Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 45


Sari merunduk saat melihat seorang laki-laki yang terlihat kebingungan, laki-laki itu terlihat seperti sedang mencari sesuatu.


"Cepat! Cepat jalankan mobilnya," ucap, Sari sembari terus merunduk.


"Kenapa, Bu?" tanya, Indah.


"Mereka sudah datang. Mereka sedang mencari aku."


Firman mengedarkan pandangannya ke area rumah sakit itu, dia mencoba mencari orang yang dimaksud oleh, Sari tapi rasa penasarannya itu harus dikesampingkan dulu karena, Sari semakin ketakutan.


"Fer, cepat jalan," ucap, Firman.


Tanpa menjawab perkataan, Firman, Feri langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Ibu jangan takut ya. Kami semua ada di sini untuk menjaga, Ibu," ucap, Indah.


Indah terus memeluk, Sari dengan erat, dia tak ingin melepaskan, Ibunya. Rindu yang mendalam dan rasa bersalah yang besar membuat, Indah tak ingin lepas dari wanita yang lama ia anggap sudah meninggal itu.


"Bu, kalau boleh tahu siapa orang yang, Ibu maksud dengan wanita itu? Siapa wanita itu dan apa ada hubungannya dengan semua yang menimpa, Ibu?" tanya Rendi.


Bukannya menjawab, Sari malah menangis deras. Dia masih mengalami trauma yang cukup berat sehingga dia selalu takut saat ada yang menanyakan tentang siapa yang sudah memisahkan dirinya dengan keluarganya dan dia juga sering merasa takut saat bertemu dengan orang lain terutama laki-laki karena dirinya sering mendapatkan perlakuan kurang baik dari para laki-laki yang bertugas menjaganya agar tak lari dari gubuknya yang berada di tengah hutan itu.


"Ren, kayaknya jangan banyak bertanya dulu deh. Sepertinya, Ibu masih trauma," ucap, Feri sembari terus menyetir.


"Iya, Surya. Feri benar," sambung, Firman.


"Fer, kalau udah nyampe ke Jakarta, kita langsung ke rumah sakit yang terdekat dari rumah kita aja ya," ucap, Firman kepada, Feri.


"Siap, Om," sahut, Feri.


"Ibu, Ibu jangan khawatir ya, aku baik-baik saja dan aku harap, Ibu juga baik-baik saja. Setelah, Ibu pulih, kita akan langsung mengurus dan menyelidiki kasus yang menimpa, Ibu," ucap, Indah dengan hati-hati.


"Kamu jangan coba-coba berurusan dengan mereka. Ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa," ucap, Sari sembari membelai lembut pipi, Indah.


"Tidak, Bu bukan aku yang terjun langsung ke lapangan tapi itu akan menjadi urusan polisi. Biar masalah ini, Polisi yang tangani."


*******


Di rumah sakit tempat, Sari sempat dirawat.


Sukri dan teman-temannya sedang mencari, Sari. Menurut informasi dari tiga orang anak buahnya, Vina yang bertugas mencari, Sari di desa, katanya, Sari dalam keadaan lemah saat dibawa oleh orang asing itu. Kemungkinan besar, Sari dibawa ke rumah sakit oleh mereka.


Sukri sudah mencari, Sari di mana-mana di setiap sudut rumah sakit tersebut namun dirinya tak juga menemukan, Sari.


"Menurut informasi, Sari menang dirawat di rumah sakit ini selama satu malam dan sekarang mereka sudah pulang, katanya, Sari mau dibawa ke rumah sakit besar yang ada di jakarta yang peralatannya lengkap," jelas, Deni.


"Kalau gitu kita cari dia ke Jakarta," ucap, Basri.


"Heh Basri. Maneh teh mikir atuh jangan samakan Jakarta dengan kampung kita. Di sana teh kota besar, gak gampang kita nyari satu orang di kota yang besar dan luas," ucap, Sukri.


"Terus kita harus apa? Saya Mah tidak mau kena amukan, Bu Vina," sahut, Basri.


"Lebih baik sekarang kita laporan sama, Bu Vina mungkin saja, Bu Vina punya rencana bagus dan lagi dia kan punya banyak kenalan orang Jakarta, bisa saja, Bu Vina meminta tolong mereka untuk mencari, Sari," ucap, Deni.


