Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 26


Vina dan Vira membantu, Firman untuk masuk ke dalam rumahnya, mereka berdua membopong, Firman ke dalam rumahnya lalu membaringkan nya di atas tempat tidur!


Firman yang mendapatkan pukulan di bagian punggungnya seketika terjatuh dan tak bisa bangun sendiri hingga akhirnya, Vina dan Vira membantunya.


Di usianya yang mulai menua tenaganya pun sudah berkurang terlebih lagi, Firman tak pernah belajar bela diri karena memang dia tak memiliki musuh. Karena hal itulah, Firman merasa tak perlu untuk menguasai ilmu bela diri.


"Terimakasih ya kalian sudah membantu saya," ucap, Firman.


"Iya, gak apa-apa, Mas. Kamu istirahat saja dulu ya," ucap Vina.


"Om, minum dulu. Ini aku bawain air minum untuk, Om," ucap Vira sembari menyodorkan segelas air mineral.


"Terimakasih, Nak."


Vina dan Vira segera melangkahkan kakinya mereka hendak keluar dari kamar itu dan membiarkan, Firman beristirahat.


"Vi, tunggu," ucap Firman.


Vina menghentikan langkahnya lalu berbalik arah.


"Iya, Mas ada apa?"


"Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa mereka?"


"Mas, sebenarnya ...." Vina menggantung ucapannya lalu melangkahkan kakinya dan duduk di tepi ranjang tepat di samping kakinya, Firman.


"Gimana ya, aku ngomongnya," sambung, Vina.


Vina sengaja mengulur waktu pembicaraannya karena dia sedang memikirkan apa yang akan dia sampaikan kepada, Firman tentang preman-preman itu.


Vira berjalan mendekati, Vina lalu mengusap pundak, Ibunya itu!


"Bu, katakan saja yang sebenarnya. Mungkin, Om Firman bisa membantu kita," ucap Vira.


Vina menatap Vira mengisyaratkan sesuatu kepada putrinya itu.


"Sebenarnya siapa mereka, Vi? Katakan saja padaku, Vira benar siapa tahu aku bisa membantu," ucap, Firman.


Vira yang seolah tahu bahwa sang Ibu tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan, Firman langsung berpikir cepat.


"Emm, Om sebenarnya tanpa sepengetahuan Ibu dan aku, Tiara meminjam uang kepada rentenir dan mereka adalah preman yang bertugas menagih hutang kepada semua orang yang memiliki hutang kepada rentenir itu," jelas Vira.


Belajar dari sang Ibu, Vira tumbuh menjadi anak yang pintar berbohong dan sering menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.


"Rentenir ... tapi kenapa mereka membawa, Tiara? Bukan meminta uang?"


*******


Di tempat lain.


Rendi masih berusaha mengejar preman yang membawa, Indah kabur dengan menggunakan mobil.


Rendi belum juga berhasil mengejar mereka karena terkendala oleh jalan yang rusak.


"Ah, Ren lo kelamaan. Cepat dong itu adik gue udah pergi jauh," ucap, Feri.


Feri terus menatap mobil itu, sedikitpun pandangannya tak beralih dari mobil berwarna hitam yang di dalamnya ada gadis yang sangat dia sayangi.


"Ini udah cepat kok, Fer," sahut, Rendi.


"Sini biar gue yang nyetir!"


Feri mengambil alih bangku kemudi tanpa menghentikan mobilnya terlebih dahulu.


Rendi beranjak dengan hati-hati dari kursi kemudi nya lalu, Feri langsung berpindah ke tempat mengemudi!


"Lo pegangan yang kuat!" titah, Feri kepada, Rendi.


Rendi langsung mengikuti perkataan, Feri tanpa menjawab perkataan temannya itu.


Feri pun mulai mengeluarkan kemampuannya dalam menyetir di jalanan yang rusak dan penuh lumpur itu!


"Tolong!"


"Tolong!"


Di dalam mobil preman itu, Indah terus berteriak meminta tolong, seluruh tubuhnya terasa sakit karena guncangan keras dari mobil itu membuatnya terbanting ke sembarang tempat.


Tak sekali dua kali kepala, Indah terbentur ke jendela mobil hingga membuat, Indah semakin tersiksa berada di dalam mobil itu.


Setelah kejar-kejaran selama hampir lima belas menit akhirnya, Feri berhasil mengejar mobil itu dan berhasil menghadangnya.


Feri dan Rendi segera turun dari mobilnya lalu menghampiri mobil milik preman itu!


*******


Di kota Jakarta.


Tari datang ke tempat biasa dia melihat, Feri.


Di sebrang jalan tepatnya di bawah sebuah pohon yang tidak besar tapi bisa digunakannya untuk bersembunyi, Tari mengintip dan terus memperhatikan rumah, Feri.


Sudah hampir satu jam dia di sana tapi belum melihat, Feri ataupun wanita yang biasa dilihatnya itu.


"Kemana dia?" gumam, Tari.


