Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 34


"Indah, aku sama Papa ke kantor dulu ya!" ucap Rendi sambil melangkah menuju garasi.


"Tumben, Papa ke kantor."


"Cuma sebentar kok. Mungkin, Papa kangen sama suasana kantor."


Indah berjalan beriringan dengan Rendi, sementara Firman, sudah lebih dulu masuk ke mobil!


"Hati-hati ya, Mas!" ucap Indah seraya mencium tangan suaminya.


Rendi mengecup kening Indah dengan mesra! "aku, pergi."


Rendi melambaikan tangannya pada Indah dan dibalas hangat oleh istrinya itu!


"Cepat, Surya. Mau ke kantor aja, kayak mau pergi ke Amerika," ledek Firman.


"Papa, apa sih? kayak gak pernah muda aja," sahut Rendi cengengesan.


*******


Di kantor, Feri sudah tiba dari pagi! karena akhir-akhir ini Rendi jarang masuk kantor, Feri menjadi sangat sibuk.


Cklek!! pintu ruangan Feri terbuka dan langsung menampakkan Rendi dan Firman.


Feri mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruangannya yang tiba-tiba terbuka tanpa ada yang mengetuk terlebih dahulu.


"Bos! kok gak bilang lo mau masuk kantor?" tanya Feri saat melihat Rendi di ambang pintu.


"Iya, suka-suka gue lah. Guekan, bos disini," saut Rendi.


Feri menarik nafas sambil mengelus dadanya!


"Feri, katanya kamu udah ngecek lahan yang akan kita beli di kampung?" tanya Firman.


"Udah, Om. Tapi kalau untuk bangun pabrik kayaknya gak cocok deh," sahut Feri.


"Kenapa emang?" timpal Rendi.


"Tempatnya, jauh dari pemukiman. Bahkan bisa dibilang hutan yang jarang di sambangi manusia," jelas Feri.


"Terus, gimana?" tanya Rendi.


"Kira-kira, kalau kita bangun villa, cocok nggak, Fer?" tanya Firman.


Rendi menatap,Papanya penuh tanya,bagaimana bisa, Papanya itu berpikir ke sana.


"Pa, kan tadi Feri, udah bilang, lokasinya jauh dari permukiman. Siapa yang akan menyewa villa di hutan?" ucap Rendi.


"Bukan untuk disewakan, tapi untuk pribadi aja. Feri minggu depan kamu antar om ke sana, ya," ucap Firman.


"Baik, om."


Firman langsung keluar dari ruangan itu setelah membicarakan tentang keperluannya bersama, Feri.


"Pa! Papa mau ke mana?" tanya, Rendi.


"Kemana aja yang, Papa mau. Kamu kerja aja yang bener," ucap, Firman tanpa menghentikan langkahnya.


Rendi dan Feri menatap kepergian, Firman dengan tatapan aneh.


"Bos, kayaknya lo mau punya, Mama baru deh," ucap Feri dengan senyum jahil.


"Sembarang lo kalau ngomong."


*******


Firman kembali melakukan pencarian terhadap, Tari. Menurut informasi warga katanya, Tari sering nongkrong di suatu tempat. Firman pun langsung mendatangi tempat yang diberi tahukan oleh seorang warga yang ditanyainya.


"Ini kan arah rumahnya, Feri," gumam Firman.


Firman terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang siapa tahu dia melihat, Tari di sekitar tempat itu!


*******


Di rumah, Indah sedang duduk termenung di teras belakang rumah!


"Ya Allah, aku rindu pada orang tuaku," lirih Indah di dalam hatinya.


Kini Indah sedang memegang dan memandangi foto kedua orang tuanya, air matanya tak henti mengalir di pipinya.


"Non, ada apa, kenapa, non Indah menangis?" tanya seorang pembantu rumah tangga yang melihat Indah sedang menangis.


Indah menoleh kearah suara! lalu ia segera menghapus air matanya.


"Bibi. Aku gak apa-apa kok, bi," sahut Indah.


"Gak apa-apa, kok nangis?"


"Aku, rindu sama orang tuaku, bi."


Asisten rumah tangga itu menatap, Indah dengan tatapan sendu, dia turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh, Indah.


*******


Firman menghentikan mobilnya saat dia melihat, Tari yang sedang berdiri tepat didepan rumahnya, Feri. Dia langsung turun dari mobilnya lalu menghampiri orang yang selama ini dia cari!


"Tari!" seru Firman.


Tari menoleh ke arah suara! "Mas Firman," gumam Tari.


Tari langsung berlari menghindari, Firman!


Tak lama, Firman berhasil mengejar, Tari dan langsung mencekal pergelangan tangannya.


"Lepaskan aku. Mas tolong lepaskan aku!"


"Nggak, Tari. Selama ini aku mencari kamu ke mana-mana."


"Mas tolong, aku takut istrimu melihat kita. Aku takut dia akan mencelakai aku."


"Dia sudah meninggal, Tari."


