
Pagi itu, Feri datang ke rumah, Firman untuk menemui, Rendi.
"Selamat pagi semuanya," ucap, Feri kepada semua penghuni rumah itu.
Sebelum masuk ke rumah itu, Feri tak mengeruk pintu terlebih dahulu karena memang dia sudah seperti keluarga di rumah itu.
"Feri, lo ngapain kesini pagi-pagi gini?" tanya, Rendi yang baru keluar dari kamarnya.
"Bos, maaf ya gue kesini gak ngabarin dulu."
Rendi dan Feri berjalan bersamaan menuju meja makan.
Firman sudah duduk dan menunggu untuk sarapan bersama sedangkan, Indah dia masih sibuk menyiapkan makanan yang lainnya.
Di rumah itu menang ada asisten rumah tangga tapi, Indah lebih suka melakukan semua pekerjaan sendiri apalagi menyangkut suaminya, dia tidak pernah membiarkan suaminya memakan masakan orang lain terkecuali dirinya sedang sakit atau sedang makan di luar.
"Feri, ayo duduk. Kita sarapan bersama-sama," ucap, Firman.
"Makasih, Om tapi aku ke sini hanya sebentar kok," ucap, Feri pada, Firman.
"Bos, hari ini, gue izin ya gak masuk kantor dulu," sambung, Feri pada, Rendi.
"Mau ke mana lo?"
"Gue ada acara di panti asuhan. Bu Salma mengharuskan aku untuk datang katanya ada sesuatu yang penting yang mau dibicarakan."
"Oh, ya udah. Tapi besok lo ke kantor kan?"
"Pasti dong. Gue ada perlunya cuma satu hari kok."
"Sarapan dulu, Fer jangan sampai kamu sakit gara-gara telat sarapan," sambung Firman.
"Iya, Papa benar, Aa harus sarapan sebelum pergi kalau tidak nanti aku nangis," ucap, Indah sembari meletakkan piring didepan, Feri.
"Baiklah kalau kalian memaksa." Feri langsung duduk di kursi yang ada di sampingnya mereka pun langsung menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh, Indah.
Setelah beberapa menit, Firman menyudahi makannya. "Kalian teruskan saja sarapannya ya. Papa harus segera pergi," ucap, Firman.
"Mau ke mana, Pa?" tanya Rendi.
"Mau ketemu sama teman lama. Dia tinggal di Amerika dan kebetulan sekarang dia sedang ada di kota kita jadi, Papa tidak mau men_sia-siakan kesempatan ini," jelas, Firman.
"Oh, Papa hati-hati di jalan ya," ucap, Rendi.
Firman langsung pergi meninggalkan rumahnya! Dia harus segera tiba di suatu tempat.
Kini tinggal ada Rendi, Indah dan Feri di rumah itu. Mereka masih duduk di tempat semula.
"Aa, tunggu sebentar ya. Jangan pergi dulu," ucap, Indah pada Feri.
"Kenapa memangnya?" tanya, Feri.
"Tunggu saja. Sebentar saja." Indah beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya.
"Fer, gimana udah ada informasi tentang orang tuamu?" tanya, Rendi.
"Belum," sahut, Feri singkat.
"Lo yang sabar ya, gue yakin pasti suatu saat lo akan menemukan mereka."
Feri hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan, Rendi.
Tak lama, Indah datang dengan kotak kecil di tangannya!
"Selamat ulang tahun, Aa Feri," ucap Indah sembari menyodorkan kotak kecil yang ia bawa.
Feri tersenyum bahagia karena ternyata, Indah ingat dengan hari ulang tahunnya.
"Ndah, kamu ...."
"Selamat ulang tahun ya, 'A semoga sehat selalu, murah rezekinya dan dimudahkan dalam semua urusannya."
"Terimakasih, 'Ndah ternyata kamu ingat dengan hari ini."
"Ingat dong. Untuk orang yang aku sayang aku pasti mengingat hari istimewanya."
"Selamat ulang tahun, Fer. Ini gue juga ada kado buat lo." Rendi memberikan kado miliknya yang berukuran mini bahkan saking kecilnya kado itu muat di saku celananya.
"Eh, ini kado imut banget. Boleh gue buka nggak?" tanya, Feri setelah menerima kado dari, Rendi.
*******
Di perjalanan, Firman melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia harus datang tepat waktu ke tempat yang ditunjukkan oleh, Tari lewat sherlock.
Mereka berdua janjian bertemu di suatu tempat.
"Semoga saja aku belum terlambat," gumam, Firman.
Firman terus melaju dengan kecepatan tinggi!
*******
Di panti asuhan.
Bu Salma dan anak-anak asuh di sana, sibuk menyiapkan kejutan untuk, Feri. Mereka mengadakan acara besar untuk merayakan ulang tahun, Feri yang ke dua puluh tiga.
Anak-anak di sana terlihat sangat bersemangat dalam mengatur rencana mereka. Mereka juga sangat bahagia di hari itu.
