
Feri dan Rendi sudah menyiapkan, Sari untuk dibawa ke kampung oleh orang-orang suruhannya, Vina.
"Bu, maaf ya kami harus melibatkan, Ibu dalam misi ini," ucap, Rendi.
"Kalian yakin ini akan berhasil? Ibu kalian yang jadi taruhannya di sini," ucap, Firman.
"Aku yakin, Om. Kita akan kesulitan menjebloskan, Bu Vina kalau kita tidak melakukan ini karena kita tidak punya bukti yang kuat. Pengakuan preman-preman itu tidak terlalu kuat untuk dijadiin bukti," ucap, Feri.
"Untuk jaga-jaga aku memasang alat perekam pada ikatan rambut, Ibu," ucap, Rendi.
"Bagus. Ibu sudah siap?" tanya, Feri pada Sari.
"Kalian hati-hati ya. Awas kalau, Ibu sampai kenapa-kenapa," ucap, Indah.
"Ibu akan baik-baik saja selama ada, Feri dan suamimu bersama, Ibu," ucap, Sari kepada, Indah.
"Kalau gitu ayo kita berangkat ke rumah, Ibu."
Indah terus menangis karena merasa khawatir terhadap sang Ibu. Bagaimana tidak, setelah lama dia berpisah dengan sang Ibu kini keselamatan Ibunya dipertaruhkan demi untuk membuat orang yang menjahati keluarganya mendekam dalam jeruji besi.
"Jangan menangis, aku janji, Ibu tidak akan kenapa-kenapa. Aku pastikan, Ibu akan pulang dengan selamat," ucap, Feri sembari mengusap pipi, Indah.
"Kami akan baik-baik saja. Doakan saja yang terbaik untuk kami ya." Rendi mencium kening, Indah dengan lembut lalu menghapus air mata yang membasahi pipi sang istri.
"Kita pergi dulu. Kamu baik-baik di rumah ya," ucap, Feri.
"Pa, tolong jaga, Indah hari ini ya," ucap Rendi sebelum dia pergi.
"Ibu, Ibu hati-hati ya," ucap, Indah.
Sari tersenyum ke arah, Indah lalu mengangguk pelan. Sebenarnya dirinya juga merasa takut tapi dia mencoba menyembunyikan rasa takutnya karena tak ingin membuat, Indah lebih khawatir padanya.
Mereka pun pergi meninggalkan rumah, Firman!
*******
Diperjalanan, Sukri dan teman-temannya hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi kedepannya setelah mereka melakukan misi itu.
Siapa pun salah satu dari Feri dan Vina yang kalah akan memberikan hukuman yang berbeda kepada mereka, tinggal mereka yang akan menentukan pada, akhirnya mereka akan berpihak pada, Feri atau pada, Vina.
"Kalian sudah memutuskan untuk berpihak pada siapa?" tanya, Basri.
"Siapa saja yang dapat memberikan kita keuntungan lebih banyak," sahut, Deni.
"Kita tidak akan dibayar oleh, Bu Vina jika kita gagal," ucap, Sukri.
"Tapi kita akan membusuk di penjara jika pemuda itu yang gagal. Dia punya banyak bukti untuk memenjarakan kita."
"Kalau gitu kita ikhlaskan, bayaran dari, Bu Vina dan kita ikuti kemauan pemuda itu."
Setelah cukup lama berkendara, akhirnya mereka tiba di rumah, Sari.
Di rumah itu sudah ada Feri dan Rendi dan tentunya juga, Sari. Mereka sudah menunggu kedatangan, Sukri dan teman-temannya.
Deni yang menyetir mobil itu, menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah itu lalu mereka turun dan menghampiri, Rendi dan Feri yang sudah menunggu kedatangan mereka!
"Kita langsung berangkat sekarang saja," ucap, Sukri.
"Tunggu sebentar." Rendi berjalan lebih mendekat lagi pada, Sukri dan teman-temannya.
"Apa lagi?"
"Gue masih belum percaya sepenuhnya pada kalian."
"Kenapa. Kita sudah sepakat kan."
"Rentangkan tangan kalian semua. Gue gak mau kalian bawa senjata yang mungkin bisa kalian gunakan untuk menyakiti, Ibu Sari, bukan tidak mungkin kalian akan melakukan hal itu karena kalian sudah lama bekerja pada, Bu Vina," ucap, Feri.
"Ren, tolong periksa mobilnya. Pastikan semuanya aman dari barang berbahaya," sambung, Feri kepada, Rendi.
Feri terus memeriksa fisik mereka takutnya para preman itu membawa senjata berbahaya.
Setelah selesai mereka semua langsung masuk ke dalam mobilnya!
