
Vina mengemudikan mobi sendirian, dia melaju dengan kecepatan tinggi!
"Mau kemana tuh, Ibu Vina buru-buru banget?" ucap Kang Asep.
Feri yang dari tadi duduk di depan rumahnya, Kang Asep menatap mobil yang dikemudikan oleh, Vina dengan kecepatan tinggi itu.
"Kang, memangnya kalau, Ibu bawa mobil suka gitu ya? Ngebut meski di jalanan yang sempit?" tanya Feri kepada, Kang Asep.
"Biasanya dia gak nyetir sendiri, biasanya mah diantar sama supirnya."
"Ya udah, Kang kalau gitu saya masuk dulu ya mau ngecek keadaan Indah."
"Indah? Jadi, Jang Feri kesini sama, Neng Indah?"
"Iya, Kang."
Saking asyiknya mengobrol, Feri sampai lupa tidak memberitahu, Kang Asep kalau dia pulang bersama Indah dan ternyata karena bahagia bisa bertemu lagi dengan, Feri, Kang Asep juga lupa tidur menanyakan, Indah pada, Feri.
"Akang pengen ketemu sama, Neng Indah nanti kalau dia udah istirahat tolong ajak dia ke sini ya, Akang kangen sama dia."
"Iya, Kang nanti saya ajak, Indah ke sini ya."
"Iya, Akang tunggu ya."
"Kenapa gak, Kang Asep saja yang ke sana?"
"Tidak mungkin atuh, Jang. Bu Vina kan jijik sama orang miskin dan kotor seperti Akang ini."
Feri tersenyum tipis lalu mengusap lengan, Kang Asep.
"Roda kehidupan masih berputar, Kang. Sabar saja, tunggu waktunya dimana semua keadaan akan berbalik," ucap Feri.
Feri segera beranjak dari duduknya lalu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan rumah, Kang Asep!
"Indah, kamu kenapa?" tanya Feri saat melihat ada memar di pipi, Indah dan ada luka yang masih basah terlihat di sudut bibir, Indah.
"Tidak apa-apa, 'A. Tadi aku hanya kurang berhati-hati saat berjalan di belakang, aku terjatuh dan pipiku terkena tembok," jelas, Indah.
Indah sengaja berbohong karena tak ingin terjadi keributan di rumah itu.
"Kamu istirahatlah, nanti kita ketemu sama, Kang Asep. Dia sangat rindu sama kamu, 'Ndah."
"Iya, aku juga berniat menemui, Kang Asep tapi nanti setelah ada waktu senggang."
"Iya, kamu istirahat sana. Dan jangan lupa obati luka kamu itu."
"Iya, ini juga udah di obati kok. Aku ke kamar dulu ya."
Indah langsung masuk ke dalam kamarnya! Dia sengaja menghindari, Feri karena tahu laki-laki itu tidak akan percaya dengan apa yang diucapkan olehnya tadi.
Feri tetap berdiri di tempat semula sembari menatap kepergian, Indah.
"Aku tahu kamu sedang berbohong, Indah," ucap Feri didalam hatinya.
*******
Vina sudah tiba di markas anak buahnya. Kini dia sedang berbicara dengan tiga anak buahnya itu.
"Rencana dibatalkan. Kalian jangan lakukan apa pun terhadap, Indah," ucap Vina.
"Baik, Bu tapi kenapa tiba-tiba rencana kita dibatalkan begitu saja. Bukankah, Pak Rudi memberi kita waktu hanya dua hari dan dua hari itu sudah habis hari ini," ucap, Sukri.
"Saya tahu tapi mau gimana lagi, besok akan ada keluarga, Mas Firman. Kita tidak bisa menghilangkan, Indah karena mereka ke sini untuk bertemu dengan si anak tidak tahu diri itu."
"Bagaimana kalau anak buahnya, Pak Rudi datang untuk menjemput, Indah?" tanya Deni.
"Itu dia, saya tidak bisa menelpon mereka karena tidak tahu nomor telpon mereka dan saya juga tidak bisa menelpon, Pak Rudi karena nomor saya sudah diblokir sama si tua bangka itu."
"Ibu tenang saja, Kami akan berjaga-jaga, jika anak buahnya, Pak Rudi datang kami akan bicara pada merek."
"Oke, semoga kalian bisa melakukan tugas ini dengan baik. Saya pulang dulu karena takut, Indah kabur dari rumah."
Vina segera pulang karena dia harus mengurus, Indah yang terluka karena tamparan dari, Vira.
