
Di hari liburnya, Feri tak menggunakan waktu untuk beristirahat, kemarin sore setelah dirinya pulang bekerja, Feri langsung berpamitan untuk pergi ke Bogor pada, Tari.
"Ini udah mau malam loh, Nak. Apa gak bisa perginya besok saja," ucap, Tari.
"Tugasnya juga sekarang, Ma. Lagipula aku sudah gede, Ma. Mama jangan khawatir ya, aku pasti baik-baik saja."
"Mama tahu itu tapi, Mama khawatir aja sama kamu."
Feri tersenyum lalu memeluk, Tari!
"Aku pergi hanya satu hari, besok malam aku akan pulang kok," ucap, Feri sembari memeluk sang Ibu.
"Kamu hati-hati ya," ucap, Tari.
Feri melepaskan pelukannya lalu dia langsung pergi meninggalkan, Mamanya sendiri di rumahnya!
Sesuai janjinya kepada, Indah. Feri akan menyelidiki siapa orang yang sudah mengasingkan, Sari dua puluh tiga tahun yang lalu.
Feri berangkat sendiri tanpa adanya satu orang pun yang tahu dengan apa yang akan dilakukan olehnya di Bogor. Feri memang minta izin pada, Tari untuk pergi ke Bogor tapi dirinya tidak mengatakan bahwa perginya dia itu bukan tugas dari kantornya.
*******
Di kediaman Firman.
Sudah beberapa hari setelah, Rendi mendatangi, Tari dan sejak itu juga, Firman menjadi pemurung, dia jarang bicara dan sering menolak untuk ditemani saat dirinya sedang menonton televisi padahal sebelumnya, Firman suka merengek pada, Rendi dan Indah meminta untuk ditemani menonton siaran televisi kesukaannya.
Saat itu, Firman sedang duduk di balkon lantai dua rumahnya, dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Rendi menatap, Papanya itu dari jarak yang tidak terlalu dekat karena jika, Firman tahu, Rendi akan menghampirinya, Firman akan pergi menghindari, Rendi.
"Papa terlihat seperti sedang banyak pikiran. Apa yang sedang, Papa pikirkan perasaan akhir-akhir ini perusahaan baik-baik saja," ucap, Rendi didalam hatinya.
Rendi terus memperhatikan, Firman sambil terus menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan, Papanya itu.
"Mas, kamu lagi ngapain berdiri di sini?" tanya, Indah yang baru keluar dari kamarnya.
Rendi menoleh ke arah, Indah lalu meletakkan jari telunjuknya di bibirnya! Mengisyaratkan agar, Indah tidak bersuara.
Rendi berjalan menghampiri, Indah yang masih berdiri di depan pintu kamarnya lalu menarik tangan sang istri membawamu masuk lagi ke dalam kamarnya!
Rendi mengarahkan, Indah untuk duduk di tepi ranjang sementara dirinya menyandarkan bokongnya pada meja rias milik, Indah.
"Ndah, kamu sadar gak sih kalau akhir-akhir ini, Papa sering melamun," ucap, Rendi.
"Iya, Mas sekarang, Papa jadi sering melamun, Papa juga jarang bicara dan sering menolak saat aku mau menemaninya menonton."
"Nanti kita tanya pelan-pelan ya, Mas. Siapa tahu nanti, Papa mau bicara dengan apa yang sedang dia pikirkan."
*******
Di kediaman, Feri.
Tari duduk di kursi yang ada di dalam kamarnya sembari memegangi foto, Feri.
Ditatapnya foto itu dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kenapa hidupmu selalu susah, Nak? Dulu, kamu hidup di panti asuhan dengan hanya diasuh oleh satu Ibu dengan puluhan anak dan sekarang setelah kamu menemukan keluargamu. Kamu juga masih harus terpisah dari, Papamu karena kakakmu tidak menerima kehadiran kamu." ucap, Tari sembari mengelus foto itu.
Tari meneteskan air matanya, dia sedih karena putranya belum bisa mendapatkan haknya.
"Ini semua salah, Mama dan Papa tapi kenapa kamu yang harus menanggung penderitaannya? Maafkan, Mama, Nak."
*******
Malam hari, Feri sudah tiba di Bogor tepatnya di sekitaran tempat, Vina dan Vira tinggal. Saat ini dia sedang mencari tahu tentang masa lalunya, Ridwan, Sari dan Vina entah kenapa mendengar, Sari yang selalu menyebutkan kata-kata 'wanita itu' dan dia selalu histeris saat mengucapkan kata itu, membuat, Feri menaruh curiga pada, Vina.
Mungkin saja, Vina kah orang yang selama ini berusaha menyingkirkan, Sari dari kehidupan keluarganya. Batin Feri.
Feri memarkirkan mobilnya di depan sebuah gang lalu dia berjalan memasuki perkampungan itu untuk mencari seseorang yang mengetahui dan mengenal keluarga, Ridwan!
Gang yang terlalu kecil dan hanya bisa dilewati oleh motor itu, membuat, Feri harus berjalan kaki di tempat yang becek dan kotor itu, namun, Feri tak menghiraukan tanah yang becek dan berlumpur itu. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana cara mengetahui siapa orang yang sudah tega memisahkan, Sari dengan keluarganya.
Feri terus berjalan hingga tak jauh dari tempat dia berdiri, terlihat ada sekelompok, Bapak-bapak yang sedang berkumpul di sebuah pos ronda. Feri langsung bergegas menghampiri mereka semua!
"Permisi, Bapak-bapak numpang tanya apa bapak semua tahu di mana alamat rumah wanita ini?" tanya, Feri sembari memperlihatkan sebuah foto, yang gambarnya adalah wajahnya, Vina.
Para laki-laki itu menatap, Feri secara bersama-sama.
Bersambung
Untuk menemani malam kalian, teman-teman aku bawain Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca pastinya ceritanya seru dan gak ngebosenin. Teman-teman yuk mampir ke karya temanku yang ini!
Judul: Suamiku Bukan Milikku
Karya: Dafa