Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 55


Malam itu, Feri ikut bergabung bersama bapak-bapak yang sedang ngobrol di pos ronda itu, untunglah warga kampung itu ramah-ramah pada orang lain.


"Ini kan, Bu Vina. Rumahnya tidak jauh dari sini," ucap salah satu dari mereka.


"Pak, boleh saya tanya lagi?"


"Tentu saja, Mas."


"Apa kalian juga kenal dengan, Ibu ini." Feri kembali memperlihatkan sebuah foto namun dengan gambar wajah yang berbeda.


"Ini kan, Bu Sari," ucap salah satu dari mereka lagi.


"Siapa, Bu Sari ini?"


"Dia adalah istri pertamanya, Pak Ridwan."


"Setahu saya, Pak Ridwan itu suaminya, Bu Vina."


"Iya benar. Setelah, Bu Sari dinyatakan meninggal tak lama, Pak Ridwan menikahi, Bu Vina."


"Bu Sari meninggal karena apa?"


"Karena kecelakaan mobil. Mobilnya terbakar dan tubuh, Bu Sari juga ikut terbakar."


"Dimana makam, Bu Sari?"


"Tidak ada. Tubuh, Bu Sari hangus dan menjadi abu."


"Tidak, Bu Sari tidak ditemukan di dalam mobil yang terbakar itu. Tentang, Bu Sari yang terbakar itu hanya omong kosong karena sampai saat ini, Polisi tidak bisa membuktikan bahwa, Bu Sari memang terbakar," ucap laki-laki lain yang juga ada di tempat itu.


"Itu berarti ada kemungkinan bahwa,Bu Sari masih hidup."


"Maaf, Mas ini siapa ya? Sepertinya, Mas kenal dengan mereka?"


"Saya ... saya ini keponakannya, Bu Sari. Sebenarnya saya ingin tahu apakah benar, tante saya itu sudah meninggal. Saya baru datang dari luar negeri untuk menemui tante saya itu tapi pas saya ke rumahnya tadi ternyata tante saya gak ada hanya ada orang yang bernama, Vina dan anaknya di sana."


Feri tak ingin ada orang yang tahu tentang apa tujuannya bertanya-tanya pada mereka, akhirnya dia berbohong pada bapak-bapak itu.


Tiba-tiba, Feri melihat, Sukri dan kawan-kawannya lewat ke sana. Feri langsung menyembunyikan wajahnya karena takut mereka mengenalinya.


"Pak, mereka siapa?" tanya, Feri setelah, Sukri dan teman-temannya melewati pos ronda itu.


"Mereka anak buahnya, Bu Vina. Kerjaan merek adalah mengawasi kuli yang bertugas di ladang kebun milik, Pak Ridwan."


"Selain itu juga pekerjaan mereka adalah menagih hutang pada orang-orang yang berhutang pada, Bu Vina," jelas laki-laki yang lainnya.


"Kalau gitu saya permisi dulu ya, Bapak-bapak. Terimakasih sudah membantu saya."


Feri menyeruput kopinya lalu meletakkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah di sana.


"Pak, tolong bayarkan kopi saya sekalian punya Bapak-bapak juga ya," sambung, Feri.


"Mas, ini kebanyakan."


"Tidak apa-apa, Bapak ambil saja lebihnya." Feri langsung pergi meninggalkan mereka lalu lanjut membuntuti, Sukri dan rekan-rekannya.


"Terimakasih, Mas!" seru salah satu dari bapak-bapak itu.


Feri terus berjalan membuntuti mereka! Entah kemana dia merasa sangat yakin kalau dia akan menemukan petunjuk lewat mereka.


*******


Di Jakarta.


"Mas, sebenarnya ada apa dengan kalian? Akhir-akhir ini, aku perhatikan kamu sama, Papa kok kayak musuh," tanya, Indah kepada, Rendi.


Rendi menatap, Indah lalu berjalan mendekati istrinya itu!


Rendi duduk di samping, Indah dan mulai bicara.


"Indah, sebenarnya, Feri adalah anak, Papa."


"Apa?"


"Iya, aku baru tahu kalau ternyata, Papa punya istri lain selain, Mamaku dan aku juga baru tahu kalau ternyata, Feri itu adalah adikku."


"Kalau itu masalahnya kenapa kalian menjadi seperti tidak mengenal satu sama lain? Pantas akhir-akhir ini, 'A Feri gak pernah lagi ke sini."


"Saat itu, aku kaget, aku syok mendengar perkataan, Papa. Mungkin ada kata-kata aku yang menyakiti mereka sehingga mereka menjadi seperti ini."


"Aku harus bilang apa, Mas. Aku sendiri pernah merasakan hal yang sama saat aku tahu ternyata, Ibu Vina dan kak Vira itu adalah Ibu dan kakak tiri ku."


"Ndah, aku ingin memperbaiki hubungan aku dengan, Papa dan juga, Feri. Aku tahu aku salah tapi aku benar-benar tidak sengaja menyakitkan mereka."


"Sekarang, Ibunya, Feri masih hidup, 'Ndah. Namanya, Ibu Tari. Jujur aku masih berat untuk menerima mereka tapi melihat, Papa yang selalu melamun dan suka menyendiri, aku merasa tidak tega."


