
Firman menatap punggung, Rendi dengan tatapan sendu. Dia tahu putranya itu belum bisa menerima, Feri sebagai adiknya.
Entah apa yang menjadi alasan mereka yang saling tidak menerima satu sama lain padahal selama ini mereka memiliki hubungan yang baik. Bahkan hubungan mereka sebelumnya sangat dekat seperti hubungan antara adik dan kakak pada umumnya.
Firman memasuki ruangan, Feri tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu!
Feri menatap pintu ruangannya yang terdengar ada yang membukanya.
"Eh, Om. Rendi mana?" tanya, Feri yang melihat, Firman berdiri di ambang pintu.
Secara otomatis dia menanyakan, Rendi karena biasanya mereka berdua pasti masuk ke ruangannya dulu sebelum masuk ke ruangan pribadi mereka.
"Rendi, udah ke ruangannya. Dia sedang tidak enak badan," jelas, Firman berbohong padahal dia tahu, Rendi bukan sedang tidak enak badan tapi sedang menghindari untuk bertemu, Feri.
*******
Saat ini, Tari sedang berada di pantai asuhan, selain untuk menemui, Bu Salma dia ke sana juga untuk menemui anak-anak di sana.
"Tari, bagaimana dengan kabar, Feri?" tanya, Salma.
"Dia baik-baik saja. Sekarang dia sudah benar-benar menerima aku sebagai, Ibu kandungnya," sahut, Tari.
"Apa dia juga menerima, Ayahnya?"
"Kenapa bisa begitu? Selama ini dia selalu menanyakan tentang orang tuanya, tentang, Ibu dan Ayahnya."
"Mas Firman adalah bosnya di tempat dia bekerja dan sekarang perusahaan itu dipegang oleh anaknya, Mas Firman. Rendi dan Feri sama-sama belum bisa menerima kenyataan kalau ternyata mereka adalah adik dan kakak."
"Kasihan, Feri. Selama ini dia tidak pernah merasakan belaian kasih seorang, Ayah dan setelah menemukan Ayahnya pun dia tidak bisa merasakan kasih sayangnya juga."
"Mau bagaimana lagi, Sal. Aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa untuk anakku itu."
*******
Setelah ada sedikit waktu luang, disela kesibukannya, Feri menyempatkan diri untuk menemui, Rendi. Mendengar bosnya itu sedang tidak sehat dirinya merasa khawatir terhadapnya.
Tok!
Tok!
Feri mengetuk pintu lalu langsung membuka pintu ruangan, Rendi! Dia berjalan memasuki ruangan itu tanpa disuruh oleh sang pemilik ruangan!
"Gue dengar lo sakit, sakit apa?" tanya, Feri pada Rendi.
Rendi menatap, Feri sekilas lalu kembali menatap layar laptopnya.
"Gak usah sok perhatian sama gue," ucap, Rendi dengan nada bicaranya yang datar tanpa ekspresi apapun.
"Gue bukan sok perhatikan sama lo, Ren. Dari dulu kan gue selalu perhatian sama lo."
"Sekarang situasinya berbeda, Feri. Sekarang lo adalah anaknya, Papa gue dan gue gak terima itu."
"Lo pikir gue terim? Gak segampang itu, Rendi. Dari lahir gue gak tahu siapa Ibu gue, siapa Ayah gue dan sekarang tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai Ayah kandung gue. Sebenarnya gue kecewa, gue ingin marah tapi gue gak bisa karena ini semua bukan keinginan, Mama gue dan tentunya juga bukan keinginan, Om Firman."
Rendi hanya terdiam sembari terus mendengarkan perkataan, Feri padanya.
"Gue gak minta apa-apa dari lo meskipun sekarang gue tahu kalau gue ini anaknya, Om Firman. Gue hanya minta satu hal dari lo, tolong jangan jadikan kenyataan ini sebagai awal retaknya hubungan baik kita yang sudah lama kita bangun bersama. Gue gak akan merebut apapun milik lo termasuk, Om Firman, bisa hidup dengan, Ibu kandung gue aja gue udah bahagia tanpa adanya seorang, Ayah di kehidupan gue tidak akan menjadi beban buat gue karena dari lahir, gue sudah tidak punya, Ayah." Feri terus berbicara pada, Rendi meski yang diajak bicaranya itu hanya diam dalam seribu bahasa.
"Kalau lo lagi kurang sehat ada baiknya lo istirahat, jangan paksakan untuk bekerja karena lo bisa tumbang sekaligus. Kalau pun lo gak ke kantor, gue gak akan mengambil alih perusahaan milik lo. Lo tenang aja, gue tidak menginginkan perusahaan yang bukan milik gue," ucap, Feri.
"Permisi," sambung, Feri lagi.
Feri pun langsung keluar dari ruangan itu karena merasa sudah tidak ada yang dibicarakan lagi dengan, Rendi!
*******
"Hari ini adalah hari terakhir, Ibu di sini," ucap, Sari pada, Indah.
"Kenapa, Bu?" Indah menatap sang Ibu dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Ibu akan tinggal di rumah, Ibu sendiri."
"Kenapa harus tinggal sendiri. Tinggal di sini saja bersama kami."
"Tidak bisa, Nak."
"Tidak bisa kenapa? Apa, Papa yang meminta, Ibu pergi atau, Mas Rendi?"
"Tidak ada yang meminta, Ibu pergi. Ibu sendiri yang ingin tinggal sendiri di rumah, Ibu."
"Memangnya, Ibu punya rumah di sini?"
"Ada, rumah itu rumah yang dulu, Ibu tempati sebelum akhirnya, Ayahmu memutuskan untuk tinggal di desa."
"Aku harus apa? Mau merengek pun, Ibu tidak akan menuruti keinginan aku."
"Maaf ya, sayang. Ibu tidak bisa tinggal bersama dengan kalian lagi."
"Jangan minta maaf. Aku maunya, Ibu bilang kalau, Ibu akan tetap tinggal di sini."
"Tidak bisa, sayang."
Sari dan Ridwan menang pernah tinggal di kota besar itu, karena alasan tertentu mereka pindah ke desa sejak Sari mengandung usia beberapa minggu.
Vina tak pernah tahu kalau, Ridwan memiliki rumah di jakarta karena, Ridwan tidak pernah memberitahunya.
Entah kenapa, Ridwan tidak memberitahu, Vina hingga sampai dirinya meninggal, Ridwan tidak pernah memberi tahu, Vina tentang rumah itu.
Bersambung
Teman-teman, aku bawain lagi nih, rekomendasi novel untuk kalian baca.
Yuk mampir ke karya temanku ini!
Judul: Bertahan Terluka
Karya: Pipihpermatasati