Tari masih setia menunggu di tempat itu berharap hari itu dia bisa melihat putranya dalam keadaan baik-baik saja.


Waktu terus berjalan dan hari mulai berganti sore, namun dirinya belum mendapatkan tanda-tanda putranya itu akan pulang ke rumahnya.


Karena merasa putranya itu tidak akan pulang ke rumahnya, akhirnya, Tari meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedih dan khawatir. Dua khawatir terjadi apa-apa terhadap putranya tapi dia tak bisa berbuat apa-apa selain mendoakannya.


*******


"Mudur kalian! Jangan coba-coba mendekat atau, Indah akan aku habisi," ucap salah satu dari preman itu sembari menodongkan pisau tepat di bagian leher, Indah.


"Jangan. Jangan sakit dia," ucap, Feri.


Rendi dan Feri tidak bisa melakukan apapun karena preman itu mengancam akan mencelakai, Indah.


"Tinggalkan kami di sini," ucap preman itu lagi.


"T_tapi."


"Tolong," lirih, Indah.


Indah terus saja menangis, dia takut preman itu membawanya ke tempat laki-laki bejat itu.


"Kalian siapa dan mau apa? Tadi saya dengar kalian minta uang pada, Bu Vina." ucap Rendi.


"Bukan urusan kamu."


"Itu urusannya juga karena dia adalah calon suaminya, Indah," sambung, Feri.


Preman itu masih menodongkan pisaunya pada, Indah.


"Indah sudah dijual oleh, Bu Vina kepada bos kami jika kalian mau, Indah kembali kalian harus membayar dengan harga empat ratus juta."


Feri dan Rendi saling tatap lalu kembali menatap ke arah preman itu.


"Kalian tidak mau mengganti uang itu. Indah akan kami bawa."


Preman itu mengarahkan, Indah untuk masuk ke dalam mobilnya!


"Jangan. Saya akan memberikan kalian uang itu. Tolong lepaskan, Indah," ucap Rendi.


Preman itu menatap, Rendi dengan tatapan tak percaya.


"Sekarang saya tidak punya uang cash, tapi saya ada cek. Kalian tunggu sebentar."


Rendi berjalan menuju mobilnya dan mengambil cek kosong dan pulpen.


"Berapa yang kalian minta?" tanya Rendi.


"Empat ratus juta."


Rendi seger menuliskan senilai yang preman itu sebutkan tak lupa dia menandatangani cek itu.


"Ini, ambillah dan serahkan, Indah padaku," ucap Rendi.


Feri menyambut, Indah sebelum, Rendi memberikan cek itu kepada preman itu.


Setelah menukar, Indah dengan uang yang mereka minta akhirnya, dua preman itu pergi meninggalkan mereka!


Indah memeluk, Feri dengan sangat erat! Air matanya terus mengalir hingga membasahi kemeja yang dikenakan oleh, Feri sementara, Rendi hanya berdiri mematung sembari menatap pemandangan di depannya, dirinya ikut bahagia melihat, Indah bahagia dalam pelukan laki-laki yang dianggap sebagai kakaknya, Indah itu.


Setelah beberapa lama, Indah mulai tenang dia melepaskan pelukannya dan berterimakasih kepada dua laki-laki yang sudah menolongnya itu.


"Aa terimakasih ya, sudah menolong aku," ucap, Indah pada, Feri.


Feri tersenyum lalu mengangguk perlahan.


Indah menatap, Rendi lalu menghampiri laki-laki yang akan menikah dengannya karena perjodohan!


"Terimakasih ya, kamu sudah mengorbankan tenaga dan uangmu hanya demi aku," ucap Indah kepada, Rendi.


"Jangan berterimakasih, aku tidak menerima ucapan terimakasih dari orang yang aku cintai," ucap Rendi..


Rendi meraih kedua belah pipi, Indah lalu menghapus air matanya dengan ibu jarinya.


Indah menegang tangan, Rendi lalu melingkarkan tangan itu ke pinggangnya dan mereka pun berpelukan!


Untuk pertama kalinya, Indah memeluk laki-laki itu, laki-laki yang selalu mengganggunya saat dirinya sedang sendirian di rumah.


Rendi terpaku mendapat perlakuan seperti itu dari, Indah. Selama ini dirinya selalu meminta pelukan itu dari, Indah namun gadis itu tak pernah memberikannya.


Ini kali pertama, Rendi mendapatkan pelukan dari gadis yang membuatnya mabuk cinta.


Feri tersenyum bahagia. Dalam pikirannya mungkin saat ini adalah awal dari hubungan mereka yang sesungguhnya.


Mereka pun pulang ke rumah,Vina bersama-sama!


Bersambung


Gak ada bosan-bosannya aku membawakan rekomendasi novel yang menarik untuk kalian baca.


Kali ini aku membawakan novel berjudul dibawah ini.


Judul: Tetanggaku Mantanku.


Karya: Santi Suki


Cuss lah kepoin karya teman aku ini!