Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 49


Sudah hampir seharian penuh, Feri berada di dalam kamarnya. Tak ada tanda-tanda dia akan keluar dari kamarnya itu, Tari sudah menunggunya sejak tadi namun sepertinya putranya itu masih tidak ingin ditemui.


"Ya Allah, Feri. Kamu belum makan dari siang tadi," gumam, Tari.


Tari mulai khawatir terhadap putranya itu. Dirinya sudah mengetuk pintu kamar, Feri namun tak ada jawaban dari putranya itu.


Saat ini waktu menunjukkan pukul lima belas lewat dua puluh lima menit, Tari masih setia menunggu putranya keluar dari kamarnya.


Di dalam kamar, Feri.


Feri hanya duduk di tepi ranjang. Tak ada sesuatu apa pun yang dia lakukan di kamarnya, sebenarnya dirinya merasa bosan karena seharian hanya berdiam diri di dalam kamarnya tapi dirinya malas untuk keluar dari kamarnya karena takut akan menimbulkan percekcokan antara dirinya dengan, Mamanya.


"Maafkan aku, Ma. Bukannya aku tidak ingin membuat, Mama bahagia tapi aku melihat, Rendi sepertinya tidak menerima kita di keluarganya," ucap, Feri didalam hatinya.


Feri berjalan dan melihat pemandangan di luar kamarnya dari jendela! Betapa dia merasa sedang berada di dalam penjara saat itu.


Tok!


Tok!


Tok!


Suara seseorang mengetuk pintu kamar, Feri dari luar.


Feri menatap pintu kamarnya yang dia kunci dari dalam. Sudah pasti orang yang mengetuk pintu itu adalah, Tari.


Dengan rasa ragu, Feri membuka pintu itu dan dia langsung melihat, Tari yang sedang menangis.


"Mama ... Mama kenapa? Kok nangis gini?" Feri terkejut saat melihat, Tari yang sedang menangis didepan pintu kamarnya.


Grep!


Tari langsung memeluk, Feri dengan erat!


"Kamu jangan marah sama, Mama. Mama gak bisa kalau kamu seperti ini," ucap, Tari.


"Mama, aku gak marah sama, Mama. Kenapa, Mama berpikir seperti itu."


"Kamu kenapa gak keluar-keluar dari kamar. Mama tahu kalau kamu marah kan."


Feri mengajak, Tari masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya itu!


"Ma, aku gak marah sama, Mama. Aku hanya kecewa kenapa, Papa kandung aku harus, Om Firman."


Tari tak berucap lagi. Pandangannya terus tertuju kepada wajah sang putra.


*******


Rendi baru saja tiba di rumahnya, dia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang terlihat lemah.


"Rendi, kamu sepertinya lelah sekali, Nak," ucap, Sari.


Rendi berjalan menghampiri, Ibu mertuanya itu lalu mencium punggung tangannya!


"Aku merasa sedikit tidak enak badan, Bu," ucap, Rendi.


"Istirahatlah, Nak. Ibu akan panggilkan, Indah di dapur ya." Sari langsung bejalan menuju dapur untuk memanggil, Indah.


Rendi segera melanjutkan langkahnya ke kamarnya tanpa mengucapkan sesuatu apapun terhadap, Sari!


"Suamimu sudah pulang. Dia bilang dia sedang tidak enak badan, cepat urusi dia." Sari mengambil alih pekerjaan yang sedang, Indah kerjakan.


Indah pun langsung pergi untuk menemui suaminya di dalam kamarnya!


Di ruang keluarga.


Firman sedang menonton televisi tapi pikirannya melayang entah kemana. Pandangannya kosong nampak tak memperhatikan siaran televisi yang sedang tayang saat itu.


"Mas, aku lihat dari tadi kamu melamun terus. Ada apa? Cerita sama aku, siapa tahu aku bisa bantu," ucap, Sari yang sedari tadi memperhatikan, Firman.


"Kalau capek istirahat, Mas jangan dipaksain terus bekerja nanti kamu sakit lagi."


"Aku memang sudah lama tidak ke kantor, Sar. Tadi aku ke kantor dan mengerjakan pekerjaannya, Feri karena tadi dia tidak masuk kantor," jelas, Firman.


