Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 30


Pagi ini Rendi sudah stay di kantor, daripada suntuk, di rumah ia belum terbiasa dengan statusnya sekarang ini. Walau Rendi dan Indah sudah menikah tapi sepertinya masih ada jarak di antara mereka.


"Pagi, bos," ucap,Feri yang baru tiba di kantor.


"Pengantin baru, udah ngantor aja nih," sambung, Feri lagi.


"Pengantin baru apaan, yang ada gue bete, di rumah," rutuk Rendi.


"Kenapa, bos?"


"Au ah."


"Dih, sinis amat. Jangan-jangan kebanyakan, semalam," celetuk Feri.


"Hah, boro-boro kebanyakan. Dikasih jatah juga, kagak," ucap Rendi dengan nada kesal.


"Oh, jadi ceritanya, curhat ni."


"Udah ah. Kerja sana!"


"Sabar bos, Indah kan kenal cowok baru sama elu doang, jadi dia belum tahu dan belum ngerti bagaimana caranya dan bagaimana rasanya," jelas Feri.


"Tau ah, pusing gue. Orang mah baru menikah pasti bahagia dan gak mau jauh-jauh dari pasangannya lah gue– yang ada gue stres deket-deket sama, Indah terus."


Feri tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Lo kan suaminya, kalau lo mau, lo bisa maksa kan?"


"Lo gak pernah aja ngerasain apa yang gue rasain."


"Hmm, gak pernah dan gak akan pernah karena nanti saat aku sudah menikah aku langsung mau ngegas."


Feri tertawa kecil lalu pergi meninggalkan, Rendi di dalam ruangan itu tanpa pamit terlebih dahulu!


*******


Di rumah, Firman.


Indah baru saja selesai masak untuk makan siang. Setelah semua masakannya matang dia mulai menyiapkan makanan untuk suaminya.


Indah segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya! Hari ini adalah hari pertamanya menyiapkan makanan untuk suaminya.


Setelah beberapa menit, Indah kembali ke dapur untuk mengambil rantang yang sudah dia isi dengan nasi dan lauk-pauknya.


"Pa, aku pergi dulu ya mau ngantar makanan untuk, Mas Rendi," ucap, Indah kepada, Firman.


"Iya, kamu hati-hati dijalan ya," sahut, Firman.


Indah tersenyum ramah lalu mencium punggung tangan, Firman lalu mulai meninggalkan Ayah mertuanya di rumahnya tak lupa sebelum dia pergi, dia berpesan pada, Firman agar makan tepat pada waktunya.


*******


Waktu menunjukan jam makan siang.


Indah baru tiba di kantor, ia sengaja membawa makanan ke kantor untuk Rendi dan Feri, makan siang.


Saat Indah memasuki area kantor! semua mata tertuju pada Indah.


"Siapa, itu?"


"Astaga, itu cewek, kok cantik banget."


"Baru liat gue, ada cewe biasa tapi luarbiasa."


Kira-kira seperti itulah kata-kata yang keluar dari mulut para karyawan yang sedang berlalu lalang di kantor itu.


Mendengar ada keributan, Rendi segera menghampiri kerumunan!


"Ada apa, ribut-ribut?" tanya Rendi.


"Nggak ribut, Bos. Mereka lagi muji itu!" ucap salah satu karyawan sambil menunjuk ke arah Indah.


Rendi segera menoleh ke arah yang di tunjuk oleh karyawannya!


"Indah," lirih Rendi.


Saat melihat Rendi yang tengah berdiri, Indah segera menghampiri suaminya itu!


"Indah, kamu ngapain ke sini, kangen ya?" ucap Rendi penuh percaya diri.


"Ish, aku ke sini, mau nganterin makan siang buat kamu dan A' Feri," sahut Indah.


"Indah, kamu cantik banget," ucap Rendi.


Indah tersenyum sambil menatap Rendi. "kamu juga tampan kok." sambung Indah.


"Ehhemm!" Feri berdehem saat mendengar ucapan Indah barusan.


Rendi dan Indah menoleh ke arah suara itu!


"Aa, ini aku bawain makan siang!" ucap Indah sembari menyodorkan sebuah rantang!


Feri meraih rantang kecil itu dari tangan, Indah!


"Terimakasih, Ndah."


"Iya, sama-sama."


"Ayo kita ke ruangan aku aja!" Rendi menarik tangan, Indah dan membawanya menuju ruangan pribadinya.


Rendi dan Indah makan bersama di ruangan Rendi, sedangkan Feri, karena ia tak mau mengganggu, ia memilih makan di ruangannya.


"Indah, makasih ya. Padahal kamu nggak usah repot-repot bawain aku makanan."


"Gak apa-apa atuh. Kamu kan, suami aku."


"Kamu, anggap aku suami?" tanya Rendi.


"Iya atuh. Emang kamu teh, nggak nganggap aku, sebagai istri kamu?"


"Nggak gitu Indah. Kalau kamu anggap aku sebagai suami, boleh dong, entar malam aku minta itu?"


"Apa?"


Rendi mendekati Indah! lalu berbisik "malam, pertama."


"Makanlah dulu, jangan mikir kesitu dulu. Sekarang masih siang," ucap, Indah.


*******


Di kampung.


