
Malam semakin larut. Saat itu, Sari sudah dipindahkan ke ruang rawat, untunglah mereka membawa, Sari ke rumah sakit tepat waktu kalau tidak tidak tahu bagaimana nasib, Sari nantinya.
Indah mulai mengantuk namun dia mencoba untuk tetap terjaga. Dia ingin menunggu, Ibunya sampai dia membuka matanya.
Kondisi, Sari sangat lemah sehingga walaupun dia sudah tersadar dari pingsannya, dia belum bisa berinteraksi dengan orang disekitarnya meski hanya mengobrol saja.
"Indah, kalau ngantuk tidurlah. Jangan dipaksain untuk tetap terjaga, biar aku dan yang lainnya yang menjaga, Ibumu," ucap Feri.
"Aku ingin menunggu sampai, Ibu terbangun," sahut, Indah.
"Sekarangkan waktunya tidur, Ibumu pasti bangun besok pagi. Kamu tidur ya," sambung, Firman.
"Sayang, kamu tidur di sini saja, dipangkuan aku," ucap Rendi.
Indah menggelengkan kepalanya dia menolak tawaran sang suami selain karena dirinya malu dirinya juga kukuh ingin tetap menunggu wanita yang selama ini dia kira sudah meninggal.
Rendi berjalan menghampiri, Indah yang sedang duduk di kursi yang ada di samping, Ibunya berbaring! "Kamu tuh ya, nanti kalau kamu sakit gimana?"
"Aku kuat kok, Mas. InsyaAllah aku kuat."
"Ya sudah, Rendi kalau gitu, Papa sama Feri tunggu di luar ya. Kalau ada apa-apa, cepat kasih tahu kami," ucap, Firman.
"Iya, Pa."
Firman segera keluar dari ruangan itu disusul dengan Feri di belakangnya!
"Bos, gue di luar ya. Tolong jagain adik dan Ibu gue," ucap, Feri sebelum akhirnya dia benar-benar keluar dari ruangan itu.
*******
Seorang laki-laki yang ditugaskan untuk menjaga, Sari agar dia tidak bisa kabur itu baru tiba di gubuk tua itu.
Dia berjalan memasuki gubug itu untuk mencari, Sari namun setelah memasuki semua ruangan dia tak menemukan keberadaan, Sari.
"Dimana wanita itu? Tidak mungkin jam segini dia di kebun," gumam laki-laki itu.
"Apa mungkin dia dimakan hewan buas," sambungnya.
Mendapati keadaan gubuk itu dalam keadaan gelap dengan pintunya yang terbuka, laki-laki itu mengira bahwa, Sari hilang karena dimangsa oleh hewan buas yang juga menghuni hutan itu.
Saat itu, laki-laki itu masih tenang meski tahu bahwa, Sari tidak ada ditempatnya. Dia malah tidur didalam gubuk itu, untuk melindunginya dari serangan hewan buas dirinya mengunci pintu gubuk itu terlebih dahulu sebelum dirinya tidur.
Laki-laki itu memang tidak tahu, kemana dan dengan siapa perginya, Sari. Tadi siang dia habis pulang ke rumahnya untuk menemui keluarganya.
Merasa, aman meninggalkan, Sari sendiri, laki-laki itu memang sering tidak ada di tempatnya, dia lebih sering berada di rumahnya untuk berkumpul bersama anak dan istrinya.
Sebenarnya, Vina menempatkan beberapa orang untuk menjaga, Sari di hutan itu, seiring berjalannya waktu, Sari sudah mulai terbiasa hidup sendiri dia tak pernah lagi berusaha kabur dari hutan itu. Karena itulah beberapa orang itu tidak terlalu menomor satu kan pekerjaannya.
Waktu terus berjalan, kini malam mulai berganti pagi. Matahari mulai menampakkan sinarnya menyinari dunia.
Di rumah sakit.
Indah tertidur di kursi itu dengan posisi duduk dengan kepalanya yang ia sandarkan di tempat tidur, Sari.
Rendi mengerjakan matanya dan mulai membuka matanya. Dia melihat istrinya yang masih tidur, dia tak berani membangunkan, Indah karena disaat tahu saat itu, Indah sangatlah kelelahan.
Rendi hanya menatap sang istri dengan tatapan sendu, dia ikut merasakan sedih yang dirasakan oleh istrinya itu meski dia tak mengalami kejadian seperti yang, Indah alami.
Tak lama, Rendi melihat pergerakan dari tangan, Sari dan perlahan wanita itu juga membuka matanya.
Rendi segera mendekat dan meraih tangan itu!
"Ibu sudah bangun," ucap, Rendi.
"Siapa kamu?" tanya, Sari dengan suara lirih.
Indah terbangun karena mendengar ada orang yang sedang berbicara.
