Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 46


"Sari, kamu akan menjalani pemilihan di sini. Kamu jangan takut di sini aku sudah memasang keamanan yang sangat ketat," ucap, Firman kepada, Sari.


Saat itu, Sari sudah berada di ruang rawat inap. Firman sengaja meminta ruangan VIP untuk, Sari agar keamanannya lebih terpercaya.


"Terimakasih, Mas," ucap, Sari dengan nada lirih.


"Om, aku pulang duluan ya. Ibu sudah sangat mengkhawatirkan aku jadi aku harus menemui dia dulu dan setelah itu nanti aku ke sini lagi," ucap, Feri.


"Ya sudah. Kamu hati-hati di jalan ya."


Feri mencium punggung tangan, Firman lalu mencium punggung tangan, Sari.


"Bu, aku pulang ya. Ibu jangan khawatir aku akan ke sini lagi untuk menjaga, Ibu," ucap, Feri sembari menggenggam tangan, Sari.


"Fer, sekalian anterin, Indah pulang. Biar dia istirahat di rumah," ucap Rendi.


"Aku gak mau pulang, aku mau di sini aja bersama, Ibu," ucap, Indah.


"Ndah, yang Rendi katakan itu benar, kamu harus istirahat dulu kan dari kemarin kamu kurang istirahat," ucap, Feri kepada, Indah.


"A, Indah gak bisa ninggalin, Ibu. Indah gak mau pulang."


"Ya udah kalau itu mau kamu lagian aku gak bisa maksa."


Feri langsung pergi meninggalkan mereka di ruangan itu!


"Ndah, kita cari makan yuk," ucap Rendi.


"Aku gak lapar, Mas."


"Kamu harus makan, Tiara kalau tidak nanti kamu sakit," ucap, Firman.


"Pa, aku pasti makan kalau aku udah merasa lapar."


"Sayang, kamu pasti belum makan dari kemarin. Kamu makan ya kalau kamu gak mau makan, Ibu juga gak mau makan," ucap Sari.


"Ibu jang gitu. Ibu kan sedang sakit."


"Kalian pergilah cari makan ya. Sekalian, Papa juga lapar tolong belikan, Papa makanan."


Indah tak bisa menolak, selain karena ancaman dari, Sari dia juga tak bisa membiarkan, Papa mertuanya kelaparan.


"Ya udah kalau gitu. Mas ayo kita pergi." Indah beranjak dari duduknya lalu meraih tangan, Rendi.


Mereka pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


*******


"Assalamu'alaikum!" ucap, Feri dengan sedikit menaikkan suaranya. Tak lupa dia juga terus mengetuk pintu yang terkunci dari dalam itu.


Tak perlu menunggu lama, Tari membuka pintu itu dan langsung berhamburan memeluk, Feri saat tahu yang datang itu adalah putranya.


"Kenapa kamu pergi begitu lama, Nak. Mama khawatir sama kamu." Tari mulai menangis, dia tidak bisa menahan air matanya itu.


"Mama, jangan nangis gini. Aku sudah pulang dan aku baik-baik saja." Feri terus merangkul, Tari sambil terus berjalan memasuki rumahnya.


"Mama takut kamu kenapa-kenapa soalnya kamu tidak bisa di hubungi."


"Di sana gak ada sinyal, Ma. Aku lupa kasih tahu, Mama tentang ini. Maaf ya, aku sudah membuat, Mama khawatir." Feri menghapus air mata, Tari yang mengalir membasahi pipinya.


"Jangan cengeng ah, udah tua masa masih cengeng apa perlu aku belikan permen?" Feri tertawa kecil, dia berusaha mengembalikan keceriaan Mamanya itu.


"Ih kamu ini, orang Mama lagi sedih malah kamu bercanda." Tari mencubit perut, Feri pelan, sebuah senyuman terukir di bibir, Tari.


"Nah gitu dong senyum kan jadi cantik lagi."


Tari memeluk lagi, Feri dan Feri pun membalas pelukan sang Ibu.


*******


"Ndah, kayaknya aku sama, Feri mau mencari tahu tentang, Ibu tanpa harus melapor ke polisi dulu," ucap, Rendi sembari berjalan menggandeng, Indah.


"Kenapa, Mas? Bukannya lebih aman kalau lapor polisi?" tanya, Indah.


