
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, Indah terbangun dan tak bisa tidur lagi, ia mencoba memejamkan matanya namun ia tetep tak bisa terlelap. Akhirnya dia keluar dari dalam kamarnya dan menonton televisi di ruang keluarga.
Rendi yang sedang tidur ingin memeluk istrinya, dia meraba-raba tempat istrinya terbaring! tapi setelah meraba-raba ke tempat Indah! Rendi tak menemukan Indah, akhirnya dengan terpaksa Rendi membuka matanya, dia tak menemukan sang istri di sekeliling kamarnya.
"Indah!" ucap Rendi memanggil istrinya, namun tak ada respon dari Indah.
Karena khawatir, Rendi segera keluar dari kamar! untuk mencari Indah.
Indah sedang duduk di kursi ruang keluarga. Untuk menghilangkan rasa jenuh, ia menonton televisi.
Rendi yang mendengar suara tv yang masih menyala, langsung menuju ke ruang keluarga! untuk melihat, siapa yang nonton tv.
"Indah, kamu lagi ngapain?" tanya Rendi, saat melihat, Indah yang sedang menonton.
Indah menengok ke arah suara! "mas, aku ... aku nggak bisa tidur," ucapnya.
"Terus kenapa, nonton di sini? kan di kamar juga ada tv," sahut Rendi.
"Aku takut nanti kamu, terganggu."
Rendi mematikan tv, lalu mengajak Indah untuk ke kamar, bersamanya!
"Ayo, ke kamar!" ucap Rendi.
Indah hanya menurut saja pada suaminya, ia mengekor di belakang Rendi!
"Kamu, kenapa kok sampai ga bisa tidur?" tanya, Rendi sambil terus berjalan.
"Ngga tahu."
"Kok, bisa nggak tahu?"
"Ya, aku nggak tahu, mas."
"Jangan-jangan, kamu pengen dipeluk?" goda Rendi.
"Bukan aku yang mau di peluk tapi kamu yang mau meluk aku."
Rendi membuka pintu kamarnya lalu dia langsung berbaring lagi di atas tempat tidurnya.
"Ngapain masih berdiri di situ? Sini temani aku," ucap, Rendi.
Indah yang awalnya ingin menyalakan televisi mengurungkan niatnya dan menghampiri sang suami yang sedang berbaring di atas tempat tidur!
"Apa?" ucap, Indah dengan gaya manjanya.
Rendi menarik tangan, Indah hingga tubuhnya jatuh di atas tempat tidur itu!
"Aaa! Kamu apa-apaan sih? Mau KDRT ya."
Rendi tak menjawab ucapan, Indah. Dia malah memeluk, Indah dengan sangat erat.
Merasakan kenyamanan dalam pelukan sang suami akhirnya, Indah mulai tertidur lagi.
*******
"Mas, bangun! udah jam berapa ini?" ucap Indah sembari mengusap-usap lengan Rendi.
"Indah, sekarang kan hari libur," ucap Rendi sembari menarik tangan Indah! hingga kini Indah berada di pelukannya.
"Mas, Papa udah nunggu di meja makan, buat sarapan bareng," ucap Indah yang kini menatap wajah, Rendi sembari mengusap pipi sang suami dengan lembut.
"Ya udah, aku mandi dulu. Tapi kamu tunggu aku disini." Rendi pun mulai berjalan memasuki kamar mandi.
10 menit berlalu, kini Rendi sudah selesai dengan urusannya, ia juga sudah berpakaian.
Rendi dan Indah pun segera menuju meja makan! untuk sarapan.
"Pa, maaf nunggu lama," ucap Indah sembari menyendokan nasi untuk mertuanya.
Firman hanya diam lalu tersenyum.
Setelah menyendokan nasi dan lauk untuk mertuanya lalu Indah mengambilkan untuk suaminya setelah itu baru untuknya.
"Terimakasih, sayang," ucap Rendi.
Indah hanya tersenyum, ia merasa malu pada mertuanya.
Firman dan Indah selesai makan lebih dulu, Firman sudah beranjak dari tempat makannya! sementara Indah masih duduk, menemani suaminya sampai Rendi selesai makan.
"Indah, suapi aku dong," ucap Rendi.
"Ih, kamu ini. Malu tahu, cepet abisin makannya," ucap Indah.
"Hhh, punya istri tapi kaya ngga punya istri," Ketus Rendi.
"Maksud, kamu?"
"Aku harap kamu ngerti, tanpa harus di jelasin."
"Rendi, bahasnya nanti aja di kamar," sahut Indah.
Rendi segera menyelesaikan makannya lalu menarik Indah menuju kamar!
"Mas, kamu ini apa-apaan sih!" ucap Indah sembari menarik tangannya yang sedang di cekal oleh Rendi.
Firman hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Setiap hari rumah itu tak pernah sepi karena kelakuan anak dan menantunya itu.
Sampai di kamar Rendi menghempaskan tubuh Indah ke tempat tidur!
"Rendi, kamu kenapa, kamu mau ngapain," ucap Indah yang kini terbaring di tempat tidur.
"Kamu tau 'Ndah, tugas seorang istri itu bukan hanya melayani suaminya di dapur, tapi juga di kamar. Selama ini aku nggak pernah tuh di layani di kamar sama kamu," ucap Rendi sembari menindih Indah.
"Rendi, aku .... "
"Ayo kita bikin cucu buat papa, sekarang," tegas Rendi sembari membelai pipi sang istri.
