
Pagi hari Rendi dan Indah, sudah bersiap untuk pergi ke Bogor, mereka akan ziarah ke makam ayahnya Indah.
"Udah, siap?" tanya Rendi.
Indah hanya mengangguk! ada rasa takut yang menyerang Indah, bukannya ia tak bahagia dengan rencana mereka yang akan berziarah, tapi Indah takut kalau Ibu dan kakak tirinya akan berbuat sesuatu padanya.
"Indah, kamu kenapa, kok malah bengong?" ucap Rendi.
"Aku takut," lirih Indah.
"Nggak usah takut, Ndah, kan ada aku," ucap Rendi menenangkan Indah.
Indah tersenyum pada suaminya!
"Makasih,"
"Kamu ini, kebanyakan berterimakasih, tahu gak. Giliran ngasih kagak pernah," ucap Rendi.
"Maksudnya?"
"Iya. Kamu kan gak pernah ngasih hak aku sebagai suami. Ngakunya istriku, tapi ya itulah," cerocos Rendi.
"Maaf," sahut Indah.
"Jangan minta maaf dan jangan berterimakasih. Aku ini suamimu bukan orang lain. Ayo kita berangkat nanti keburu siang!" ucap Rendi.
Mereka segera berangkat! Tak lupa sebelum berangkat mereka berpamitan terlebih dahulu kepada, Firman.
di perjalanan Indah terlihat gelisah.
"I love you, Indah," ucap Rendi, mencoba menghilangkan kegelisahan yang dirasakan Indah.
Indah menoleh ke arah Rendi! lalu tersenyum.
"Kok, nggak di jawab?"
"Emang harus di jawab?"
"Iya dong, biar romantis. Kaya di televisi gitu."
"Kebanyakan, nonton sinetron kamu mah."
"Indah, bibir kamu itu loh."
"Kenapa, ada yang salah?" ucap Indah sembari memegang bibirnya.
"Bikin aku, uhh! gimana gitu. Sayangnya kamu pelit."
"Ish, dasar mesum," ucap, Indah.
"Rendi, aku harus manggil kamu apa? masa manggil nama," sambung Indah.
"Terserah kamu, mau panggil apa, yang penting jangan panggil, Bapak, aja."
"Aku serius, sayang," ucap Indah.
"Nah, itu. Panggil aku dengan sebutan 'sayang' atau mas, Aa juga boleh."
"Aku panggil kamu, mas, aja ya."
"Iya, sayang."
Asik berbincang akhirnya mereka sampai di tempat pemakaman! Indah segera turun dari mobilnya lalu berjalan menuju makam ayahnya!
Indah berjongkok di samping makam Ayahnya! ia segera mengirim doa untuk Ayahnya, selesai berdo'a Indah tak langsung pulang ia menumpahkan semua kesedihannya di tempat itu.
"Ayah, aku datang. Lihatlah aku datang bersama siapa, Ayah tahu? Aku sudah menikah dengan laki-laki pilihan, Ayah dan aku bahagia karena, Ayah tidak salah memilihkan suami untukku. Dia baik dan juga sangat menyayangi aku."
Indah terus berbicara kepada nisan yang bertuliskan nama Ayahnya. Dengan air mata yang terus mengalir, Indah terus mengeluarkan apa yang ingin ia bicarakan dengan Ayahnya itu.
Rendi memeluk Indah yang kini sedang menangis!
"Indah, kamu yang sabar ya, aku tahu kamu adalah wanita yang kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini, aku akan selalu bersamamu sampai akhir hayat ku," ucap Rendi.
Disuatu tempat ada seseorang yang tengah memperhatikan Indah dan Rendi! orang itu mengintip dari balik pohon besar.
"Mas, aku mau berkunjung ke rumah, Kang Asep yang dulu sering nolongin aku, bolehkan?" ucap Indah di sla tangisnya.
"Boleh dong. Tapi kamu jangan nangis lagi, nanti disangkanya aku ini melakukan KDRT lagi."
Mereka pun mulai meninggalkan tanah pemakaman itu dan mulai melanjutkan perjalanan mereka lagi.
Saat ini Rendi dan Indah masih berada di Bogor, selesai berziarah mereka hendak berkunjung ke rumah orang terdekatnya Indah.
Rendi membukakan pintu mobilnya untuk, Indah! Setelah, Indah masuk ke dalam mobil barulah dirinya menyusul, Indah ke dalam mobilnya.
