
Beberapa hari berlalu saat itu masih pagi jam masih menunjukkan pukul lima pagi.
Feri sudah terbangun dari tidurnya, dia sedang bersiap untuk ke kantor. Meski dirinya sudah terbukti anak kandungnya, Firman tapi, Feri tak menjadikan itu sebagai alasan untuk dirinya bermalas-malasan bekerja terlebih dia tahu, Rendi tidak bisa menerimanya dan juga, Ibunya dalam hidupnya. Sebenarnya bukan tidak menerima mungkin saja belum bisa menerima, sesuatu yang datang tiba-tiba sering kali membuat seseorang sulit untuk menerima dan kadang menimbun luka.
Feri tahu dan faham betul bahwa, Rendi tidak sejahat itu, dia hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan hidupnya.
Tring!
Ponsel, Feri berdering tanda ada pesan masuk.
Feri langsung membaca pesan dari nomor tak dikenal itu.
[Hari ini kami akan datang untuk membawa, Bu Sari. Bu Vina yang menyuruh kami untuk menculiknya. Saya Sukri]
[Baik, datang saja ke rumah, Ibu Sari. Gue akan bawa, Ibu Sari ke sana] >kirim.
Setelah membalas pesan itu, Feri langsung keluar dari kamarnya dan berpamitan kepada, Tari.
"Mam, aku pergi sekarang ya," ucap, Feri.
Tari yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka, seketika menghentikan pergerakan tangannya lalu berbalik badan.
"Jam berapa ini? Biasanya juga gak sepagi ini," ucap, Tari.
"Mam, aku gak ke kantor hari ini."
"Lalu mau ke mana?"
"Aku mau menyelesaikan tugas aku sebagai anaknya, Ayah Ridwan. Aku akan membuat orang yang memisahkan, Bu Sari dari keluarganya, masuk penjara."
"Itu berbahaya, Nak."
"Mama tenang saja, aku gak sendiri kok. Rendi ada sama aku, sepertinya dia cocok jadi kakak aku kan, Mam?" ucap, Feri dengan senyum terbaiknya.
"Berarti, Papa Firman juga cocok jadi Papamu."
Feri meraih pipi, Tari lalu mengelus nya dengan lembut! "Dia cocoknya jadi suami Mama, bukan Papa aku karena dia hanya akan menjadi, Papanya Rendi."
Feri mencium kening, Tari lalu pergi meninggalkan, Tari di rumahnya!
Tak lupa, Feri mengucapkan salam sebelum akhirnya dia benar-benar pergi.
Tari hanya berdiri mematung di tempat semula dia berdiri, matanya terus menatap kepergian putranya itu.
"Bagaimana bisa, Mama bersatu dengan, Papamu sementara anaknya tidak bisa menerima, Mama," gumam, Tari.
Feri memang tidak tahu bahwa, Rendi pernah datang ke rumahnya dan mengucapkan kata-kata kasar pada, Tari yang membuat hati wanita itu tersakiti. Tari sengaja tidak memberitahu, Feri tentang itu karena tak ingin merusak hubungan antara mereka berdua. Dalam pikirannya adalah, biarlah dirinya terluka asalkan jangan putranya yang terluka.
*******
Tak butuh waktu lama akhirnya, Feri tiba di rumah, Firman.
"Assalamu'alaikum!" Feri terus berjalan memasuki rumah yang sudah tak asing baginya itu.
"Feri, tumben ke sini sepagi ini?" tanya, Sari yang sedang menata makanan di meja makan.
"Ibu, sudah sarapan?" tanya, Feri.
"Belum lah, kan nunggu yang lain kumpul dulu."
"Aku mau numpang sarapan di sini. Boleh kan, Bu?"
"Boleh dong masa tidak."
Feri tersenyum lalu segera membantu, Sari menyiapkan makanan itu!
"Sudah selesai, mana yang lainnya kok belum kumpul juga."
Feri sengaja ingin sarapan terlebih dahulu karena dia tahu jika, Sari sudah tahu apa yang akan terjadi, Sari tidak akan mau makan. Karena itulah, Feri tidak langsung mengatakan apa tujuannya datang sepagi itu ke rumah, Firman.
"Bu, aku panggil, Rendi dulu ya. Kebiasaan dia tuh jam segini belum bangun tidur." Feri pergi ke lantai dua rumah itu untuk sampai ke kamar, Rendi!
Tok!
Tok!
Tok!
Feri mengetuk pintu kamar, Rendi dan Indah.
Indah langsung membuka pintu kamarnya dari dalam.
"A Feri, ngapain pagi-pagi gini udah ada di sini?" tanya, Indah.
"Kamu sendiri ngapain jam segini masih di kamar? Bukannya bantuin, Ibu di dapur."
"Aku baru saja masuk ke sini untuk mengurus suamiku dulu."
"Mana Rendi?"
"Apa, gue di sini," ucap Rendi yang baru selesai berpakaian.
"Ndah, kamu gak mau ke dapur?"
"Bilang aja kalau mau bicara berdua jangan pakai bahasa halus gitu lagian mau bicara apa sih?"
Feri tersenyum tapi tak menjawab perkataan, Indah.
Indah langsung pergi karena tak ingin mengganggu dua laki-laki yang sama-sama dia sayangi itu.
"Ada apa, Fer?" tanya, Rendi.
Feri melihat ke arah tangga untuk memastikan, Indah sudah tidak ada di sekitar sana.
"Sini lo!" Feri menarik Rendi ke balkon!
"Hari ini mereka akan datang untuk menculik, Ibu."
"Apa! Yang bener lo?"
"Iya lah, masa gue bohong. Dengar, Ren gue ingin hari ini adalah hari terakhir, Bu Vina bebas berkeliaran, gue mau hari ini dia masuk penjara."
"Oke, gue ngerti. Sekarang ayo kita siapkan semuanya."
"Tunggu dulu, Ren. Kita biarkan, Ibu makan dengan tenang karena gue takut setelah tahu ini, Ibu jadi gak mau makan."
"Ya udah, ayo kita sarapan dulu." Rendi dan Feri pun turun dari lantai dua untuk sarapan bersama dengan keluarga besarnya!
*******
Di kampung.
"Dengar, setelah kalian berhasil menculik, Sari langsung bawa wanita itu ke hutan. Saya akan menunggu kalian di sana," ucap, Vina.
"Baik, Bu," sahut, Basri.
"Ingat, jangan sampai kalian gagal karena kalau kalian gagal saya tidak akan segan-segan untuk motong gaji kalian."
"Kami mengerti, Bu." Mereka pun langsung pergi meninggalkan rumah, Vina, mereka akan langsung berangkat ke Jakarta untuk menjemput, Sari.
Bersambung