Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 66


Hati ini, Indah sedang terbaring sakit, ia merasa pusing dan badannya juga lemas.


"Indah, kita ke dokter aja yuk!" ucap Rendi yang sedari tadi duduk di samping istrinya.


"Aku, gak apa-apa kok, Mas," saut Indah.


"Gak apa-apa kok, sampai kayak gini," ketus Rendi.


Tok!


Tok!


Tok!


Sari mengetuk pintu kamar Indah dan Rendi.


"Boleh ibu, masuk?" tanyanya dari depan pintu kamar.


"Iya, Bu. Masuk aja, pintunya gak di kunci, kok," sahut Rendi dari dalam kamar.


Sari segera masuk ke kamar mereka sambil membawakan sarapan untuk Indah!


Mendengar, Indah sakit, Sari langsung ke rumah, Firman untuk mengurus putrinya itu.


"Indah, sarapan dulu ya, Nak. Ini Ibu bawakan bubur buat kamu," ucap Sari.


"Rendi, Ibu juga udah siapin sarapan buat kamu di meja makan. Kamu sarapan sendiri aja ya, soalnya, Papamu sudah pergi dari pagi," sambung Sari.


"Rendi, sarapan nanti aja, bu. Setelah Indah makan buburnya," sahut Rendi.


"Ya sudah. Indah, makan dulu ya, Nak!" ucap Sari sembari menyendok bubur itu.


"Ueeek! ueek!" Tiba-tiba Indah merasa mual saat mencium bau bubur itu.


"Indah, gak mau makan, Bu. Buburnya bau," lirih Indah.


"Bau? padahal bubur buatan ibu rasanya selalu enak," ucap Rendi.


"Iya, biasanya kamu suka bubur buatan Ibu," ucap Sari.


"Tapi sekarang, aku gak mau, Bu."


"Yaudah, kamu maunya apa?" tanya Sari.


"Makan nasi tapi pakai kopi untuk kuahnya," sahut Indah.


"Apa!" ucap Sari dan Rendi berbarengan.


"Tapi, Indah. Jadi gimana rasanya nanti," ucap Rendi.


Sari tersenyum kecil, "mungkin, Indah lagi ngidam," ucap Sari dalam hatinya.


"Iya boleh, sebentar ya, Ibu ambilin!" ucap Sari sembari pergi untuk mengambil nasi dengan kuah kopi.


"Dasar aneh," ketus Rendi.


"Biarin," sahut Indah.


Tak lama Sari datang dengan membawa nasi kuah kopi permintaan Indah.


Sari segera menyuapi putrinya yang sedang sakit itu!


"Enak, bu." Indah makan dengan lahapnya. Rendi mengernyitkan dahi melihat dan membayangkan rasa nasi yang sedang dimakan istrinya.


"Mas, kamu harus coba, ini enak tahu," ucap Indah pada Rendi.


"Ogah!" ketus Rendi.


"Mas, kamu harus makan," rengek Indah.


Karena Indah sudah tak mau makan lagi, Sari pergi meninggalkan anak dan menantunya itu!


"Gak mau, Indah," ucap Rendi.


Karena Rendi tak mau menurutinya Indah marah pada suaminya itu lalu menangis.


"Indah, kami kok malah nangis. Jangan nangis dong," ucap, Rendi sembari menghapus air mata, Indah.


*******


Di kantor.


"Om, Rendi gak masuk kantor ya?" tanya, Feri pada Firman.


"Sepertinya tidak, Indah lagi sakit jadi dia mau ngurusin, Indah dulu," jelas, Firman.


"Indah, sakit? Sejak kapan, udah dibawa ke rumah sakit belum?"


"Belum. Nanti siang baru akan dibawa ke rumah sakit."


"Semoga dia baik-baik saja. Kalau gitu aku balik kerja lagi ya, Om." Feri mulai melangkahkan kakinya hendak pergi dari ruangan pribadinya, Firman.


"Fer, tunggu dulu," ucap, Firman.


"Iya, ada apa, Om?"


"Feri, apa kamu bisa manggil saya dengan sebutan Papa? Papa sudah lama mencari kamu, Nak."


Feri tersenyum lalu meraih tangan, Firman.


*******


"Indah, kamu masih marah?" tanya, Rendi.


"Nggak!" ketus Indah.


"Kamu kan lagi sakit, jangan marah ya. Please."


"Aku, udah sembuh kok," ucap Indah.


"Kalau udah sembuh, nanti malam aku mau ...," Rendi menggantung ucapannya.


"Gak boleh, titik," sahut, Indah.


