
Di kediaman, Firman.
Rendi dan Indah sudah selesai makan malam namun, Firman belum juga pulang. Hal itu membuat, Rendi dan Indah merasa khawatir padanya.
"Mas, udah jam segini, Papa kok belum pulang juga?" tanya, Indah.
"Iya. Papa ke mana sih, kok gak ngabarin aku," sahur Rendi.
"Coba kamu telpon deh! Aku takut terjadi apa-apa sama, Papa."
Rendi meraih ponselnya yang terletak di atas meja makan lalu menelpon, Papanya itu.
"Gak diangkat lagi," gumam Rendi.
Rendi sudah menelpon berkali-kali namun tidak ada jawaban dari, Firman.
"Sebenarnya, Papa ke mana sih," ucap Rendi dengan nada kesal.
"Kita tunggu sebentar lagi. Mungkin, Papa lagi di jalan."
Rendi mengangguk pelan dan, Indah pun langsung membereskan piring kotor bekas mereka makan.
*******
"Kenapa telponnya gak di angkat?" tanya, Tari kepada, Firman.
Firman menatap, Tari sekilas lalu kembali fokus berkendara.
"Aku lagi nyetir, gak mungkin aku terima telpon," sahut, Firman.
"Menepi saja dulu, kali aja penting atau mungkin anakmu itu khawatir sama kamu, Mas."
Firman menuruti perkataan, Tari. Dia menepikan mobilnya lalu mengirim pesan pada, Rendi.
["Papa lagi di jalan jadi gak bisa terima telpon. Kamu gak usah nungguin, Papa karena, Papa akan pulang sedikit telat. Jangan tanya kenapa karena sekarang, Papa lagi reunian sama teman lama."]
Setelah mengirim pesan pada, Rendi, Firman langsung melanjutkan perjalanannya.
"Tari, sekarang, Mamanya Rendi sudah tidak ada. Aku harap kamu bisa memaafkan segala perlakuan dia sama kamu biar bagaimana pun dia itu istri aku juga kan," ucap, Firman kepada, Tari.
"Aku sudah memaafkan dia jauh sebelum kamu memintanya."
"Terimakasih ya."
"Tidak usah berterimakasih. Aku sudah ikhlas dan yang penting bagiku adalah keselamatan, Feri."
Dua puluh lima tahun lalu, Firman pernah melakukan kesalahan. Waktu itu saat dirinya mengurus pekerjaan di luar kota dengan tidak sengaja dia memaksa, Tari untuk melayaninya. Saat itu, Firman sedang dalam pengaruh minuman beralkohol yang membuat dirinya tidak bisa membedakan antara yang benat dengan yang salah, dia hanya mengikuti kata hatinya.
Hingga akhirnya, Tari berhasil didapatkan oleh, Firman. Firman yang merasa bersalah akhirnya menikahi, Tari tanpa sepengetahuan istri pertamanya.
Setelah dua tahun berumah tangga dan saat itu, Tari sedang mengandung anak pertamanya. Istri pertamanya, Firman mengetahui tentang pernikahannya dengan, Firman. Dia pun tak terima dimadu dan akhirnya dia terus meneror, Tari hingga akhirnya, Tari mengalah demi keselamatan jiwanya dan juga bayi yang dikandungnya.
Karena istri pertamanya, Firman terus menerus meneror dirinya akhirnya, Tari menitipkan bayinya di panti asuhan dan sejak saat itu dia menghilang.
*******
"Ayo kita tidur!" ucap Rendi sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi, Papa?"
"Papa sedang bersenang-senang sama teman-temannya. Katanya kita gak usah menunggunya karena, Papa akan pulang terlambat," jelas Rendi.
Indah mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya!
*******
Feri sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran! Karena, Indah sudah tidak tinggal di rumahnya lagi, kini dirinya kembali ke kebiasaan lama nya. Yaitu makan di luar karena di rumah gak ada masakin untuknya.
Tak lama, Feri tiba di restoran yang dia tuju dan kebetulan di restoran itu ada, Alisa juga.
Feri berjalan menghampiri, Alisa!
"Hai," ucap, Feri pada Alisa.
"Feri, kamu di sini juga?" ucap, Alisa.
"Tentu saja. Kebetulan aku sedang sendirian."
Feri segera duduk dan langsung memesan makanan. Sementara, Alisa sudah hampir selesai dengan makan malamnya.
Feri hanya duduk dengan mulut yang tertutup rapat dengan mata yang terus menatap, Alisa yang sedang asyik menyantap makanannya.
"Jangan ngeliatin aku seperti itu nanti kamu gak bisa tidur," ucap, Alisa.
Feri tertawa kecil, "memang kenapa sampai gak bisa tidur segala?"
Tak lama makanan yang, Feri pesan tiba.
"Mau nambah gak?" tanya, Feri pada, Alisa.
"Tidak terimakasih."
Feri langsung menyantap makanannya dengan lahap. Nampaknya pemuda itu sudah kelaparan.
Alisa terus memperhatikan, Feri yang sedang makan.
Merasa diperhatikan, Feri menatap balik, Alisa.
"Jangan dipandang nanti jadi sayang," ucap, Feri.
Alisa mengalihkan pandangannya. Dia menatap ke sembarang arah.
"Siapa yang mandangin kamu?"
"Udah ketangkap basah masih mau ngelak?"
Alisa tertawa kecil lalu kembali menatap, Feri.
"Baiklah, aku kalah tapi tadi kamu juga ketahuan lagi mandangin aku."
"Iya, setidaknya aku mengakui apa yang aku lakukan." Feri terus mengunyah makanannya hingga akhirnya makanan di piringnya habis tak tersisa.
"Kamu bawa kendaraan gak?" tanya, Feri.
"Nggak. Kenapa memangnya?"
"Mari aku antar pulang. Itu pun kalau kamu gak dijemput pacar kamu ya."
"Tidak kok. Pacar aku tinggal jauh dari sini."
"Oh gitu. Di mana emangnya?"
"Gak tahu soalnya aku gak punya pacar."
"Kalau gitu kamu jadi pacar aku saja."
"Apa!"
"Mmm. Tidak, tidak usah dibahas, ayo aku antar kamu pulang." Feri berjalan lebih dahulu! Dia memegang mulutnya sekilas lalu kembali pada posisi semula.
"Astaga, kenapa bisa keceplosan gitu," ucap, Feri didalam hatinya.
Alisa yang berjalan dibelakang, Feri hanya tersenyum saat melihat tiba-tiba laki-laki didepannya itu salah tingkah dan wajahnya berubah menjadi memerah.
Mereka pun memulai perjalanan pulang. Sepanjang jalan tak ada obrolan yang menemani perjalanan mereka, Feri terus fokus berkendara sedangkan, Alisa terus fokus pada pemikirannya sendiri.
Bersambung
Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.
Yuk mampir ke novel temanku yang satu ini. Ceritanya pasti seru abis.
Judul: Pernikahan Tanpa Hati
Karya: Thatya0316