Beberapa menit menempuh perjalanan! akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah, Rendi segera memarkirkan mobilnya lalu mereka turun dari mobil!
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamu'alaikum." Indah mengetuk pintu rumah tersebut!
"Waalaikumsalam!" sahut seseorang dari dalam.
Pintu terbuka dan menampakkan seorang laki-laki yang usianya sekitar 40 tahunan. Kang Asep, ya laki-laki itu adalah, Kang Asep orang yang selalu ada untuk, Indah saat, Indah sedang kesulitan.
"Neng Indah!" ucap Kang Asep, "mari masuk!" sambungnya.
"Kang Asep, apa kabar?" tanya Indah, ya Asep lah orang terdekatnya Indah waktu Indah masih tinggal di kampung.
"Saya mah, baik, Neng. Neng sediri, gimana?" tanya balik Asep.
"Indah, pasti baik mang, kan sekarang udah jadi istri aku," timpal Rendi.
"Istri? berarti, kalian teh udah nikah kitu?" ucap Asep.
Di luar rumah,Kang Asep orang misterius itu terus mengikuti Rendi dan Indah! entah siapa dan entah apa tujuannya membuntuti mereka, tapi yang pasti ada sesuatu di dalam hati dan pikirannya, entah itu pada Rendi atau Indah.
Lama mereka berbincang, tak terasa hari sudah mulai sore.
Rendi melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul lima belas lewat sepuluh menit.
"Ndah, udah jam tiga sore nih. Kita pulang yuk!" ajak Rendi.
"Ya udah, ayo," sahut Indah.
"Mang, maaf ya, kami harus pulang sekarang, bukannya kami nggak mau berlama-lama di sini, tapi saya takut kemalaman di jalan," ucap Rendi.
"Nginep aja atuh," sahut mang Asep.
"Lain kali kami akan berkunjung lagi kang, kalau, Akang ada waktu, Akang ke Jakarta atuh untuk nemuin Indah," sahut Indah.
"InsyaAllah, Neng," sahut Asep.
Rendi dan Indah pun segera pulang, Rendi segera melajukan mobilnya!
Orang misterius itu terus menatap kearah mobil yang dikendarai Rendi, sampai akhirnya mobil itu sudah tak terlihat lagi.
*****
Mereka tiba di rumahnya saat hari sudah malam. Perjalanan yang lumayan jauh dan sempat terjebak macet saat memasuki jalanan di kota membuat mereka lama di jalan.
"Sampe, deh," ucap Rendi sambil membuka sabuk pengaman!
Saat Rendi melirik kearah Indah! ternyata istrinya itu sudah tertidur, Rendi tak tega membangunkan Indah, akhirnya ia memangku tubuh Indah lalu membawanya masuk kedalam rumah!
"Anak, Papa sweet banget," ucap Papanya Rendi.
"Papa, apaan sih. Kasian Indah kecapean," sahut, Rendi dengan nada pelan karena takut membangunkan, Indah yang sedang tertidur pulas
Firman hanya tersenyum sambil melanjutkan aktivitasnya, yaitu membaca koran. Ya sambil menunggu anaknya pulang, Firman membaca koran dan setelah, Rendi dan Indah pulang pun, Firman masih membaca koran itu karena dia belum selesai membaca berita yang ada pada koran itu
Rendi membaringkan tubuh, Indah di atas tempat tidurnya lalu membuka tas dan sepatunya setelah itu dia menatap wajah sang istri dengan intens.
"Kamu yang sabar ya, 'Ndah aku janji aku akan membuat kamu bahagia. Aku gak akan pernah membiarkan Ibu dan kakak tiri mu menyakiti kamu lagi. Aku janji," ucap, Rendi.
Rendi terus menatap wajah, Indah yang teduh itu. Entah kenapa dirinya selalu ingin berlama-lama menatap wajah sang istri hingga setelah hampir setengah jam dirinya mulai merasa mengantuk dan akhirnya dia berbaring di samping, Indah lalu mulai menutup matanya menyusul, Indah ke dunia mimpi.
Bersambung
Hai teman-teman semuanya. Gak akan ada bosannya aku bawain rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.
Yuk atuh mampir ke karya yang satu ini.
Judul: Pemandu Hati Pengganti
Karya: Chika Ssi