
Keesokan harinya.
Hari masih gelap karena baru saja azan subuh tapi, Indah sudah sibuk dengan segudang pekerjaan rumah.
Setelah selesai curhat dengan Tuhannya, dia langsung menyapa segudang pekerjaan di dapur. Mulai dari nyuci pakaian, nyuci piring dan lain-lain.
Di rumah mewah itu memang tidak ada pembantu karena biasanya pekerjaan rumah dikerjakan oleh, Indah.
"Indah, ini masih pagi banget. Kamu jangan dulu bekerja seperti ini," ucap Feri.
Feri sengaja keluar dari kamarnya karena dia ingin memantau apakah, Vina dan Vira menyakiti, Indah atau tidak. Namun setibanya di ruang tamu, dia mendapati, Indah yang sudah selesai menyapu dan akan mulai mengepel lantai.
"Gak apa-apa, 'A lagian aku udah biasa mengerjakan ini semua," sahut, Indah.
"Tapi rumah ini sangat luas kamu gak akan kuat mengerjakan semuanya sampai selesai sendirian."
"Siapa bilang? Sejak, Ayah meninggal aku yang setiap hari membersihkan rumah ini dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya," ucap, Indah.
"Apa? Bukannya di sini ada asisten rumah tangga?" Feri menatap, Indah dengan tatapan sendu.
"Dulu ada tapi setelah, Ayah meninggal, Ibu tidak punya uang untuk membayarnya dan akhirnya asisten rumah tangga itu diberhentikan."
"Seharusnya mereka tidak membiarkan, Indah mengerjakan semua ini," ucap Feri didalam hatinya.
Tangan, Feri mengepal kencang dan rahangnya mengeras, dia sangat marah kepada, Vina dan Vira.
*******
Di Jakarta.
Rendi sudah siap untuk pergi ke Bogor, pagi-pagi sekali dia sudah bersemangat karena akan menyusul gadis kesayangannya.
Saat, Rendi keluar dari kamarnya dia mendapati, Firman yang masih menggunakan kostum tidur bahkan laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu terlihat baru bangun tidur.
"Papa, kok belum siap sih?" ucap Rendi.
Firman mengarahkan pandangannya ke arah, Rendi.
"Siap ke mana? Sekarang masih pagi," ucap Firman.
"Pa, katanya sekarang kita mau ke Bogor. Aku udah siap ini."
"Iya, tapi sekarang masih terlalu pagi, Surya."
"Pa, kita akan melakukan perjalanan jauh, kita harus berangkat pagi," kukuh Rendi.
"Bilang aja pengen cepat ketemu sama, Tiara."
"Nah itu, Papa tahu. Kenapa malah masih bersantai di sini."
Firman menatap jam di dinding masih menunjukkan pukul setengah enam pagi tapi putra satu-satunya itu sudah berdandan rapi dan menyuruhnya untuk segera bersiap untuk pergi.
"Oke-oke sekarang, Papa mandi dulu."
Firman beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya!
*******
Setelah selesai mengepel lantai dan mencuci piring kini tiba saatnya, Indah mencuci pakaian ke kali yang ada di tepi jalan.
Indah berjalan keluar dari rumah dengan membawa satu bak besar yang berisi pakaian kotor.
"Kamu mau ke mana, 'Ndah?" tanya, Feri.
"Mau nyuci lah, Aa gak lihat aku bawa pakaian kotor," ucap Indah.
"Kenapa gak nyuci pakaian mesin cuci saja? Aku lihat di belakang ada mesin cuci."
Indah menatap, Feri lalu tersenyum tipis. "Aku lebih suka nyuci di kali karena di sana dapat membawa ketenangan buat aku."
Indah langsung melanjutkan langkahnya setelah berbicara pada, Feri!
Feri menatap kepergian, Indah lalu beberapa detik kemudian menyusul, Indah!
Saat dirinya sudah berada di depan rumah, Vina dia sudah tertinggal jauh oleh, Indah.
"Cepat sekali dia jalannya," gumam Feri.
"Jang Feri! Mau kemana pagi-pagi gini?" tanya, Kang Asep yang melihat, Feri sedang menatap jalanan yang masih basah karena masih berembun.
"Eh, Kang Asep."
Feri berjalan menghampiri, Kang Asep yang sedang bersiap untuk pergi ke sawah!
"Ini, Kang saya mau nyusul, Indah ke kali," ucap, Feri.
"Oh, hayu atuh bareng sama saya saja kebetulan sawah saya letaknya dekat dengan tempat, Neng Indah biasa nyuci pakaian."
Kang Asep beranjak duduknya dan meraih cangkul yang ada di sampingnya. Mereka pun berjalan beriringan sembari terus mengobrol.
"Biasa? Maksud, Akang, Indah udah biasa nyuci di kali gitu?"
"Iya, setiap hari, Neng Indah nyucinya di kali karena dia dilarang nyuci di rumah katanya sih, biar ngirit listrik dan juga air."