"Lalu mau kamu apa? Aku akan mendukungmu selama yang kamu lakukan itu benar."


"Aku ingin membawa, Ibu Tari pulang ke sini dan menjadi, Ibu sambung buatku."


"Kamu yakin, Mas?"


"Aku yakin. Kalau, Papa bahagia aku juga pasti bahagia."


"Aku akan membantumu membawa, Ibu Tari pulang ke sini tapi aku ingin kamu juga menerima, 'A Feri dan mulai memperbaiki hubungan kalian yang sempat terhenti."


"Sebenarnya aku sudah menerima dia, 'Ndah aku hanya ...." Rendi bangkit dari duduknya lalu berdiri membelakangi, Indah.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu dengan apa yang aku rasakan ini. Aku dan Feri sudah bersahabat sejak kami duduk di bangku SMA bahkan sampai sekarang kami masih bersahabat. Kamu ngerti gak sih perasaan aku, 'Ndah?"


Indah memeluk, Rendi dari belakang dengan penuh cinta dan kasih sayang! "Mas, aku tahu saat ini kamu pasti sedang merasa serba salah tapi aku juga tahu kamu pasti memilih yang benar yang memang hadir dari dalam hati kamu."


"Aku sayang sama, Papa, aku sayang sama, Mamaku dan sebenarnya dari dulu aku sudah menganggap, Feri sebagai keluargaku. Aku akan berusaha untuk menerima, Ibu Tari sebagai pengganti, Mamaku di rumah ini."


*******


Feri sedang mengendap-endap memasuki suatu bangunan yang didalamnya ada, Sukri, Basri, Deni dan orang-orang yang selalu menjadi andalan, Vina untuk melakukan kejahatannya.


Feri ingin tahu dengan apa yang sedang mereka bicarakan karena dari mereka lah dia bisa mendapatkan informasi tentang, apa saja yang dilakukannya oleh, Vina.


"Ti mana wae maneh teh jam sakieu karak datang?" ucap tekan mereka dengan menggunakan bahasa Sunda.


Laki-laki itu adalah orang yang pernah ditugaskan, Vina untuk menjaga, Sari di hutan agar, Sari tidak bisa lari dari sana.


"Biasa, habis dari rumah, Ibu Vina," sahut Sukri.


"Ngapain?"


"Besok urang ka Jakarta lagi untuk memastikan, Ibu Sari benar-benar tidak ada dan sudah mati."


"Memangnya kalian tahu di mana wanita itu berada?"


"Setelah, Ibu Bos menyelidiki ternyata, Pak Ridwan masih memilih rumah di Jakarta dan kita harus mengeceknya ke sana. Siapa tahu wanita itu ada di rumah itu."


"Kalau gitu kita siapkan semuanya kebutuhan kita sekarang."


Setelah mendengar semua perkataan mereka, Feri langsung pergi dari tempat itu.


Dia berjalan dengan penuh kehati-hatian karena takut ketahuan oleh mereka.


Setelah agak jauh dari tempat itu, Feri langsung berlari ke tempat dirinya memarkirkan mobilnya! Dia harus mencari tempat yang ada sinyal karena dirinya harus segera memberitahu, Indah tentang ini agar mereka segera mengamankan, Sari.


Feri melajukan mobilnya keluar dari kampung itu. Tugasnya malam itu sudah selesai kini dia harus menyelamatkan, Sari terlebih dahulu sebelum orang-orang itu pergi ke Jakarta dan menemukan, Sari.


Tak butuh waktu lama akhirnya, Feri sudah keluar dari kampung itu. Dia menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di pinggir jalan lalu dia menelpon, Indah.


Beberapa kali mencoba menelpon, Indah namun tak ada jawaban. Mungkin, Indah sudah tidur karena menang waktu sudah larut malam. Terpaksa, Feri menelpon, Rendi karena dia menang membutuhkan bantuannya.


[Halo,] ucap Rendi dari sebrang telpon.


Saat itu Rendi sedang berada di balkon kamarnya, dia tidak bisa tidur tenang karena merasa bersalah pada orang-orang di sekitarnya.


[Rendi, apa benar, Ibu Sari punya rumah di Jakarta?] tanya, Feri tanpa basa-basi.


[Punya, sekarang malah, Ibu sudah tinggal di rumah itu. Memangnya kenapa lo nanyain tentang ini.]


["Apa! Jadi benar. Gawat, sekarang lo ke sana dan bawa, Ibu Sari pergi dari sana. Dia dalam bahaya.]


[Fer, maksud lo apa sih? Malam-malam lo nyuruh gua yang tidak-tidak.]


[Sekarang gue lagi di Bogor dan tadi gue dengar anak buahnya,Bu Vina akan ke Jakarta untuk mencari, Ibu Sari ke rumah itu. Udah deh, Rendi jangan banyak tanya, sekarang udah jam tiga dini hari. Sebentar lagi mereka akan berangkat ke Jakarta ini gue lagi di jalan mau pulang tolong kamu kirim alamat rumah itu karena gue akan langsung ke sana.]


Feri mematikan telponnya secara sepihak, dia harus segera tiba di Jakarta sebelum orang-orang itu tiba di sana.


Bersambung


Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca.


judul: Fiona


karya: Lili Anti


Jangan lupa mampir ya teman-teman.