Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 33


"Kalian lanjut saja ngobrolnya ya, Papa mau ketemu teman dulu," ucap, Firman setelah dia melihat jam ditangannya.


Firman beranjak dari dulunya dan bersiap untuk pergi!


"Papa mau ke mana?" tanya, Rendi.


"Mau ketemu sama teman lama. Papanya Alisa, kalian masih ingat kan sama, Alisa?"


"Wah, gak sekalian aja, Pa jodohin dia sama, Feri. Biar dia gak jomblo terus."


"Apa sih, lo."


"Mending kamu ikut, Fer. Yang dikatakan oleh, Surya itu ada benarnya juga," ucap, Firman.


Feri tersenyum santai, seolah yang dibicarakan ini tidak terlalu penting baginya.


"Gak usah, Om. Kalau udah ada jodoh, suatu saat pasti aku nikah kok."


"Kapan?" tanya, Rendi.


"Ya gue gak tahu kapan-kapannya."


"Selalu saja berdebat. Udah ah, Papa pergi dulu." Firman langsung pergi meninggalkan mereka berdua!


Setelah, Firman pergi kini hanya ada, Rendi dan Feri di ruangan itu karena tadi, Indah lebih memilih untuk tidak bergabung bersama mereka.


****


Firman berada di salah satu perumahan yang letaknya lumayan jauh dari tempatnya tinggal. Sebenarnya dia bukan mau menemui teman lama namun dia mencari seseorang.


Firman terus melajukan mobilnya dan mulai berhenti di depan sebuah rumah. Dia seger turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu utama rumah tersebut.


"Assalamu'alaikum," ucap, Firman kepada si pemilik rumah yang kebetulan sedang berada di teras rumahnya.


"Waalaikumsalam," sahut orang itu.


"Maaf, Pak saya mau bertanya sesuatu. Apa boleh saya bicara sebentar dengan Anda?"


"Pak Firman. Anda, Pak Firman kan." Laki-laki yang nampaknya berusia lebih tua dari, Firman itu ternyata masih mengingat, Firman.


Firman tersenyum lalu mengangguk pelan. Mereka menang pernah saling kenal.


"Saya mau tanya, apa, Bapak tahu kemana pindahnya Tari dan anaknya?" Firman sengaja bertanya kepada orang yang kini sedang ditemuinya karena dulu orang itu adalah RT di perumahan itu.


"Tidak tahu, Pak. Yang saya tahu dia pindah dari rumahnya saat setelah melahirkan dan setelah itu saya tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi."


Firman terlihat sangat kecewa saat mendengar perkataan, Bapak itu. Memang sudah beberapa kali dia mendatangi rumah, Tari namun rumah itu selalu kosong akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya kepada tetangga terdekatnya.


"Baik kalau gitu saya permisi dulu. Terimakasih ya, Pak dan maaf karena saya sudah mengganggu waktunya."


"Tidak apa-apa, Pak."


Firman menjabat tangan laki-laki itu lalu segera pergi dari tempat tersebut untuk melanjutkan pencariannya!


Waktu terus berjalan hingga kini jam menunjukkan pukul lima belas lewat dua puluh lima menit sore, tak terasa ternyata hampir seharian, Firman berkeliling. Karena takut membuat, Rendi khawatir dan dia juga sudah lelah, Firman memutuskan untuk segera pulang.


*******


Selesai makan malam, Firman langsung masuk kamar! tak ada kata yang terucap dari mulutnya. Hal ini membuat Indah merasa bersalah, mungkinkah mertuanya itu marah karena ia belum juga hamil.


Rendi dan Indah segera masuk kamar untuk beristirahat.


"Diluar hujan tuh, 'Ndah," ucap Rendi, seolah ia memberi kode keras kepada istrinya.


"Terus kalau hujan, kenapa?" sahut Indah, dengan polosnya.


"Dasar istri gak peka. Udah berapa lama kamu jadi istriku?" ketus Rendi.


"Ih ... gitu aja, marah," sahut Indah yang lagi duduk di depan meja riasnya.


Rendi merasa kesal, ia merebahkan tubuhnya di ranjang lalu memejamkan matanya.


Indah hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Karena Rendi sudah menutup mata, Indah mengganti bajunya di tempat itu tempat dimana tidak ada dinding pembatas antara ia dan Rendi.


Indah mulai membuka semua pakaiannya! ia akan mengenakan baju tidur.


Rendi yang melihat penampilan istrinya yang tak mengenakan pakaian, langsung merasa tegang. Ia segera berdiri dan menghampiri Indah, lalu memeluk istrinya itu!


"M_mas, kamu belum tidur?" ucap Indah terkejut.


"Belumlah, akukan, nungguin kamu," sahut Rendi.


Indah gugup dan merasa malu kepada Rendi.


"Kenapa? kamu kaya orang lagi ketakutan?"


"Aku ... aku. Mas aku ...."


Rendi membaringkan tubuh Indah di tempat tidur!


"Jangan nolak lagi. Kasian, Papa udah tua, dia pengen cepat punya cucu."


"Mas ...."


"Aku akan melakukannya dengan lembut, kamu tenang aja," ucap Rendi memotong ucapan Indah.


Tak ada kata untuk Indah menolak keinginan suaminya, ini memang sudah hak Rendi dan sudah menjadi kewajibannya.


