Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 53


Hari itu saat, Feri sedang berada di kantor, Rendi sengaja pergi ke rumah, Feri untuk menemui, Tari.


Rendi mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin terjadi kecelakaan lalu lintas jika dirinya menyetir dengan kecepatan tinggi pasalnya saat itu jalanan lumayan ramai dilewati kendaraan.


Tak butuh waktu lama, akhirnya, Rendi tiba di rumah milik asisten pribadinya itu. Rendi memarkirkan mobilnya lalu turun dari mobilnya! Dia berjalan menuju pintu utama rumah, Feri!


Tok!


Tok!


Tok!


Rendi mengetuk pintu rumah itu.


"Sebentar!" seru, Tari dari dalam rumah.


Dengan sabar, Rendi menunggu sampai pintu itu terbuka.


"Rendi," ucap, Tari setelah pintu itu dibuka olehnya.


Rendi tak memperlihatkan ekspresi apapun, wajahnya datar tak sedikitpun senyuman yang dia suguhkan untuk wanita yang dicintai oleh, Papanya itu.


"Rendi, kamu pasti mau menemui, Feri ya? Feri gak ada, dia sedang bekerja," ucap, Tari.


"Aku tahu, dia gak ada. Aku ke sini hanya mau bilang sama tante, tolong jauhi, Papa saya karena saya gak mau punya, Ibu sambung," ucap, Rendi.


"Baiknya kita bicara didalam. Ayo masuk." Tari masih berucap dengan nada biasa saja, tidak ada sedikitpun kemarahan diwajahnya.


Rendi menuruti perkataan, Tari, dia sadar bahwa perkataannya barusan bisa membuat, Tari malu jika didengar oleh tetangganya.


"Rendi, saya tidak pernah berniat untuk masuk ke dalam kehidupan kalian. Saya sudah berusaha untuk tidak hadir lagi di kehidupan, Papa kamu tapi ternyata takdir berkata lalin. Tuhan mempertemukan kami kembali."


"Saya gak mau tahu ya, tante. Pokoknya tante jauhi, Papa aku."


Rendi mengambil cek kosong dari dalam saku celananya lalu dia memberikan cek itu pada, Tari dengan keadaan sudah dia tandatangani.


"Ambil ini." Rendi meletakkan cek itu di atas meja.


"Tante tulis berapa jumlah yang, tante inginkan untuk keperluan tante. Misalnya untuk biaya hidup tante di luar negeri, agar kalian tidak bisa saling bertemu lagi."


"Kamu simpan saja uang kamu, Rendi. Tante tidak membutuhkan itu dari kamu," ucap, Tari.


Tari berusaha untuk tetap tenang meski saat itu hatinya terasa sakit yang amat sangat.


"Tante menolak ini karena, tante ingin perusahaan, Papaku kan."


Rendi tak berucap lagi, dia beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya!


"Satu lagi, Rendi. Saya tidak pernah menginginkan perusahaan, Papa kamu ataupun harta yang kalian miliki. Saya hanya ingin kalian mengakui, Feri di keluarga kalian."


Rendi menghentikan langkahnya lalu berbalik arah menjadi menghadap, Tari.


"Tidak akan. Aku tidak akan pernah mengakui dia sebagai adikku. Dia itu hanyalah asisten pribadiku, tidak lebih dari itu."


Rendi kembali berjalan sedangkan, Tari hanya menatap kepergian, Rendi dengan tatapan mata yang mulai berkaca-kaca.


Tak terasa air mata, Tari meluncur begitu saja dari pelupuk nya. Perkataan, Rendi padanya sangat menyakiti perasaannya.


*******


Di rumah, Sari.


Firman sedang berkunjung ke rumah, Sari. Firman memang sengaja ke rumah, Sari untuk memantau keadaan, Sari yang memang kesehatannya belum stabil.


"Sari, gimana kabar kamu?" tanya, Firman.


Sebenarnya, Firman merasa khawatir terhadap, Sari karena biar bagaimanapun juga, Sari baru saja mengalami kekerasan dari, wanita yang ingin menggantikan posisinya di dalam kehidupan, Ridwan.


"Alhamdulillah, aku baik-baik daja, Mas," sahut, Sari.


"Syukurlah kalau begitu. Aku selalu khawatir sama kamu. Aku takut, Tiara bersedih kalau kamu kenapa-kenapa."


"Aku baik-baik saja, Mas."


Semasa hidupnya,Ridwan dan Firman memang memiliki hubungan yang baik. Hingga setelah, Ridwan meninggal pun, Firman merasa memiliki tanggungjawab untuk melindungi, Sari.


Bersambung.


Halo selamat malam teman-teman.


Setelah baca Gadis Bogor, baca juga novel karya teman aku ya.


Judul: Posesif Husband (CEO Kejam Jatuh Cinta)


Karya: Rahayu Ningtiyas Bunga Kinanti