"Ibu," ucap, Indah setelah tahu bahwa Ibunya sudah terbangun.
"Indah, anak Ibu." sari menggapai pipi, Indah dan mengusapnya dengan ibu jarinya.
Indah meraih tangan wanita yang selama ini dia kira sudah meninggal itu dan menggenggamnya dengan erat.
Firman masuk ke dalam ruangan itu!
"Sari, kamu sudah bangun." Firman berjalan menghampiri, Sari yang kini kondisinya mulai membaik setelah semalaman dirawat.
"Mas. Tolong bawa putriku pergi dari sini, tolong cepatlah aku tidak mau dia kenapa-kenapa. Mereka akan mencari ku dan jika mereka tahu aku bertemu dengan, Indah mereka akan menyakiti, Indah. Mereka akan menyakiti putriku," ucap, Sari.
Sari menangis histeris sembari terus meminta agar, Firman membawa, Indah pergi dari tempat itu.
"Sabar, Sari. Tenanglah, siapa yang akan menyakiti, Indah. Siapa yang kamu maksud 'mereka' itu?" tanya, Firman sembari berusaha menenangkan, Sari.
Feri menatap, Sari dengan tatapan penuh arti. Pemuda itu memang selalu cepat tangkap dalam mencerna setiap perkataan yang dia dengar dari orang disekitarnya.
"Sudah pasti ada yang melakukan kejahatan pada keluarga, Indah. Tapi siapa," ucap, Feri didalam hatinya.
Feri berjalan menghampiri, Sari yang terlihat sangat ketakutan meski saat itu dia dipeluk oleh, Indah.
Feri memeluk, Sari dengan penuh kasih sayang.
"Bu, tenanglah. Di sini ada anak-anakmu yang siap melindungi, Ibu dan Indah dari siapapun dan apapun yang bisa membuat kalian terluka. Aku disini untuk kalian," ucap, Feri.
Sari memberontak, dia berusaha melepaskan pelukan, Feri!
"Anak? Tidak. Kamu pasti anak dari perempuan itu. Pergi! Pergi kamu! Pergi dari sini!" Sari semakin histeris saat, Feri mengatakan bahwa dirinya adalah anaknya, Sari.
"Bu, tenanglah. Bu aku mohon, Ibu tenanglah," ucap, Indah sembari terus menangis.
Saat ini, Sari masih trauma dengan apa yang dialaminya dulu. Sebaiknya kita jangan melakukan sesuatu yang membuatnya mengingat masa lalunya," ucap, Firman.
"Tapi kita tidak tahu apa yang dialami, Ibu sebelumnya," ucap, Rendi.
"Kalian tolong keluar dulu. Papa mau bicara sama, Ibunya Indah," ucap Firman kepada, Rendi dan Feri.
Rendi dan Feri pun menuruti perkataan, Firman. Mereka segera keluar dari ruangan itu.
*******
Di gubuk tempat, Sari tinggal.
Laki-laki itu baru terbangun dari tidurnya, dia membuka matanya lalu beranjak dari tempat tidurnya. Saat dirinya hendak keluar dari gubuk itu, tak sengaja dia melihat jejak sepatu di lantai gubuk itu.
"Jejak kaki," gumam laki-laki itu. Sedetik kemudian dia teringat dengan, Sari yang tidak ada di gubuk itu.
"Sial, jangan-jangan wanita itu ada yang membawa kabur bukan dimangsa oleh hewan buas." Laki-laki itu segera berlari keluar dari gubuk itu dan mencari, Sari di sekitaran gubuk itu.
"Saya bisa kena amukan, Bu Vina nih kalau tidak berhasil menemukan wanita itu," ucap laki-laki itu.
Dia langsung berlari keluar dari hutan itu untuk memberitahu beberapa temannya yang ditugaskan untuk menjaga, Sari di hutan itu!
*******
Di Jakarta.
Tari sangat khawatir terhadap, Feri yang sampai saat ini masih belum pulang juga padahal sebelum pergi, Feri mengatakan bahwa dia tidak akan menginap di Bogor. Mereka akan pulang meski terlambat.
Tari berjalan bolak-balik di teras rumahnya! Dia tidak bisa duduk tenang sebelum, Feri pulang.
"Ya Allah. Dimana anakku? Kenapa dia belum pulang juga," gumam, Tari.
Tari sudah mencoba menelpon, Feri namun nomor ponselnya tidak aktif dia juga sudah menelpon, Firman namun nomor ponselnya juga tidak bisa dihubungi.
Tari semakin khawatir karena, Feri dan Firman sama sekali tidak bisa dihubungi.
Bersambung
Teman-teman aku bawain rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca. Yuk kepoin keseruannya!
Judul: Terpaut 20 tahun
Karya: Ria Aisyah