Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 27


Setibanya di rumah, Vina langsung berhamburan memeluk dan mencium, Indah tak lupa air mata kebahagiaan terlihat mengalir membasahi pipi wanita itu.


"Tiara, Syukurlah kamu bisa diselamatkan oleh mereka," ucap, Vina.


Vina memeluk, Indah lalu mencium keningnya. Indah hanya berdiri mematung, dia sama sekali tak merespon setiap perlakuan, Vina kepadanya.


"Apa yang, Ibu ceritakan tentang aku kepada, Om Firman?" tanya, Indah didalam hatinya.


"Kal ...." Baru, Rendi akan berbicara kepada, Vina namun, Feri mencegahnya.


Feri menatap, Rendi tanpa kata lalu menggelengkan kepalanya.


"Syukurlah, kamu selamat dan bisa kembali, Nak," ucap Firman.


"Aku harap, Papa tidak kenapa-kenapa dan tidak merasakan sakit dimana pun juga."


"Papa tidak kenapa-napa, Surya."


"Kalau gitu bersiap-siaplah. Kita akan pulang hari ini juga."


"Apa, pulang? Tidak boleh, Papa kamu baru saja dipukul di bagian punggungnya dan, Indah juga perlu beristirahat lihatlah ada banyak luka memar dan luka berdarah di sekujur tubuhnya. Indah harus diobati dan, Papamu juga masih perlu istirahat, Surya," ucap, Vina.


"Aku rasa tidak perlu, Tante. Calon istriku akan aku bawa ke rumah sakit saja, biar dokter terbaik yang mengobatinya," sahut, Rendi.


"Itu, ide bagus. Indah harus mendapatkan pengobatan dari dokter yang terbaik," ucap, Feri.


"Bu tolong jangan halangi kami untuk pulang," sambung, Feri sembari menata, Vina.


"Kalian gak lihat apa, adikku ini mendapatkan banyak sekali luka. Entah apa yang dilakukan preman itu padanya, Indah ayo kita obati lukamu." Vira meraih tangan, Indah dan perlahan menariknya membawanya ke dapur!


Feri meraih tangan, Indah yang satunya lalu mengikuti kemana langkah, Vira membawa, Indah!


"Surya, kenapa mendadak kamu mengajak pulang. Hari sudah mulai gelap," ucap, Firman.


"Iya, Surya pulangnya besok saja lagi pula kasihan, Tiara. Dia butuh istirahat, Tante lihat dia begitu syok dengan kejadian hari ini," sambung, Vina.


"Oke. Besok, jam enam pagi, Papa harus sudah siap untuk pulang," ucap, Rendi kepada, Firman.


"Tante, kami akan pulang besok," sambung, Rendi kepada, Vina.


Vina tersenyum lalu mengangguk pelan.


Rendi segera menyusul, Indah ke dapur!


Indah merintih kesakitan saat, Vira mengobati luka berdarah yang terdapat pada sudut bibirnya.


Gadis itu sengaja menekan luka, Indah dengan sedikit keras. Entah kenapa dia sangat suka melihat adik tirinya itu tersiksa.


Feri membersihkan luka yang ada pada tangan, Indah tanpa memperhatikan, Vira yang ternyata menyiksa gadis yang dia anggap sebagai adik kandungnya itu.


Rendi terus memperhatikan mereka bertiga terutama, Vira. Tatapan, Rendi terus tertuju kepada gadis itu sampai dia merasa geram karena, Vira terus melakukan penyiksaan dengan menekan-nekan luka yang terdapat pada wajah, Indah sehingga membuat, Indah kesakitan.


Meski begitu, Indah tak memperlihatkan rasa sakitnya, dia hanya memejamkan matanya dengan mulut yang tertutup rapat, air mata jelas terlihat mengalir di pipinya.


Rendi berjalan menghampiri mereka bertiga lalu tanpa basa-basi meraih kain kasa itu dari tangan, Vira!


"Biar aku yang mengobati lukanya," ucap Rendi.


"Surya, aku sedang mengobati, Indah. Biarkan aku yang melakukannya," sahut, Vira yang terkejut dengan perlakuan, Rendi yang tiba-tiba.


Indah dan Feri hanya terdiam sembari menatap, Rendi yang berdiri didepan, Vira.


*******


Di hutan yang sangat jauh dari pemukim warga.


Sari terbaring di atas ranjang yang hanya beralaskan tikar yang sudah usang dimakan usia. Dia menggenggam sebuah liontin yang didalamnya ada foto, Indah yang kala itu masih berusia dua setengah bulan dan di sebelahnya ada foto dirinya yang sedang dipeluk dari belakang oleh sang suami.


