Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 28


Hari itu, Indah dan yang lainnya sudah kembali ke Jakarta dan sudah melakukan aktivitas masing-masing.


"Indah, aku berangkat kerja dulu ya. Kamu hati-hati du rumah dan satu lagi kamu jaga kesehatan kamu, jangan sampai dihari pernikahan kamu nanti, kamu sakit," ucap Feri panjang lebar.


"Iya, 'A," sahut, Indah singkat.


"Pelit banget jawabnya," gumam, Feri sembari berjalan keluar dari rumahnya.


Indah hanya diam dan membiarkan, Feri pergi, tangannya terus bergerak membereskan puring kotor bekas mereka sarapan.


"Mbak, Indah sebentar lagi mau menikah ya?" tanya Bodyguard yang mendengar pembicaraan antara, Indah dan Feri.


"InsyaAllah," sahut, Indah.


"Selamat, Mbak kami ikut senang."


"Terimakasih."


Indah memang sudah dekat dengan tiga bodyguard yang ditugaskan oleh, Rendi khusus untuk menjaganya.


"Mbak, gimana kabar, Ibunya, Mbak? Udah sehat kah?"


"Alhamdulillah udah sehat makanya aku udah pulang lagi ke sini."


"Syukurlah kalau udah sehat. Beberapa hari di rumahkan rasanya saya rindu dengan suasana rumah ini."


Indah tersenyum lalu menaruh piring kotor di wastafel tempat mencuci piring.


"Udah mulai siang nih. Ayo atuh pada sarapan dulu," ucap, Indah kepada tiga bodyguard nya.


Tiga bodyguard itu pun mulai sarapan. Mereka menang biasa sarapan setelah, Feri dan Indah selesai sarapan meski, Feri dan Indah selalu mengajak mereka srapan bersama-sama namun mereka selalu menolak karena mereka merasa sungkan jika harus makan bersama dengan majikannya.


*******


"Pa, aku memakai uang empat ratus juta," ucap, Rendi kepada Papanya.


Firman yang sedang mengecek tumpukan berkas di atas meja kerjanya, mengalihkan pandangannya kepada, Rendi.


"Kamu gak salah, memakai uang sebanyak itu?" tanya, Firman.


Firman merasa bingung, uang sebanyak itu dihabiskan untuk apa? Setahunya, setelah pulang dari Bogor, putranya itu tidak berbelanja apa-apa.


"Aku pakai untuk menebus, Indah dari preman-preman itu," ucap, Rendi jujur.


Rendi tak pernah menyembunyikan sesuatu apapun dari, Papanya termasuk uang yang dia keluarkan meski uang itu adalah miliknya, hasil kerja kerasnya.


"Apa? Jadi kamu rela mengorbankan uang sebanyak itu demi gadis itu?"


"Pa, aku sayang sama dia. Aku akan melakukan apapun untuk dia."


"Sepertinya kamu sudah diperbudak kan oleh cinta."


Tok!


Tok!


"Permisi!"


Feri mengetuk pintu ruangan, Firman lalu membuka pintu itu!


Dia menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Boleh aku masuk?" tanyanya.


"Gak usah nanya. Lo udah masuk kan," ucap Rendi.


"Belum. Gue masih di luar ini," ucap, Feri.


"Masuk aja, Fer! Ada apa?" ucap, Firman.


Feri berjalan menghampiri, Firman dan Rendi!


"Ren, aku mau bicara. Sebentar saja," ucap Feri pada, Rendi.


"Bicara apa?"


"Jangan di sini."


"Bicara apa, Fer? Sampai, Om gak boleh tahu," ucap Firman yang masih fokus pada layar laptopnya tapi dia mendengarkan setiap perkataan yang terucap dari, Rendi maupun, Feri.


Feri terdiam dalam seribu bahasa.


"Tentang, Indah?" tanya, Rendi karena, Feri hanya terdiam.


"Iya. Tentang uang yang kemarin. Aku akan mencicil uang itu setiap bulannya, setiap aku habis gajian," ucap, Feri.


Firman yang awalnya hanya bodo amat, kini ikut nimbrung bersama dua laki-laki yang usianya jauh berbeda dengannya.


"Uang apa?" tanya, Firman pura-pura tidak tahu.


"Kemarin saat, Indah diculik, Rendi membayar uang ganti rugi sebesar empat ratus juta pada mereka," jelas, Feri.


"Tapi, Om jangan khawatir. Aku akan mengembalikan uang itu dengan cara dicicil," sambung, Feri lagi.


"Lo apaan sih, Fer? Indah kan calon istri gue, lo gak harus ganti uang itu," ucap Rendi.


"Iya kan baru calon, Ren belum jadi istri."


"Feri, kamu jangan pikirkan tentang uang itu kalau pun, Surya dan Tiara tidak jadi menikah, kami berdua tidak akan meminta uang itu kembali," ucap Firman.


"Tapi, Om aku jadi merasa ngerepotin kalian banget."


