
Siang itu saat, Feri sedang di kantor. Rendi keluar dari kantornya dan berkendara menuju suatu tempat!
"Pak, kalau Feri nanyain saya, bilang saja kalau saya ada keperluan pribadi ya," ucap, Rendi kepada satpam yang bertugas berjaga di depan kantornya.
Satpam itu mengangguk sambil berkata, "baik, Pak."
Rendi tersenyum lalu melajukan mobilnya lagi!
Rendi sengaja tidak bilang pada, Feri kalau dia mau pergi karena dia tahu, Feri pasti banyak bertanya padanya.
Rendi terus melajukan mobilnya hingga setelah setengah jam mengemudi dia sampai di depan sebuah rumah. Rendi memarkirkan mobilnya lalu segera turun dari mobilnya.
Dia berjalan menuju pintu rumah itu dan mulai mengetuk pintunya!
Tok!
Tok!
Tok!
Rendi menunggu ada seseorang yang membukakan pintu untuknya.
Tak lama pintu itu terbuka dan langsung menampakkan sosok wanita paruh baya.
"Siapa ya?" tanya wanita itu sebelum melihat wajah, Rendi.
"Assalamu'alaikum, tante," ucap, Rendi dengan senyuman terbaiknya.
"Waalaikumsalam. Rendi, ngapain kamu ke sini?" tanya, Tari.
Ya, Rendi mendatangi rumah, Feri untuk bertemu dengan, Tari. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh, Rendi kepada wanita paruh baya itu.
"Tante, aku ...."
"Feri gak ada, dia sedang bekerja."
"Aku tahu, tante. Aku kesini mau bicara sama tante. Apa tante ada waktu? Sebentar saja."
Tari terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya!
"Ya, tentu saja. Mari masuk."
Rendi mulai memasuki rumah yang dulu sering dia datangi itu!
"Silahkan duduk, saya buatkan minum dulu buat kamu."
Tari langsung pergi meninggalkan, Rendi di ruang tamu rumahnya.
"Semoga tante, Tari mau memaafkan aku," gumam, Rendi.
Ada rasa ragu dalam hatinya karena dia sadar dia sudah membuat perasaan, Tari terluka.
Tak lama, Tari datang dengan secangkir teh ditangannya. Dia meletakkan teh itu di atas meja lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan, Rendi.
"Bukan, tante. Aku kesini bukan untuk itu."
"Lalu apa? Kamu mau minta agar, Feri menjauhi, Papa kamu karena kamu takut perusahaan yang seharusnya utuh milik kamu menjadi harus dibagi dua dengan, Feri? Kamu jangan khawatir, Rendi dia gak akan pernah mengambil sesuatu dari kamu."
"Tante, aku kesini mau minta maaf."
Rendi menyentuh lutut, Tari dan berlutut di kaki, Tari!
"Rendi, apa yang kamu lakukan? Jangan seperti ini," ucap, Tari.
"Aku mohon maafkan aku. Tante aku menyesal atas perbuatan aku terhadap, tante."
"Rendi, Rendi jangan gini ya. Tante sudah memaafkan kamu sejak lama."
Tari membawa, Rendi untuk kembali duduk di kursi tempat semula dia duduk.
"Tante, serius sudah memaafkan aku?"
"Iya, saya serius. Saya tahu kamu butuh waktu untuk menerima semua kenyataan ini."
"Tante, aku mau tante sama Papa kembali bersama lagi. Aku mau tante menjadi, Mamaku juga."
Tari menundukkan kepalanya. "Itu tidak mungkin, Rendi," ucap, Tari.
"Kenapa? Apa tante sudah tidak mencintai, Papa lagi?"
*******
Di kampung.
Virna tinggal hanya sendirian tanpa ada seseorang yang menemaninya. Tinggal di rumah besar dan mewah tak membuatnya bahagia karena tidak adanya teman untuk mengobrol dan membagi semua keluh kesahnya.
Vina dipenjara seumur hidupnya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, sementara, Vira dinyatakan tidak bersalah karena sudah termakan hasutan Ibunya sendiri.
"Aku gak tahu kalau ternyata, Ibu sejahat ini sama mereka. Aku menyesal karena sudah mengikuti, Ibu untuk menjahati, Indah," gumam, Vira.
Vira duduk di atas tempat tidurnya dengan punggungnya yang dia sandarkan di kepala ranjang. Dia menangis menyesali semua perbuatannya pada, Indah.
*******
"Tidak bisa, Rendi. Untuk bersama lagi dengan, Papamu rasanya itu tidak mungkin."
"Tolong, tante. Dari mata kalian berdua aku melihat kalau kalian masih saling mencintai."
"Rendi, untuk menyatukan dua hati, bukan hanya cinta yang dibutuhkan. Kamu tidak akan mengerti meski saya menjelaskannya."
Saat ini, Tari tidak terlalu memikirkan tentang perasaannya pada, Firman. Dia lebih memilih menjaga perasaan, Feri. Dalam pikirannya, Feri akan kecewa jika dirinya kembali pada, Firman karena sampai saat ini, Feri belum bisa menerima, Firman sebagai Ayah kandungnya.
Bersambung