
"Dulu aku ingin sekali bertemu dengan orang tuaku tapi sekarang setelah tahu siapa, Ayah kandungku aku merasa sebaiknya aku tidak usah bertemu dengan dia. Bu, kenapa kenyataan ini begitu menyakitkan? Ternyata selama ini Ayahku adalah bos aku. Dia hidup enak dengan bergelombang harta sedangkan aku, untuk menjadi seperti ini aku harus berjuang keras dulu untuk bekerja di perusahaan itu aku harus merasakan ...." Feri tak melanjutkan pembicaraannya. Dia menangis dipelukan, Bu Salma.
"Ini sudah takdirmu, Nak. Sekuat apapun kamu menghindar kamu tidak akan pernah bisa lari dari takdir hidupmu," ucap, Bu Salma sembari mengelus punggung, Feri.
Dinda segera pergi dari tempat itu karena tak ingin ikut campur dalam hal itu dan lagi dia tidak ingin tahu tentang kejadian yang dialami oleh kakaknya itu.
"Anak-anak, udah siang waktunya kita semua istirahat dan tidur siang," ucap, Dinda kepada semua adik-adiknya.
Mereka pun langsung mengikuti arahan, Dinda untuk segera masuk ke dalam dan beristirahat!
Dinda sengaja memberikan waktu untuk, Feri mengeluarkan keluh-kesahnya pada, Bu Salma.
"Kamu selalu menanyakan tentang Ibumu kan. Perempuan itu adalah, Ibumu. Ibu hanya mengenal Ibumu jika sekarang kamu juga menemukan Ayahmu itu adalah sesuatu yang harus kamu syukuri. Kamu berjuang mencari, Ibumu dan akhirnya disaat waktu yang bersamaan kamu juga menemukan, Ayahmu."
"Tapi kenapa harus dia, Bu? Bagaimana jika anaknya tahu tentang ini? Dia pasti tidak akan memaafkan aku dan Ibuku, dia pasti tidak akan menerimaku."
Firman dan Tari menatap, Feri yang masih memeluk, Bu Salma dengan tangisnya yang belum juga terhenti.
"Aku ingin dipeluk seperti dia memeluk, Ibu asuhnya. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya disayangi oleh anakku sendiri," lirih, Tari.
Tari menangis deras hingga bahunya terguncang-guncang.
"Dia itu anak yang baik. Aku yakin dia akan menerima kita hanya saja sekarang bukan waktunya. Dia perlu waktu untuk menjernihkan pikirannya," ucap, Firman sembari mengusap bahu, Tari.
Bruk!
Tiba-tiba, Tari terjatuh ke tanah. Dia tergeletak di atas rerumputan tempat dia memijakkan kakinya.
"Tari!" teriak, Firman yang tak sempat menolong, Tari.
Feri dan Bu Salma menoleh ke arah suara, Firman dan mereka berdua sama-sama terkejut saat melihat, Firman sedang berusahalah membangunkan, Tari yang tak sadarkan diri.
"Mama!" Feri langsung berlari menghampiri, Tari!
"Ma, Mama kenapa?" Feri menggoyang-goyangkan wajah, Tari namun wanita itu tidak merespon.
"Cepat bawa ke rumah sakit," ucap, Bu Salma.
Feri langsung memangku tubuh wanita yang mengaku sebagai, Ibunya itu dan membawanya ke mobilnya!
Firman membukakan pintu mobil, Feri agar, Feri gampang memasukkan, Tari ke dalam mobilnya.
"Cepat," ucap, Bu Salma yang duduk di bangku belakang bersama, Tari yang kini tak sadarkan diri.
Feri langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia harus segera tiba di rumah sakit. Dia tak ingin kehilangan sosok seorang, Ibu lagi di kehidupannya.
"Feri jangan terlalu cepat. Berbahaya," ucap, Firman mengingatkan.
"Tari, Tari bangunlah," ucap, Bu Salma sembari menggenggam tangan, Tari.
"Anakku, anakku, aku mau anakku," lirih Tari yang baru tersadar dari pingsannya.
"Ma, aku ada di sini. Tolong bertahanlah demi aku," ucapan, Feri sembari terus melajukan mobilnya.
*******
"Terimakasih ya, sudah menemani aku kerja," ucap, Rendi pada Indah.
"Iya, jangan berterimakasih. Katanya tidak ada kata maaf dan terimakasih untuk orang yang kita sayangi tapi itu kamu melakukannya."
"Karena tenaga mu tidak boleh di sia-siakan."
"Emang tenaga kamu boleh di sia-siakan? Aku rasa tidak karena aku sayang sama kamu."
Rendi tersenyum lalu merangkul pinggang, Indah dengan sebelah tangannya. Mereka berjalan berdampingan melewati karyawan yang berlalu-lalang di kantornya.
"I love you," ucap, Rendi.
Indah tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di dada, Rendi dengan manja. Mereka terus berjalan santai dengan posisi, Indah yang terus membenamkan kepalanya di dada, Rendi dan, Rendi tak melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang sang istri.
Pemandangan itu membuat para jomblowan dan jomblowati meronta ingin berada di posisi mereka.
"Ya Allah, udah ganteng, romantis, penyayang, kaya lagi," ucap salah satu karyawan perempuan.
"Bu Indah beruntung banget bisa mendapatkan, Pak Rendi."
"Pak Rendi juga beruntung mendapatkan, Bu Indah."
"Iya, dia cantik, baik, pengertian pada suami pula."
Kira-kira seperti itulah percakapan antar karyawan yang melihat pemandangan itu. Mereka kagum dan juga iri dengan kemesraan antara, Rendi dan Indah.
Bersambung
guys, seperti biasa aku bawain rekomendasi novel yang seru yang bisa kalian baca. Yuk mampir ke karya temanku yang satu ini!
Judul: Ceo and the twins
Author: Ingflora