"Bu, apa lagi yang harus aku lakukan?" tanya seorang anak kepada, Salma.
"Tidak ada. Semua sudah selesai kita tinggal menunggu kakak kalian datang," sahut, Salma.
"Cepatlah ganti pakaianmu. Ingat, kakakmu tidak suka melihat kalian berpenampilan berantakan," ucap, Salma.
Mereka pun berusaha menampakkan penampilan terbaik mereka untuk menyambut kedatangan orang yang mereka sayangi.
Tak lama, Feri tiba di panti tersebut. Dia turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di tempat biasa dia parkir.
Feri berjalan memasuki area panti itu dengan terus menatap hiasan mewah di sekelilingnya.
"Hai kak." Anak-anak itu langsung menyapa, Feri dengan penuh kegembiraan.
"Anak-anak, ada acara apa ini? Apa ada acara pernikahan di sini tapi siapa yang menikah? Tidak mungkin, Ibu kan," ucap, Feri.
"Kakak ini gimana. Ini untuk kakak, selamat ulang tahun kak."
"Selamat ulang tahun kakak sayang."
Anak-anak itu berkerumun dan bergantian memeluk, mencium, Feri seperti yang biasa mereka lakukan.
"Terimakasih semuanya. Tapi kok gak ada yang ngasih kakak kado ya?"
"Ibu melarang kami memberikan kado. Katanya kakak tidak membutuhkan kado dari kami."
"Kenapa begitu? Kalian curang ya."
Feri main kejar-kejaran bersama anak-anak itu. Dia terlihat sangat bahagia jika sedang bersama mereka.
Seorang anak yang mulai beranjak dewasa itu, berjalan menghampiri, Feri!
"Kak," ucapnya.
Feri menghentikan aksinya yang sedang mengejar anak-anak yang sedang main kejar-kejaran bersamanya.
"Dinda," ucap, Feri. Dia berjalan menghampiri gadis itu.
"Selamat ulang tahun ya, semoga kakak sehat-sehat dan selalu bahagia."
"Terimakasih, Dinda. Semoga kamu juga sehat selalu ya. Oh ya bagaimana dengan sekolah mu?"
"Baik-baik saja, aku bahagia sekolah di sana."
Saat ini, Dinda duduk di bangku SMA dan, Feri lah yang membiayai sekolahnya.
"Aku tidak punya kado untuk, kakak. Hanya doa yang aku punya jadi aku kasih kadonya lewat doa saja," jelas, Dinda.
Feri tersenyum ke arah gadis itu.
"Doa lebih baik dari segalanya. Kakak senang jika banyak yang mendoakan, ngomong-ngomong kamu doain kakak apa?"
"Aku berdoa semoga, kakak cepat menikah agar ada yang ngurusin kakak dan ada yang nemenin kakak kalau kakak datang ke sini." Dinda berucap dengan senyuman manisnya.
"Wah rupanya ada yang minta kakak ipar." Feri dan Dinda pun tertawa bersama.
"Akan ada kado istimewa dari, Ibu. Sekarang pergilah dan temui, Ibu!"
"Kado istimewa? Apa itu?"
"Tidak ada satupun dari kami yang tahu, hanya, Ibu yang tahu kado nya apa."
Feri tersenyum lagi lalu berjalan memasuki panti asuhan itu.
Di depan pintu ada, Bu Salma yang sudah menunggu kedatangan, Feri. Dia sengaja tidak langsung mengajak pemuda itu masuk karena dia ingin memberikan kesempatan untuk anak-anak berbahagia dengan pemuda yang baik dan ramah itu.
Feri mencium punggung tangan, Bu Salma lalu dia memeluk, Ibu asuhnya itu.
"Bu, pesta semewah ini. Untuk apa?" ucap, Feri.
"Untuk kamu dong."
"Tapi dari mana biayanya?"
"Ada. Kamu jangan pikiran itu. Ayo masuk ada sesuatu yang ingin, Ibu bicarakan sama kamu!"
Bu Salma berjalan memasuki suatu ruangan dengan diikuti oleh, Feri di belakangnya.
"Duduklah, Nak," ucap, Bu Salma setelah tiba di ruangan tersebut.
Di dalam ruangan itu susah ada, Tari dan Firman yang sudah menunggunya.
"Om? Kok, Om ada di sini?" Feri menatap, Firman penuh tanya.
Firman hanya diam dan Tari mulai menangis saat mendengar suara, Feri.
"Mereka adalah orang yang selama ini kamu cari," ucap, Bu Salma.
Feri terkejut mendengar pernyataan, Bu Salma. Dia menatap, Tari dan Firman secara bergantian.
Bersambung
Hai teman-teman semuanya! Mampir yuk ke karya temanku yang satu ini. pokoknya ini rekomended banget soalnya ceritanya seru.
jangan lupa mampir ke sana ya.
Judul: Dikejar Duda
Karya: Goresan Pena