"Kadang, Akang juga berpikir seperti itu tapi gimana lagi sejak, Pak Ridwan meninggal, Bu Vina seakan tidak mengizinkan, Neng Indah hidup bahagia."
Mereka terus berjalan melewati beberapa rumah dan perkebunan milik warga sekitar! Setelah berjalan cukup jauh akhirnya mereka tiba di tempat biasa, Indah mencuci pakaian.
"Itu, Neng Indah lagi nyuci," ucap, Kang Asep sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah, Indah.
"Oh iya, itu dia. Terimakasih, Kang sudah mengantarkan saya ke sini."
"Sama-sama. Saya lanjut ke sawah ya, Jang Feri."
"Iya, Kang hati-hati."
Kang Asep langsung melanjutkan perjalanannya menuju sawah miliknya sedangkan, Feri masih berdiri sembari memperhatikan, Indah yang sedang mencuci.
Feri terus menatap, Indah dengan tatapan sendu, dirinya merasa prihatin kepada, Indah karena tak seharusnya, Indah hidup seperti itu.
"Aku janji, 'Ndah setelah kamu menikah sama, Rendi aku pastikan kamu tidak akan merasakan seperti ini lagi, aku gak akan ngebiarin kamu hidup dalam kesusahan, kesakitan dan penuh kesedihan seperti sekarang ini," gumam Feri sembari terus menatap, Indah.
*******
Firman dan Rendi sudah memulai perjalanan mereka menuju Bogor.
Rendi sudah tak sabar ingin cepat sampai di pedesaan selain dia ingin bertemu dengan, Indah dia juga ingin mengenalkan, Kang Asep kepada, Papanya.
Rendi ingin, Papanya tahu kalau, yang menolongnya waktu itu adalah, Kang Asep.
"Bahagia banget kelihatannya," ucap Firman.
"Bahagia lah, Pa kan aku mau ketemu sama calon istri," sahut Rendi.
"Oh ya, Surya persiapan pernikahan kamu sudah hampir rampung, tinggal cincin pernikahannya saja belum beli karena, Papa tidak tahu ukuran jarinya, Tiara," jelas Firman.
"Apa, secepat itu? Kok aku gak tahu kalau, Papa udah nyiapin semuanya?"
"Kamu tahu apa, kamu kan tahunnya cuma kerja dan gangguin, Tiara."
"Ya nggak gitu juga, Pa. Emang, Papa yakin mau nikahin aku sama, Indah?"
"Yakin dong malah, Papa sudah putuskan kalian akan menikah satu minggu lagi dari sekarang."
"Apa gak terlalu cepat, Pa? Aku dan Indah belum saling kenal. Aku sih senang-senang aja bisa nikah sama dia tapikan dianya bahagia gak nikah sama aku."
"Surya, Tiara kan udah nerima kamu. Papa yakin dia adalah wanita terbaik untuk kamu."
"Meski, Ibu tirinya dan kakak tirinya, Indah berkata yang tidak baik tentang, Indah?"
"Papa kenal sama, Ayahnya Tiara sejak lama dan Papa juga kenal sama Ibunya Tiara, mereka adalah orang baik-baik. Papa yakin, Tiara juga gadis baik-baik."
Sepanjang perjalanan mereka berdua terus mengobrol. Firman menceritakan tentang masa lalunya bersama kedua orang tuanya, Indah.
**********
"Aa, sejak kapan Aa di situ?" tanya, Indah yang baru menyadari kalau, Feri sedang memperhatikannya.
"Dari tadi." Feri berjalan menghampiri, Indah yang masih mencuci pakaian itu!
"Mau aku bantuin?" tanya, Feri setelah dia berada di samping, Indah.
"Gak usah, aku bisa sendiri kok."
"Ndah, kamu gak capek setiap hari kerja seperti ini?"
"Gak setiap hari kok, kan aku baru nyuci hari ini di rumah, Aa kan nyucinya pakai mesin cuci."
"Kamu tuh ya bisa aja. Maksudku sebelum kamu tinggal bersama aku."
Indah menghentikan gerakan tangannya, dia terlihat sedih saat mengingat masa-masa itu.
"Ndah, aku membuat kamu sedih ya?" tanya, Feri dengan nada lembut..
Seketika air mata, Indah meluncur begitu saja di pipinya.
"Aku gak capek, 'A aku hanya ... sudahlah jangan bahas itu."
Entah kenapa saat mengingat masa-masa dimana, Vina melakukan kekerasan dan melontarkan kata-kata yang tak pantas untuk diucapkan membuat, Indah begitu sedih dan merasa ada yang menusuk tepat di jantung hatinya.
"Maaf ya. Aku gak bermaksud membuat kamu sedih."
"Nggak kok. Ayo kita pulang! Nyucinya sudah selesai."
Sebisa mungkin, Indah berusaha untuk menyembuhkan kesedihannya. Dia tersenyum lebar ke arah, Feri.
Bersambung
Teman-teman aku bawa rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca yuk kepoin ceritanya.
Judul: My Love And My Obsession
Karya: Candy