"Mas, Feri itu siapa sih? Dia bukan anak kamu bukan anaknya, Mas Ridwan juga tapi dia mengaku sebagai kakaknya, Indah dan juga dia dekat banget sama keluarga kamu?"


"Dia itu anak angkatnya, Ridwan makanya dia mengaku sebagai kakaknya Indah. Tentang dia yang dekat dengan kami, itu karena dia temannya, sekaligus asisten pribadinya, Surya," jelas, Firman.


"Oh, gitu. Kalau gitu aku harus minta maaf sama dia karena sudah menyangka yang tidak-tidak terhadap dia."


*******


Di kampung.


"Vira, sini kamu! Ibu mau bicara sesuatu sama kamu." Vina melambaikan tangannya pada, Vira lalu menepuk-nepuk kursi di sampingnya.


"Iya, Bu ada apa?" Vira pun melangkahkan kakinya menghampiri sang Ibu!


"Vira, dulu Ibu pernah melakukan kejahatan kepada seseorang," ucap, Vina.


"Kejahatan apa, Bu? Bukannya, Ibu selalu melakukan kejahatan terhadap, Indah."


"Dengar, Vira. Untuk masuk ke dalam kehidupannya Ayah Ridwan, Ibu harus menyingkirkan, Ibu kandungnya, Indah."


"Kenapa, Ibu bicara tentang ini padaku? Toh kalaupun aku tahu aku tidak akan menjebloskan, Ibu ke penjara," ucap, Vira dengan santainya.


"Iya, Ibu tahu itu. Gak mungkin kamu membiarkan, Ibumu ini di penjara, masalahnya, Ibu kandungnya, Indah itu sekarang kabur dari tempat penahanannya dan kemungkinan, Ibu akan diburu polisi karena pastinya dia melaporkan kejahatan, Ibu padanya," jelas, Vina dengan raut wajahnya yang terlihat ketakutan.


"Apa! Jadi, Ibu kandungnya, Indah masih hidup?"


"Iya, dia masih hidup tapi sekarang, Ibu tidak tahu dia di mana. Orang-orang yang, Ibu tugaskan untuk mencari wanita itu tidak satu pun dari mereka yang menemukan, Sari."


"Gawat ini, Bu kita harus cepat menemukan dia sebelum dia lapor polisi."


"Sekarang kamu bantu, Ibu untuk mencari cara gimana kita bisa menemukan, Ibunya, Indah."


*******


"Mas, dari tadi aku lihat kamu seperti tidak bersemangat gitu. Kenapa sih, Mas? Kamu mau kau pijat?" tanya, Indah kepada, Rendi.


"Tidak perlu, Ndah. Aku sudah mengantuk, aku tidur duluan ya." Rendi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menutup tubuhnya dengan selimut.


"Oh, ya udah kamu istirahat ya." Indah mengusap pipi sang suami dengan lembut lalu mencium keningnya.


Rendi tidak ingin memberitahu tentang, Feri pada istrinya itu karena saat ini dia masih tidak percaya dengan semua kenyataan dalam hidupnya.


Dirinya merasa kecewa saat tahu bahwa, Papanya memiliki anak dari wanita lain dan dirinya menjadi semakin kecewa saat tahu bahwa, Feri lah anak yang dimaksud oleh, Papanya itu.


Indah terus menatap wajah sang suami meski matanya sudah tertutup sempurna.


"Ada apa, Mas? Apa yang kamu sembunyikan dariku? Aku tahu kamu sedang ada masalah tapi kenapa kamu tidak mau membagi masalahmu dengan aku," ucap, Indah didalam hatinya.


Indah terus menatap sang suami sambil terus bertanya-tanya didalam hatinya pada dirinya sendiri.


Setelah puas memandang, Indah berbaring di samping sang suami lalu perlahan dia menutup matanya dan menyusul, Rendi ke alam bawah sadarnya. Indah pun mulai terlelap.


Bersambung


Hai teman-teman, seperti biasa aku bawain rekomendasi novel yang bagus yang bisa kalian baca setelah membaca Gadis Bogor ini.


Yuk ah kepoin keseruan ceritanya di judul dan cover di bawah ini.


Judul: Hasrat Tuan Kesepian


Karya: Reni.t