"Gue akan ikut bersama kalian di mobil kalian. Salah satu dari kalian akan berangkat dengan menumpang di mobil milik, Rendi," ucap, Feri.
Feri tak ingin membahayakan keselamatan, Sari karena itulah dia lebih hati-hati dalam bertindak.
Basri segera turun lagi dari dalam mobilnya lalu masuk ke mobil, Rendi.
"Ingat, jangan lakukan kesalahan apa pun, jika tidak kalian akan menerima akibatnya oh ya, satu lagi. Data kalian sudah dipegang oleh seorang polisi jadi kalau kalian macam-macam kalian akan ... aku rasa kalian sudah tahu kalian akan kenapa," jelas, Feri.
"Selama ini kami tidak pernah melakukan kesalahan, asal kamu jangan masukan kami ke penjara, semua rencana akan aman terkendali," ucapan Deni.
"Bagus kalau gitu."
Sukri terus melaju menuju tempat yang sudah, Vina tetapkan untuk menemui, Sari.
Setelah lama akhirnya mereka tiba di tempat itu.
"Di sini tempatnya." Sukri dan Deni langsung turun dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk, Feri dan Sari.
Setelah mereka semua keluar dari mobilnya, Feri mengikat tangan, Dari dengan tidak terlalu kencang agar, Sari tidak kesakitan.
"Kalian jalan duluan, gue sama, Rendi ngikutin kalian dari belakang," ucap Feri.
Para preman itu mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh, Feri. Mereka segera membawa, Sari ke tempat dimana, Vina sudah menunggunya!
Sementara itu Rendi dan Feri sudah menyiapkan rencana lain tanpa sepengetahuan para preman itu.
Rendi sengaja melapor polisi dan mereka akan datang disaat, Vina sedang menganiaya, Sari selain itu juga mereka sudah menyiapkan alat perekam video untuk dijadikan barang bukti dipersidangan nanti.
"Hari ini harus jadi hari terakhirnya, dia hidup bebas," ucap, Feri.
Feri dan Rendi segera berjalan mengikuti kemana para preman itu membawa, Sari!
Tiba di tempat itu, Vina langsung menghampiri, Sari lalu menjambak rambut, Sari yang diikat.
Vina sangat marah pada, Sari yang mencoba kabur darinya.
"Saya sudah bilang, jangan pernah kamu mencoba lari dari saya," teriak, Vina.
Karena tangan, Sari masih terikat tali. Dia tidak bisa melawan, Vina.
Sukri dan teman-temannya hanya memandangi kejadian itu. Mereka tak berani melakukan apa pun.
Rendi yang melihatmu itu pun merasa geram, ingin sekali dia menghentikan, Vina.
"Jangan, Ren. Ibu tidak akan terlalu kesakitan karena tubuhnya sudah dipasangi pelindung," ucap, Feri.
Vina terus memukuli, Sari tampa henti. Saat itu dia berniat akan mengakhiri hidup, Sari dengan tangannya sendiri.
"Vina cukup! Kamu sudah merebut suamiku dan juga keluargaku. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, sekarang apa lagi?" ucap, Sari sembari terus menangis karena menahan sakit.
"Aku ingin menghabisimu sekarang juga agar tidak ada yang mengusik hidupku!" teriak, Vina.
Vina mengambil batu yang cukup besar lalu mengarahkan batu itu pada, Sari!
"Jangan bergerak!" tegas seorang polisi dengan menodongkan pistol ke arah, Vina.
Vina terdiam mematung. Tubuhnya terasa kaku saat melihat ada polisi di sana. Para preman itu juga sangat terkejut dengan adanya beberapa polisi di tempat itu.
"Turunkan batu itu," ucap, Polisi itu pada, Vina.
Perlahan, Vina meletakkan batu itu! "Ada apa ini. Saya tidak bersalah," ucap, Vina.
"Anda sudah terbukti mencoba melakukan percobaan pembunuhan terhadap, Ibu Sari. Anda kami tangkap."
Polisi itu memborgol tangan, Vina lalu membawanya ke mobilnya.
"Saya tidak bersalah, Pak. Mereka menjebak saya!" teriak, Vina sembari memberontak.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya, Feri sembari mengusap tangan, Sari yang terluka lebam akibat dipukuli oleh, Vina.
"Ibu tidak apa-apa."
"Maaf ya, Bu. Ibu jadi dipukuli oleh, Bu Vina," ucap, Rendi.
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang semuanya sudah berakhir. Sekarang, Ibu bisa tenang karena, Vina sudah di penjara."
"Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang mengganggu, Ibu dan Indah. Sekarang kita pulang ya, Bu. Indah pasti sangat khawatir," ucap, Feri.
Mereka semua pun langsung pergi meninggalkan hutan itu.
Bersambung