"Mas ...." Indah mencengkram pundak, Rendi dengan nada sedikit men****h.


"Maaf ya, Indah."


Rendi terus melakukan permainannya tanpa jeda membuat nya merasakan kenikmatan dunia yang baru pertama dia rasakan.


Setelah beberapa saat, akhirnya Rendi selesai dengan hasrat yang ia pendam selama ini. Dia mengecup kening sang istri sebelum akhirnya dia turun dari atas tubuh sang istri.


"Terimakasih," ucapnya.


Rendi langsung tertidur karena kelelahan. Sementara Indah, ia tak langsung tidur. Rasa sakit di bagian pangkalan pahanya membuat ia sulit untuk tidur.


Pagi ini, Indah bangun kesiangan, waktu menunjukkan sudah jam tujuh pagi, Indah baru membuka matanya. Ia melihat disampingnya masih ada Rendi yang masih tertidur lelap.


Indah melihat jam di dinding kamarnya dan dia langsung terkejut saat tahu ternyata dirinya bangun kesiangan.


"Awh!" Ringis Indah saat ia hendak bangkit dari tidurnya. "Aww! kenapa sakit sekali."


Karna rasa sakit yang dirasakannya membuat Indah tak dapat berbuat apa-apa, ia memilih diam di tempat, karena ia juga tak berani membangunkan suaminya yang masih terlelap.


Hampir dua puluh menit, Indah terbaring disamping Rendi. Akhirnya Rendi terbangun juga.


"Indah, tumben masih tiduran? biasanya juga kamu udah cantik di jam segini," ucap Rendi dengan suara serak khas bangun tidur.


"Rendi, aku kesakitan, dibagian sini!" ucap Indah sambil meletakkan tangannya di area bunga telang nya.


Rendi mendekati istrinya, lalu meletakkan tangannya diatas perut Indah!


"Sakit? padahal semalam, aku melakukannya dengan pelan dan sangat hati-hati," ucap Rendi.


"Pelan apanya? orang nggak mau masuk, malah kamu paksa. Jadinya kayak gini kan, aku jadi gak bisa bangun," sahut Indah.


"Emang aturan mainnya kayak gitu, sayang. Kalau gak di paksa mana bisa masuk, ibarat barang kamu ini masih baru," ucap Rendi sambil tersenyum.


"Tapi, aku jadi gak bisa bangun dan berjalan dengan normal, Rendi!" tekan Indah.


"Ya udah iya, ini salah aku, maaf ya. Sekarang ayo aku bantu kamu ke kamar mandi!" ucap Rendi sembari memangku Indah menuju kamar mandi.


Secara tidak sadar semalam memang, Rendi melakukannya dengan agak kasar. Karena sudah memendam keinginannya begitu lama akhirnya pas terpenuhi dia jadi hilang kendali.


Saat Indah hendak mandi dan membuka bajunya! ia merasa malu karena Rendi masih berdiri disampingnya.


"Rendi, aku mau mandi."


"Ya, mandi aja, Indah."


"Kenapa kamu masih disitu? keluar sana."


Rendi berdcak lalu mendekati Indah! "semalam, aku udah liat semuanya. Jadi kamu gak usah malu," ucap Rendi sembari meraba perut Indah.


"Tapi ... "


"Cepat, buka pakaianmu! kita akan mandi bareng!" ucap Rendi sembari membuka pakaiannya!


Akhirnya mereka mandi bareng di pagi itu. Sudah 1 jam mereka didalam kamar mandi, namun tak ada tanda-tanda mereka akan keluar dari tempat itu.


"Mas, udah. Aku kedinginan," ucap Indah yang ingin segera keluar dari kamar mandi.


"Iya, oke." Rendi segera menghentikan tangannya yang dari tadi bermain-main di tubuh Indah.


Mereka kini sudah berpakaian, Indah segera keluar dari kamar! untuk menyiapkan sarapan.


Firman merasa kebingungan saat melihat gaya berjalan menantunya yang terlihat aneh.


"Indah! kamu kenapa, kok jalannya aneh gitu?" tanya Firman.


"Gak apa-apa, pa," sahut Indah singkat.


"Papa, kaya yang gak pernah muda aja," timpal Rendi yang baru keluar dari kamar.


Mendengar ucapan Rendi, Firman baru mengerti, apa dan kenapa Indah jadi seperti itu.


"Kamu ini. Kasar sekali, masa Indah sampai kayak gitu," ucap Firman.


"Gak sengaja, Pa."


Karena merasa malu Indah langsung pergi ke dapur! ia tak ingin mendengar obrolan kedua laki-laki itu.


Hubungan, Rendi dan Firman memang bukan sekedar Ayah dan anak tapi mereka juga sahabat yang tak pernah menyembunyikan segala hal.


Karena itu lah, mereka sering bercanda layaknya kepada teman seumuran. Meski, Firman sudah tua tapi dia selalu berusaha untuk menjadi, Ayah dan sahabat yang baik untuk, Rendi


Bersambung


Hai teman-teman, seperti biasa aku bawain rekomendasi novel yang bagus dan pastinya seru untuk kalian baca.


Oke teman-teman mampir juga ya ke karya temanku ini! Ceritanya pasti seru dan pastinya akan membuat kalian gak bosen bacanya.


Judul: Harta Tahta Dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)


Karya: Merpati_Msnis