"Kamu ada benarnya juga, Den. Hayu atuh kita pulang dan laporkan ini kepada, Bu Vina," ucap, Sukri.


Mereka bertiga berjalan menuju mobilnya lalu masuk ke dalam mobilnya! Deni langsung melajukan mobilnya menuju kampungnya.


*******


Di Jakarta.


"Salma, tolong kamu hubungi, Feri. Kemarin dia pamit ke Bogor bersama, Mas Firman dan sampai saat ini dia belum pulang juga," ucap, Tari kepada, Salma.


Saat itu, Tari sengaja mendatangi panti asuhan untuk menemui, Salma. Dia ingin meminta tolong kepada, Salma untuk menghubungi, Feri karena dirinya sudah menelpon, Feri sampai berkali-kali namun telponnya tak aktif.


"Mungkin dia belum selesai dengan pekerjaannya, Tari. Kamu jangan khawatir gitu," ucap, Salma.


"Aku khawatir, Sal. Kemarin dia bilang dia gak akan menginap karena urusannya di sana hanya sebentar." Tari mulai menangis, dia sangat khawatir terhadap putranya itu, bagaimana tidak dua puluh tiga tahun dia memendam rindu pada putranya itu tapi setelah dirinya bisa memeluknya malah, Feri pergi dan tidak ada kabar sedikitpun.


"Kamu minum dulu, biar tenang." ucap, Salma sembari menyodorkan gelas berisi air mineral kepada, Tari.


Setelah Tari mengambil alih gelas itu darinya, Salma langsung meraih ponselnya lalu mencoba menelpon, Feri.


*******


Ponsel, Feri bergetar tanda adanya telpon masuk.


Feri meraih ponselnya dari dalam saku celananya lalu melihat siapa yang menelponnya.


Feri memasang handset lalu mengangkat telpon dari, Salma.


[Halo, Bu,] ucap, Feri setelah dirinya menerima telpon itu.


[Halo, Fer,] ucap, Salma dari sebrang telpon.


*******


Tari begitu bahagia saat tahu, Feri menerima telpon dari, Salma itu.


"Telponnya nyambung?" ucap, Tari.


Salma menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan, Tari.


Tari menadahkan tangannya meminta ponsel, Salma. Dia ingin sekali berbicara dengan putra yang sangat ia sayangi itu.


Salma langsung memberikan ponselnya pada, Tari! Dia tahu sahabatnya itu sangat mengkhawatirkan putranya meski sebenarnya dirinya juga merindukan, Feri.


[Halo, Nak,] ucap, Tari.


*******


[Halo, Bu,] sahut, Feri.


["Kenapa kamu gak pulang, Nak dan kenapa kamu tidak mengabari, Mama?] tanya, Tari dari sebrang telpon.


Terdengar dengan jelas bahwa, Tari tengah menangis.


[Aku sedang dalam perjalanan pulang, di kampung tidak ada sinyal jadi aku tidak bisa mengabari, Ibu,] jelas Feri.


Tari tak berucap lagi, saat itu hanya terdengar suara isak tangis dari, Tari.


[Udah dulu ya, Bu. Aku sedang nyetir.]


Feri langsung mematikan telponnya sebelum, Rendi tahu bahwa dirinya sudah menemukan, Ayah dan Ibu kandungnya.


"Siapa, Fer?" tanya Rendi.


Sesuai dugaan, Feri. Rendi langsung menanyakan siapa yang menelponnya.


"Ibu Salma," sahut, Feri berbohong.


Feri menatap, Firman dan Firman pun menatap Feri. Keduanya saling bertatapan seolah sedang mengobrol lewat hati.


"Dia pasti khawatir sama, Lo," ucap, Rendi lagi.


"Iya, Ibu sangat mengkhawatirkan aku."


Feri terus melakukan mobilnya hingga setelah melewati beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sakit besar yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah, Firman.


Feri segera memarkirkan mobilnya dan mereka semua pun turun dari mobilnya dan langsung memasuki rumah sakit tersebut.


Bersambung


Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca. jangan lupa mampir ya teman-teman.


Judul: Istri pilihan Alika


Karya: Deche