"Lo baru nyadar? Lo kan emang suka ngerepotin gue sama, Papa," celetuk Rendi.


"Gue lagi serius ini, malah lo bercanda lagi."


"Jangan suruh aku untuk memikirkan itu, Om karena aku tidak tahu dan tidak mengerti."


*******


Di kampung.


"Vir, kamu merasa aneh gak sih sama anak buahnya, Pak Rudi kok mereka gak kesini-kesini ya?" ucap, Vina.


"Iya, Ma aneh kok mereka gak datang untuk menagih uang mereka," sahut, Vira.


"Pak Rudi juga gak nelponin, Ibu terus."


Vina dan Vira memang tidak tahu bahwa, Rendi sudah mengganti uang rugi pada mereka.


Rendi sengaja tak memberitahu mereka karena merasa tidak penting baginya untuk memberitahu mereka tentang hal itu.


Pihak, Pak Rudi juga tidak ada yang memberitahu tentang hal itu kepada, Vina dan Vira.


"Biarin aja lah, Bu. Kita jadi enak gak dikejar-kejar terus sama mereka dan lagi kalau mereka gak datang-datang lagi ke sini kan lumayan empat ratus juta kita aman," ucap Vira.


Vina dan Vira tertawa bahagia, mereka tidak tahu bahwa, Rendi dan Feri sudah mengetahui tentang kebusukan mereka.


*******


Di rumah, Feri.


"Hai, Indah," ucap Rendi yang membuat, Indah sampai terkejut dengan kedatangannya.


"Kamu ... kamu mau ngapain ke sini?" tanya, Indah.


"Aku kangen."


Indah memutar bola matanya malas dan melangkahkan kakinya menuju dapur!


"Kamu mau kemana?"


"Dapur, mau nyuci piring," ucap, Indah padahal di dapur tidak ada piring kotor.


"Jangan!" Rendi meraih tangan, Indah lalu menahannya agar tidak melanjutkan langkahnya.


"Iih, apa sih?" Indah berusaha melepaskan tangannya dari genggaman, Rendi namun usahanya tak berhasil.


"Ayo kita pergi!" ucap Rendi.


"Kemana?"


"Ke toko perhiasan. Kita disuruh beli cincin pernikahan kita."


"Memangnya aku harus banget ya, Ikut sama kamu?"


"Iya, dong kan aku gak tahu ukuran jari kamu. Gimana nanti kalau kegedean atau kekecilan?"


"Ya udah, aku siap-siap dulu."


"Jangan lama-lama ya."


Satu menit, Indah masih berdiri didepan, Rendi. Dua menit dia masih pada posisi yang sama hingga akhirnya, Indah merasa kesal karena, Rendi tak juga melepaskan tangannya.


"Yakin nih mau tetap begini? Kapan kita perginya?"


Rendi melepaskan tangan, Indah dari genggamannya! Dia nyengir kuda menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.


"Lupa," ucapnya tanpa merasa bersalah.


Indah memanyunkan bibirnya lalu pergi meninggalkan, Rendi!


Rendi tersenyum lalu menegang bibirnya sembari membayangkan sesuatu yang belum pernah dia lakukan.


Tak lama, Indah keluar dari kamarnya dengan sudah mengganti pakaiannya dan juga sudah memoles pipinya dengan bedak.


Indah menjadi terlihat lebih cantik dari sebelumnya meski dia selalu cantik dimata, Rendi.


Rendi terpesona dengan kecantikan, Indah sampai-sampai dia menatap gadis yang berdiri didepannya itu tanpa berkedip satu kali pun.


"Jadi gak perginya? Ngeliatin mulu," ucap, Indah.


"Jadi dong. Kamu cantik, 'Ndah."


"Cantik, karena memang aku perempuan. Gak ada ya perempuan yang ganteng," ketus, Indah.


Rendi tertawa kecil lalu menggandeng tangan, Indah.


"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak, Rendi.


Mereka berdua pun langsung pergi dari rumah itu tak lupa sebelum pergi mereka berpamitan kepada tiga bodyguard nya tak lupa juga, Indah menyuruh mereka makan siang.


Indah memang tak ada bosan-bosannya mengingatkan bahkan menyuruh mereka untuk makan bahkan untuk duduk saja, bodyguard itu harus disuruh oleh, Indah karena kalau tidak disuruh satu hari satu malam pun mereka akan tetap berdiri.


Setelah, Rendi dan Indah pergi, tiga bodyguard itu langsung menutup pintu dan tak lupa mereka menguncinya dari dalam agar orang asing tidak gampang memasuki rumah majikannya itu.


Bersambung


Sambil nunggu, Gadis Bogor up lagi. Mampir yuk ke karya teman aku yang satu ini.


Judul: SAGA Antara Cinta Dan Ego


Karya: Eveliniq


Ceritanya pasti seru dan gak ngebosenin dibacanya. Jangan lupa mampir ya.