Tari menghentikan pergerakannya saat mendengar bahwa istrinya, Firman sudah meninggal.


"Tari, selama ini aku mencari mu, aku ingin sekali bertemu dengan kamu dan juga anak kita. Dimana anak kita, dia laki-laki atau perempuan?"


Tari meneteskan air matanya. Dia tak kuasa menahan kesedihannya.


*******


"Ada apa ini, kenapa istri saya sampai menangis kayak gini?" ucap Rendi yang baru tiba dari kantor.


Indah dan asisten rumah tangga itu menatap Rendi bersamaan!


"Mas, kamu udah pulang?" ucap Indah.


"Kamu kenapa?" tanya Rendi.


"Aku gapapa, mas."


"Kamu bohong."


Asisten rumah tangga itu segera pergi dari tempat itu! membiarkan Indah dan Rendi berbicara.


"Aku hanya rindu pada orang tuaku."


Rendi duduk di samping, Indah lalu menghapus air matanya dan mendekap sang istri dengan penuh cinta.


"Kalau kamu rindu sama mereka. Berdoalah, doakan mereka agar bahagia di sisinya."


Indah mengangguk pelan dengan kepalanya yang masih ia benamkan di dada sang suami.


*******


"Bertahun-tahun aku menahan rasa sakit ini. Aku rela berpisah dengan anakku demi keselamatan jiwanya," ucap Tari.


"Kenapa kamu berpisah dengan anak kita? Apa dia–"


"Dia masih hidup," ucap, Tari memotong perkataan, Firman.


"Lalu kenapa kamu bisa berpisah dengannya?"


"Istrimu selalu mencari ku, dia selalu saja mengusik hidupku, dia berusaha melenyapkan aku dan anakku. Karena itulah aku pindah dari rumah yang lama, aku pikir dia tidak akan mencari aku lagi tapi ternyata dia terus saja mencari aku hingga akhirnya aku menitipkan anak kita ke panti asuhan agar dia bisa selamat."


"Kenapa kamu tidak pernah memberitahu aku tentang semua ini?"


"Istrimu itu tidak memberiku kesempatan, Mas. Aku tahu aku ini siapa dalam kehidupan kamu. Aku kalah, Mas. Aku sudah kalah." Tari terus saja meneteskan air matanya saat menceritakan tentang semua yang terjadi dalam hidupnya.


"Lalu, sekarang di mana anak kita? Apa kamu tahu dia dimana?"


Tari meraih tangan, Firman lalu membawanya ke tempat biasa dirinya melihat, Feri dari jauh.


Tari terus menatap rumah, Feri yang terlihat sepi itu.


Tak lama, Feri datang dengan mengendarai mobilnya, dia turun dari mobilnya setelah dia menghentikan mobilnya didepan rumahnya!


"Kalau kamu ingin tahu anakmu. Itu adalah anakmu, Mas," ucap, Tari sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah, Feri.


Firman mengikuti arah yang ditunjuk oleh, Tari dan dia langsung terkejut saat tahu anak yang selama ini dia cari adalah, Feri.


"Feri?" ucap, Firman sembari terus menatap, Feri yang sedang berjalan memasuki rumahnya.


"Namanya adalah, Feri Firmansyah. Dia tumbuh di pantai asuhan, dia sama sekali tidak pernah merasakan belaian kasih sayang orang tua karena aku menitipkan dia sejak dia bayi berumur dua bulan. Ingin sekali aku memeluk dan menciumnya tapi aku tidak bisa, aku terlalu takut dengan ancaman istrimu. Aku tidak ingin anakku kenapa-kenapa karena masa laluku," jelas, Tari.


"Dia adalah asisten pribadinya, Rendi bahkan aku sudah menganggapnya sebagai keluarga. Kalau saja aku tahu dia anakku, aku sudah memeluknya dan memohon maaf kepadanya."


"Apa, dia bekerja di perusahaan kamu?"


"Iya. Tari, sekarang saatnya mereka tahu semua ini, kamu jangan takut lagi karena sekarang istri pertama ku sudah meninggal."


"Kapan dia meninggal dan kenapa bisa meninggal di usia muda?"


"Dia meninggal karena penyakit yang dideritanya."


"Aku takut anakku tidak mau menerima aku dan lagi aku juga takut kenyataan ini akan membuat hubungan kalian jadi rusak apa lagi anakku dan anakmu itu memiliki hubungan antara, Bos dan karyawan. Aku takut mereka kecewa dan akhirnya saling membenci."


"Kamu jangan khawatir, perlahan-lahan mereka akan mengerti dan aku harap mereka bisa saling menerima.


Lama mengobrol, tak terasa hari mulai gelap, Firman pun menawarkan diri untuk mengantarkan, Tari pulang ke rumahnya.


Tari pun tak menolaknya, tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya dirinya masih mengharapkan, Firman.


Bersambung


Teman-teman sambil nunggu Gadis Bogor up lagi. Mampir yuk ke karya temanku.


judul: Belenggu Hasrat Tuan Muda


karya: Trias Wardani