Perlahan dia menatap foto yang ada di dalam liontin itu, tak terasa air mata mengalir begitu saja. Betapa dia sangat merindukan mereka namun dia tak bisa menemui mereka karena saat dirinya akan keluar dari hutan itu beberapa laki-laki yang tidak dia kenal selalu menghalangi jalannya seakan mereka tak membiarkan dirinya pergi dari hutan yang sudah puluhan tahun dia tinggali.


"Kalian sedang apa? Apa kalian baik-baik saja?" gumam, Sari.


Sari menatap fotonya bersama suaminya.


"Mas, aku harap kamu menjaga anak kita dengan baik ya. Aku harap kamu tidak membiarkan anak kita kesulitan meskipun hanya sedikit," ucapnya pada foto itu.


Setiap hari, Sari hanya bisa mengobrol dengan foto itu di tempat itu tidak ada satu orang pun yang menemaninya.


Sari memendam rindu pada suami dan anaknya selama bertahun-tahun. Dia semangat bertahan hidup karena dia yakin bahwa suatu saat dirinya akan berkumpul bersama keluarganya seperti dulu lagi dan mereka akan menjalani hari-hari dengan penuh kebahagiaan.


*******


Di kota.


Tari mendatangi panti asuhan untuk menemui, Salma. Biasanya, Feri akan minta izin kepada, Salma setiap dia akan pergi kemanapun. Karena itulah, Tari ingin menanyakan kemanakah, Feri pergi.


"Tari, kenapa kamu ke sini malam-malam gini," tanya, Salma.


Tari tak menjawab pertanyaan, Salma dia hanya berdiri di depan wanita itu.


"Masuklah," ucap, Salma.


Tari melangkahkan kakinya memasuki rumah itu, rumah tempat putranya dibesarkan!


"Salma, kamu tahu kemana perginya anakku?"


"Feri tidak ada di rumah?"


"Ya, sudah dua hari aku datang ke tempat biasa aku melihat, Feri tapi aku tidak melihat putraku itu. Selama dua hari, Feri tidak ada di rumahnya dan tidak ada aktivitas di dalam rumahnya."


Salma tidak langsung berucap, dia terlihat memikirkan sesuatu.


"Salma, apa kamu tahu kemana perginya putraku?" tanya, Tari lagi karena, Salma tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Aku tidak tahu. Sudah satu minggu ini dia tidak datang ke sini, aku juga tidak tahu kenapa dia tidak ke sini."


"Apa dia pernah cerita sesuatu? Misalnya tentang siapa gadis yang tinggal di rumahnya dan dari mana asal gadis itu?"


"Tidak. Dia tidak pernah cerita apa pun."


Tari dan Salma terdiam mereka sama-sama memikirkan kemana perginya anak yang sama-sama mereka sayangi.


*******


Semua orang di rumah itu sudah tertidur hanya, Feri saja yang masih membuka matanya. Dia berjalan menuju ruang tamu dan duduk di kursi itu!


Feri tak bisa berhenti memikirkan tentang apa yang terjadi pada, Indah setelah Ayahnya meninggal.


"Kenapa belum tidur?" tanya, Vira.


Feri menatap, Vira yang tengah berdiri didepannya.


"Kamu sendiri?"


"Aku tidak bisa tidur karena memikirkan masalah, Indah."


"Maslah apa?"


"Kamu tidak tahu, Feri setelah, Ayah meninggal anak itu menjadi besar kepala. Dia sering menghambur-hamburkan uang dan melakukan semua sesuka hatinya."


"Lalu apa masalahmu. Itu uang milik, Ayahnya kan."


Feri berucap dengan wajah datar, dirinya sudah tahu bahwa kebenarannya adalah, Vina dan Vira hanya memanfaatkan, Indah dan Ayahnya saja.


"Kamu tahu siapa mereka. Mereka yang membawa, Indah tadi siang? Mereka adalah rentenir. Mereka datang untuk menagih hutang kepada, Indah karena dia meminjam uang dari mereka tanpa sepengetahuan aku dan Ibu."


Feri tak mengindahkan perkataan, Vira. Dia malah meninggalkan, Vira di tempat itu dan masuk ke dalam kamarnya!


Vira berdecak kesal karena tak dihiraukan oleh, Feri dan malah dirinya ditinggalkan begitu saja.


Bersambung


Hai semuanya selamat pagi menjelang siang, oke kali ini aku bawakan rekomendasi novel yang bagus yang pastinya gak ngebosenin kalau kalian baca novel ini.


yuk mampir ke novel karya temanku! Ceritanya pasti seru loh.


Judul: Anyelir


Author: Hilmiah