"Iya, tapi kita tidak punya bukti yang cukup dan lagi sekarang keadaan, Ibu sudah membaik jadi pelan-pelan kita bisa tanya sama, Ibu tentang siapa yang melakukan ini padanya setelah kita punya bukti-bukti yang kuat baru kita akan melaporkannya ke polisi. Lagian sekarang kita mau melaporkan siapa, toh kita belum tahu siapa yang sudah tega memisahkan, Ibu dari keluarganya."


"Iya juga sih, Mas tapi kalau kamu yang cari tahu sendiri aku jadi khawatir. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu."


"Nggak, aku pasti baik-baik saja karena aku gak sendiri ada, Feri yang selalu membantuku dalam setiap kesulitan."


"Terimakasih ya, Mas. Kamu sudah memperdulikan aku dan Ibu."


Rendi menghentikan langkahnya lalu berdiri dengan posisi berhadapan dengan, Indah. Dibelainya rambut, Indah lalu berpindah ke pipi mulus itu.


Indah tersenyum lalu memeluk sang suami! "Aku beruntung memiliki kamu, Mas. Ayah memang tidak salah memilih kamu untuk jadi suamiku."


"Aku juga beruntung karena bisa memiliki istri seperti kamu."


*******


Di rumah sakit.


"Sari, kamu masih ingat sama aku kan?" tanya, Firman.


Firman sengaja bertanya seperti itu untuk memastikan bahwa, Sari sedang tidak dalam gangguan jiwa. Bukannya dirinya menganggap, Sari gila tapi dirinya takut karena bertahun-tahun mengalami kekerasan, Sari menjadi depresi.


"Aku masih mengingatmu, Mas bahkan aku juga mengingat istrimu, Mas Ridwan dan semua orang yang dulu ada di sisiku."


"Boleh aku bertanya lagi."


"Apa?"


"Kamu masih ingat siapa yang membuang kamu ke hutan itu?"


"Ingat, bahkan aku tidak akan pernah bisa melupakan dia sampai akhir hayat ku karena dia orang yang sudah menyiksaku selama puluhan tahun."


"Boleh aku tahu siapa orangnya?"


"Dia ad–"


"Hai, Pa, Bu."


Baru, Sari akan berucap, Rendi dan Indah tiba di ruangan itu.


"Eh kalian, makan nya sebentar banget," ucap, Firman.


"Iya, Pa. Indah pengen cepat-cepat ke sini lagi, katanya dia takut, Ibunya dicuri oleh dokter," ucap, Rendi sembari menatap, Indah dengan tatapan jahil.


"Ih, kamu apaan sih, Mas." Indah mencubit lengan, Rendi pelan.


"Nggak kok, emang kita udah selesai makan nya, Pa. Oh ya, ini makanan buat, Papa," sambung, Indah.


"Buat, Ibu mana?" tanya, Sari.


"Makan, Ibu udah disiapkan oleh pihak rumah sakit jadi, Ibu gak boleh makan makan luar," jelas, Indah.


"Makan ini gak enak."


"Ibu sabar ya. Nanti kalau, Ibu udah sembuh kita makan-makan," ucap Indah.


*******


Di kampung.


Sukri dan dua rekannya sudah melaporkan tentang, Sari yang kini sudah di bawa ke rumah sakit besar yang ada di Jakarta kepada, Vina.


"Berarti kalian harus ke Jakarta untuk mencari, Sari. Datangi semua rumah sakit besar di sana dan tanyakan apakah ada pasien yang bernama, Sari," ucap, Vina.


"Gak segala itu, Bu. Di sana tidak seperti rumah sakit di kota kita. Dan lagi Pasie yang bernama, Sari pastinya bukan cuma satu dengan penyakit yang berbeda-beda sedangkan kita tidak tahu, Sari menderita penyakit apa," ucap, Sukri.


Sukri memang memilih sedikit pengalaman meski dirinya tinggal di desa tapi dirinya memiliki banyak pengalaman.


"Bodoh, kalian bisa kan beralasan apa saja agar kalian bisa mendatangi kamar rawat setiap pasien bernama, Sari."


"Baiklah kalau begitu kami akan berangkat ke Jakarta, nanti malam."


Sukri dan dua rekannya pun langsung pergi meninggalkan rumah, Vina!


Bersambung


teman-teman, seperti biasa aku bawain rekomendasi novel yang sangat bagus dan pastinya seru untuk kalian baca.


Yuk!


Yuk!


Yuk!


mampir ke karya temanku ini.


Judul: Dipersunting Tuan Barun


Karya: StrawCakes