Vira sedang berjalan santai, dia baru saja habis membeli sayuran dari tukang sayur keliling! Biasanya itu adalah tugas, Indah karena sekarang, Indah sudah tidak tinggal bersama mereka lagi terpaksa pekerjaan itu dilakukan oleh, Vira sebelum mereka mendapatkan pembantu rumah tangga yang baru.


"Vir! Vira!"


Seorang laki-laki memanggil, Vira sembari berlari ke arahnya.


Vira menghentikan langkahnya lalu berbalik arah agar dia bisa melihat siapa yang memanggilnya.


"Eh kamu, kapan pulang dari luar kota?" tanya, Vira kepada pemuda itu.


"Udah satu minggu aku di sini, Vir," sahut laki-laki itu.


"Udah lumayan lama atuh, kok aku gak pernah melihat kamu."


"Aku juga gak pernah melihat kamu, Vir. Oh ya, gimana kabarmu?"


"Aku baik-baik saja, Suf."


Yusuf, dia adalah pemuda yang beberapa tahun lalu pergi ke luar kota untuk berkuliah, dia adalah laki-laki yang disukai oleh, Vira namun ternyata, Yusuf lebih menyukai, Indah.


"Vir, gimana kabar, Indah? Aku ingin menemuinya sekarang," ucap Yusuf.


"Aku gak tahu kabarnya bagaimana. Setelah menikah dengan orang kaya, dia tidak pernah pulang lagi ke sini."


Yusuf menghentikan langkahnya saat mendengar bahwa, Indah sudah menikah. Ada perasaan kecewa di hatinya namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena memang mereka tidak mempunyai ikatan apapun.


*******


Hari ini Rendi pulang terlambat, karena ia terlalu sibuk di kantor.


Waktu menunjukkan pukul dua puluh satu lewat tiga puluh lima menit, Rendi baru tiba di rumahnya, keadaan rumah saat itu sudah sepi lampu-lampu juga sudah dimatikan.


Rendi berjalan menuju kamarnya! saat Rendi sampai di kamar, ia melihat Indah sedang menangis di sudut tempat tidur. Karena khawatir terjadi apa-apa pada istrinya Rendi segera menghampiri Indah!


"Ndah, kenapa? apa ada yang terjadi saat aku nggak ada?" tanya Rendi dengan nada lembut.


Dia begitu khawatir terhadap istrinya itu, pasalnya tadi siang dirinya tidak mengantarkannya pulang. Takutnya terjadi sesuatu padanya saat dia sedang dalam perjalanan pulang.


Indah hanya menggeleng!


Rendi duduk di hadapan Indah! "terus, kamu kenapa nangis? apa kamu nggak bahagia nikah sama aku?"


"Aku rindu sama Ayah," lirih Indah.


Rendi menghapus air mata Indah dengan ibu jarinya lalu memeluknya!


"Sabar ya, besok kita ziarah ke makam Ayah," ucap Rendi.


"Tapi aku takut sama ibu," ucap Indah disela tangisnya.


"Kamu nggak usah takut, kan ada aku," ucap Rendi sembari mengelus punggung Indah.


"Makasih."


"Sekarang kamu tidur, ini udah malam."


"Kamu udah makan belum?" tanya Indah dengan suara serak.


"Belum. nanti aku makan sendiri aja kamu tidur duluan aja ya," ucap Rendi.


"Biar aku temenin kamu makan, lagian aku belum ngantuk," ucap Indah.


"Ya udah, kalau gitu aku mandi dulu," ucap Rendi sembari berjalan menuju kamar mandi!


"Eh, Indah! gimana kalau kamu temenin aku mandi juga?" sambung Rendi dari ambang pintu kamar mandi.


"Iih, kamu mah. Mandi sana!" ucap Indah dengan sedikit menaikan nada bicaranya.


Rendi masuk ke kamar mandi sambil tersenyum, akirnya ia bisa membuat Indah tertawa lagi.


Lima belas menit, Rendi di dalam kamar mandi akhirnya dia selesai dengan urusan mandinya dia keluar dari dalam kamar mandi tampan mengenakan pakaian.


"Aaaaaa!" teriak Indah sambil menutup mata, saat melihat Rendi yang baru keluar dari kamar mandi dengan keadaan telanjang dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Ada apa, teriak-teriak?" tanya Rendi dengan santainya.


"Kamu ngapain gak pakai baju?" ucap Indah yang masih menutup matanya.


Rendi mengerutkan dahinya! "aku kan, suamimu. Trus dimana salahnya?"


Rendi malah sengaja menggoda Indah, ia menarik tangan Indah lalu menempelkan telapak tangan Indah di perutnya tak lupa ia mengarahkan ke bagian bawah!


Indah menarik tangannya! lalu berusaha lari, namun Rendi malah memeluk Indah dari belakang!


"Kamu, mau kemana?" ucap Rendi, di telinga Indah.


"Aku_aku, m_mau ke dapur. Iya aku mau kedapur, katanya kamu mau makan," ucap Indah sambil berusaha melepas pelukan Rendi.


Rendi malah mengeratkan pelukannya! "Makannya nggak jadi, sekarang aku mau ... "


"Rendi, kamu harus makan. Kalau nggak, nanti kamu sakit," ucap Indah memotong ucapan Rendi.


"Iya, baiklah. Aku akan makan tapi stelah makan, aku mau sesuatu," ucap Rendi.


Bersambung


Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.


Teman-teman yuk mampir ke karya temanku yang satu ini! Ceritanya pasti seru banget.


Judul: Back To Mantan


Karya: Bhebz