"Emang, kamu tahu, aku mau apa?"


"Nggak. Pokoknya kamu gak boleh minta apa-apa."


"Kamu jahat banget sama suami," ucap, Rendi.


Waktu berlalu begitu cepat kini matahari mulai berganti dengan bulan. Firman baru tiba di rumah! karena merasa lapar ia langsung ke meja makan untuk makan malam.


Di meja makan, Firman melihat sebuah pelastik yang berisikan alat tes kehamilan.


"Sari, ini buat siapa?" tanya Firman sembari memegang alat itu.


"Itu, buat Indah, Mas. Aku baru beli tadi sore, biar Indah gunakan alat itu besok pagi," sahut Sari.


"Semoga berhasil ya. Aku pengen cepet punya cucu," ucap Firman.


"Iya, mas. Aku juga berharap seperti itu," sahut Sari.


Tiba-tiba Rendi muncul dari belakang Firman lalu duduk di kursi yang ada di sebelah Papanya itu!


"Rendi, Indah mana?" tanya Firman.


"Indah, di kamar, Pa. Papa baru dateng ya?"


"Iya. Kok Indah gak ke sini? kitakan mau makan malam," ucap Firman lagi.


"Iya, emang kamu gak ajak dia?" sambung Sari.


"Aku, udah ajak Indah untuk makan, tapi dianya gak mau. Tahu tuh Indah kenapa, dari tadi uring-uringan mulu, minta yang aneh-aneh lagi," sahut Rendi.


Firman dan Sari saling memandang dan saling melempar senyuman.


Akhirnya mereka makan malam bersama tanpa Indah.


_____ ______


Di kamar, Rendi tidur membelakangi Indah! ia kesal karena seharian ini Indah membuatnya lelah hingga ia tak bisa ke kantor untuk mengurus kerjaannya.


Sementara Indah bersikap bodo amat terhadap suaminya itu. Indah berbaring di belakang Rendi, sama sekali ia tak merasa bersalah pada Rendi setelah seharian ia membuat suaminya kesal.


Mereka tidur tanpa ada kata apapun yang terucap.


Baru azan subuh Sari sudah mengetuk pintu kamar Rendi dan Indah, bukan apa-apa ia tahu anaknya selalu bangun subuh untuk shalat, jadi ia tak mau urine pertama Indah hari ini terbuang sia-sia.


"Ibu, ada apa, masih subuh udah ngetuk-ngetuk pintu?" ucap Indah setelah membuka pintu kamarnya.


"Kamu baru bangun kan? sekarang kamu ke kamar mandi, terus gunakan alat ini ya!" ucap Sari sambil memberikan alat tes kehamilan.


Karena takut ketinggalan waktu subuh, Indah tak berkomentar apapun, ia segera menerima alat itu lalu menggunakannya.


Rendi yang mendengar pembicaraan mertua dan istrinya itu langsung terbangun.


"Masuk aja, bu. Aku udah bangun kok," ucap Rendi yang melihat Sari berdiri di depan pintu kamarnya.


"Maaf ya, nak. Ibu mengganggu kalian." Sari masuk ke kamar Rendi! lalu disusul juga oleh Firman.


15 menit Indah di kamar mandi, kini Indah keluar dari kamar mandi! ia merasa heran kenapa semua orang berkumpul di depan kamar mandi.


"Ini, ada apa? kok pada berdiri disini?" ucap Indah.


Tanpa menjawab pertanyaan Indah, Sari langsung menanyakan alat yang ia berikan pada putrinya itu.


"Indah, coba Ibu liat alat tadi," ucap Sari.


Indah memberikan alat tes kehamilan itu!


Sari segera melihat hasil dari tes urine Indah, raut wajah bahagia terlihat dalam wajah, Sari.


"Alhamdulillah. Selamat ya, nak," ucap Sari setelah melihat tes kehamilan itu bergaris dua.


Rendi bengong melihat tingkah Ayah, Ibu mertua dan istrinya itu terlihat bahagia.


"Ini, ada apa sih?" ucap Rendi dengan polosnya.


"Indah, hamil, Nak. Sebentar lagi kamu akan punya anak," jelas Firman.


"Hamil? ... kamu hamil, Ndah? kok kamu gak bilang-bikang sama aku," ucap Rendi yang merasa sangat bahagia.


"Aku juga gak tahu, kalau aku hamil, mas," Saut Indah.


Rendi memeluk dan mencium istrinya bahkan kehadiran Firman dan Sari ditempat itu, sudah tak dihiraukan lagi olehnya.


Bersambung