*******
Rendi terus terbayang saat, Vina memukul, Indah dengan tangannya dan suara rintihan, Indah terngiang dengan jelas di telinganya.
"Surya, ayo makan malam," ucap, Firman dari depan pintu kamar, Rendi.
"Iya, Pa sebentar lagi aku nyusul," sahut, Rendi.
Firman tak berucap lagi, dia segera melangkahkan kakinya menuju meja makan!
"Kenapa aku sangat khawatir sama kamu, Indah? Padahal di sana ada, Feri yang pastinya akan selalu menjaga kamu," gumam Rendi.
Rendi segera menyusul, Papanya sebelum nafsu makan laki-laki paruh baya itu hilang karena dirinya terlalu lama membiarkan tangan, Papanya menunggu.
*******
Feri merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu. Tubuhnya terasa pegal-pegal setelah melakukan perjalanan dari Jakarta menuju desanya, apalagi jalanan di pedesaan tidak sebagus jalan di kota jalan di desa itu banyak yang berlubang bahkan ada banyak kubangan lumpur di sepanjang jalan yang mereka lalui belum lagi bebatuan yang terdapat di jalan tertentu membuat tubuh siapa saja yang melewatinya terasa sakit seperti habis dibanting.
Di rumah itu dirinya tidak memiliki kamar pribadi karena dari dahulu, Vina tak pernah menerima keberadaannya alhasil, saat ini dia hanya bisa beristirahat di ruang tamu karena sang pemilik rumah tak memberikannya kamar untuk beristirahat padahal di rumah itu masih ada kamar kosong bahkan lebih dari satu.
Vina berjalan melewati, Feri yang sedang berbaring di sofa itu!
"E_e_eh siapa suruh kamu tiduran disitu?" ucap Vina yang baru menyadari kalau ada orang di sofa mahalnya.
"Saya lelah, saya ingin beristirahat," sahut, Feri.
"Di sini tidak ada tempat untuk kamu."
"Siapa bilang? Saya punya hak atas rumah ini karena, Ayah Ridwan memberikan hak itu kepada saya."
"Kamu jangan sok tahu ya. Sedikitpun saya tidak akan memberikan harta suami saya kepada anak pungut."
Feri berjalan menghampiri, Vina!
"Bu Vina terserah Anda mau memberikan hak saya atau tidak, toh saya tidak begitu membutuhkannya kalau saya butuh dari dulu saya sudah datang ke sini untuk mengambil semua yang seharusnya menjadi milik saya," ucap Feri.
"Pandai sekali kamu berbicara, saya tahu maksud kedatangan kamu ke sini untuk apa. Ingat ya, saya tidak akan pernah memberikan sepeserpun harta peninggalan suami saya kepada kamu."
"Terserah, Anda. Sekarang saya mau istirahat tolong siapkan kamar untuk saya," ucap Feri.
Dulu memang, Feri tak pernah melawan pada, Vina karena dia menghormati orang yang lebih tua darinya, sekarang karena sudah tahu sifat, Vina yang aslinya dan setelah tahu bahwa, Vina sering menyakiti, Indah tiba-tiba rasa hormatnya pada, Vina hilang begitu saja. Feri menjadi berani melawan, Vina dan menimpali setiap perkataan, Vina padanya.
"Kurangajar kamu ya, berani-beraninya nyuruh-nyuruh saya."
"Sebenarnya saya tidak bermaksud menyuruh, Anda tapi mau gimana lagi daripada saya yang membuka lemari untuk mengambil sprei dan selimut nanti malah saya mengambil barang yang lain lagi."
Vina berdecak kesal. "Awas kamu ya."
Vina langsung masuk ke dalam kamar yang biasanya ditempati oleh tamu yang menginap di rumahnya! Diambilnya sprei dan selimut dari dalam lemari lalu diletakkannya di atas tempat tidur.
Vina keluar lagi dari kamar itu dan menghampiri, Feri yang sedang duduk di sofa!
"Itu kamar kamu," ucap, Vina sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah kamar yang pintunya terbuka lebar.
"Pasang sendiri sprei nya, jangan harap saya sudi melayani kamu."
Vina meninggalkan, Feri di tempat itu! Dia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Bersambung
Hai teman-teman semuanya, sambil nunggu Gadis Bogor up lagi yuk mampir ke karya temanku! Ceritanya pasti seru abis.
cuss ke sana.
Judul: Dewi Untuk Dewa
Author: Tyatul