"A_apa? t_tapi aku ... aku."
"Kamu nggak mau?"
"B_bukan gitu, mas."
Baru Rendi akan memulai tiba-tiba.
Tok!
Tok!
Tok!
"Bos, gue ada perlu sebentar sama lo," ucap Feri dari luar kamar.
Rendi berdecak kesal sembari turun dari atas tubuh sang istri! Lalu dia membuka pintu kamarnya!
"Apa sih, lu. Ganggu aja!" ketus Rendi pada Feri.
"Emang lu, lagi ngapain sih? Sampai segitunya," sahut Feri.
"Ya, gue lagi ... " Rendi menggantung ucapannya, "udahlah jangan dibahas. Lo mau ngapain ke sini, pagi-pagi?"
"Bos, ada yang mau jual lahan tapi di kampung. Gimana kalau kita beli lahan itu buat bangun pabrik," ucap Feri.
"Lo, cek aja dulu tempatnya, cocok atau nggak. Nanti baru kita bicara soal pembayaran."
Indah keluar dari kamar! "ngapain, ngobrol di depan pintu? pamali tahu, ngalangin orang mau lewat aja," ucap Indah.
"Pantesan, lu marah-marah, pas gue ke sini. Ternyata lo lagi, ehmm-ehmm, ya," goda Feri.
"Sok tahu, lu," ketus Rendi.
"Itu buktinya, Indah keluar dari kamar dengan gaya rambut ala angin ribut," celetuk Feri.
"Ish, apa sih. Aa, su'udzon aja," ucap Indah lalu masuk ke kamar lagi untuk merapikan rambutnya!
Feri hanya tersenyum melihat tingkah Indah yang salah tingkah.
Rendi berjalan menuju ruang tamu dengan diikuti oleh, Feri di belakangnya!
"Jadi gimana, Ren? gue harus cek dulu gitu, lokasinya?" tanya, Feri setelah mereka duduk di kursi itu.
"Iyalah," saut Rendi.
Tak lama Indah datang dengan dua minuman di tangannya! lalu ia meletakkan kedua gelas yang berisi teh itu di meja!
"Nih, aku bikinin teh. Silakan di minum."
Indah berjalan menuju dapur setelah meletakkan minuman yang dia bawa di atas meja!
"Ndah, kamu mau kemana? duduk sini!" ucap Feri yang melihat Indah akan pergi dari tempat mereka duduk.
Indah menghentikan langkahnya lalu berbalik badan.
"Nggak ah, kalian kan, mau ngomongin masalah kerjaan. Nanti aku mengganggu lagi," sahut Indah.
"Nggak, sayang. Feri ke sini cuma mau main aja kok, dia kangen sama kamu," ucap Rendi.
"Iya kan, Fer?" tanya, Rendi kepada, Feri.
"Iya, Indah. Sini atuh!" ucap Feri.
Indah kembali, lalu duduk di tengah-tengah mereka berdua!
Mereka mengobrol, bercanda ria di tempat itu.
"Lagi pada ngumpul nih. Mentang-mentang, Papa tua sendiri, sampai nggak ada yang ngajak," ucap Firman.
"Nggak gitu, pa. Tadikan, Papa lagi anteng baca koran," ucap Rendi.
"Om, apa kabar? lama ya kita nggak ketemu," ucap Feri.
Setelah, Rendi menikah, Firman memang jarang ke kantor. Dia sudah menyerahkan semua urusan kantornya kepada, Rendi.
"Yah, gini lah, Fer. Namanya juga udah tua," sahut Firman sembari duduk di kursi!
"Fer, kapan kamu, nikah? sepi ni rumah, gak ada suara anak kecil," sambung, Firman.
"Om, jangan minta cucu sama aku. Akukan belum nikah, kenapa nggak minta cucu sama Rendi?" sahut Feri, "lagian, aku juga pengen punya keponakan," sambungnya sembari menatap, Rendi lalu menatap, Indah.
"Kalian, kok jadi ngomongin itu sih?" ucap Rendi yang merasa tidak suka dengan apa yang dibicarakan oleh, Firman dan Feri.
"Papa, udah tua Surya. Papa pengen gendong cucu dulu sebelum Papa dipanggil oleh yang maha kuasa," ucap Firman.
"Papa, jangan bicara seperti itu. Mungkin kami belum diberikan kepercayaan untuk punya anak," ucap Indah.
"Iya, Pa. Papa sabar aja sebentar lagi ya," sambung, Rendi.
"Sampai kapan?"
"Ya gak tahu. Tadi juga aku baru mau produksi cucu malah digangguin sama, Feri," celetuk, Rendi.
"Lagian produksi gituan pagi-pagi. Malam hari dong biar cepat jadi," timpal, Feri.
Indah merasa malu sendiri mendengar percakapan diantara dua laki-laki itu. Dia memilih pergi dari tempat itu sebelum mereka membicarakan hal yang lebih jauh lagi!
"Ndah kamu mau kemana?" tanya, Rendi karena istrinya itu tiba-tiba pergi.
"Dia malu tuh, gara-gara lo ngomongin produksi bayi," ucap, Feri.
"Lo tuh."
"Lo yang mulai kan."
Bersambung
Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.
Judul: Nikah Dadakan Dengan Musuh
Karya: Ayi
Jangan lupa mampir ke karya ini ya, ceritanya dijamin seru abis.