Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 47


Hari ini, Sari sudah berada di rumah, Firman. Kemarin dia diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit.


Pagi itu saat mereka sudah selesai sarapan, Firman dan, Rendi berpamitan untuk pergi ke kantor. Sementara, Indah dan Ibunya tetap di rumah dan hanya menunggu kepulangan mereka.


"Sari, di sini kamu aman. Kamu jangan takut ya, didepan aku sudah siapkan tiga bodyguard untuk melindungi kamu dari segala marabahaya," ucap, Firman kepada, Sari.


"Terimakasih, Mas," ucap, Sari.


Firman tersenyum lalu segera melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya.


"Sayang, aku pergi ya, kamu hati-hati di rumah," ucap, Rendi pada, Indah.


"Iya, Mas kamu tuh yang hati-hati, jangan nyetir terlalu ngebut dan jangan lupa pulang bawa cinta. Jangan ditinggal di rumah janda cintanya," ucap, Indah.


Rendi tertawa kecil mendengar perkataan, Indah.


Lama menunggu akhirnya, Firman kembali ke dalam rumah untuk memanggil, Rendi!


Firman menatap anak dan menantunya, dia menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana tidak setiap hari setiap mau berangkat bekerja mereka selalu membuatnya menunggu lama.


"Kalian ini, kalian kan berpisah hanya sebentar tapi kok setiap hari seperti ini. Udah kayak mau pergi kemana aja," ucap, Firman.


Rendi nyengir kuda, menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.


"Maaf, Pa. Iya ini juga udah siap kok," ucap, Rendi.


"Ayo! Kok masih berdiri di situ."


"I_iya, Pa." Rendi berjalan menghampiri, Firman dan mereka pun mulai pergi meninggalkan rumahnya!


*******


"Fer, hari ini kamu gak usah ke kantor," ucap, Tari pada, Feri.


Feri yang masih duduk di bangku meja makan itu mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang Ibunda.


"Memangnya kenapa, Ma?" tanya, Feri.


"Papamu mau datang ke sini."


Uhuk!


Uhuk!


Feri batuk-batuk tersedak air yang ia minum.


"Kenapa, Nak? Pelan-pelan dong minumnya." Sari menepuk-nepuk punggung, Feri perlahan.


"Mau ngapain, Om Firman ke sini?"


"Nanti juga kamu tahu sendiri. Udah, kamu nurut saja sama, Mama ya."


Feri menatap badannya yang sudah berpakaian rapi ala kantor. "Sayang dong ini kemeja harus aku lepas lagi," ucap, Feri.


"Ya nggak harus dibuka lagi, Nak. Pakai aja kenapa? Kamu ganteng banget kalau pakai kemeja gini."


"Menang kalau aku pakai pakaian yang lain, aku tidak ganteng ya?"


"Nggak gitu. Setiap hari kamu ganteng kok. Maksud, Mama kamu terlihat lebih berkharisma gitu. Pokoknya kamu terlihat seperti penguasa."


"Mama Minta, Om Firman ke sini bukan untuk minta warisan buat aku kan?" tanya, Feri sembari menatap, Tari.


Seketika senyum, Tari hilang dari bibirnya sesaat setelah mendengar perkataan sang putra.


"Kamu pikir, Mama ini apa? Mama gak mungkin meminta itu semua. Mama tahu, Nak, Mama ini hanyalah wanita yang dinikahinya karena terpaksa karena kesalahan semata. Mama tidak mungkin berani meminta hak kamu dari dirinya."


"Ma. Aku tidak bermaksud membuat, Mama sedih. Maafkan aku ya," ucap Feri.


Feri merasa bersalah atas perkataannya pada, Tari. Pasalnya, Tari terlihat bersedih saat dia berucap padanya barusan.


"Kenapa minta maaf? Kamu tidak salah."


*******


"Surya, kita ke rumah, Feri saja dulu," ucap, Firman.


Rendi yang sedang menyetir menyempatkan waktu untuk menatap wajah, Papanya itu.


"Hah, ke rumah Feri? Ngapain?" tanya, Rendi.


"Kamu ikutin saja apa kata, Papa."


"Papa mau ngapain sih? Kita kan bisa ketemu sama, Feri di kantor," gumam, Rendi.


Rendi terus menyetir namun kini bukan ke arah kantornya melainkan ke arah rumah, Feri.


Firman terus terdiam, terlihat dengan jelas di wajahnya ada kekhawatiran dan kegelisahan yang besar.


Ingin sekali, Rendi bertanya kepada, Papanya itu tapi keinginannya itu dia kesampingkan dahulu karena tak semua permasalahan, Papanya dia harus tahu.


*******


Di kediaman, keluarga, Firman.


Indah sedang berbaring dengan kepalanya yang ditopang oleh paha, Sari. Sari membelai lembut rambut, Indah.


"Nak, kapan kamu menikah dengan, Rendi?" tanya, Sari.


"Sejak beberapa bulan lalu, Bu," sahut, Indah.


"Kamu kenal dimana sama dia?"


"Awal bertemu di jalan pedesaan. Waktu itu aku baru pulang dari kali, mobilnya menabrak pohon besar dan di situlah kami pertama bertemu."


"Lalu kalian berkenalan."


"Tidak, Bu. Aku harus melewati perjalanan panjang untuk sampai mengenal dia."


"Lalu."


"Kami menikah karena dijodohkan, Bu. Ayah dan Papa Firman ternyata sudah menjodohkan kami dari kecil."


"Lalu apa kalian bahagia dengan pernikahan kalian?"


"Aku bahagia dan aku yakin, Rendi juga bahagia karena sebelum kami tahu bahwa kami dijodohkan kami sudah saling mencintai."


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, Nak. Ibu rindu sekali sama Ayah. Apa kamu bisa menelpon Ayah dan memintanya untuk datang ke sini."


Indah terdiam lalu dia seger duduk di samping sang ibu. Wajahnya menampakkan kegelisahan.


"Ada apa, Nak?" tanya, Sari yang melihat tiba-tiba putrinya itu terlihat bersedih.


Indah dan semua orang di rumah itu memang belum memberitahu, Sari tentang meninggalnya, Ridwan. Mereka merasa, Sari belum cukup pulih untuk mendengar kabar tak menyenangkan itu.


Mereka tidak ingin, Sari kenapa-kenapa setelah mendengar kabar buruk itu.


*******


Rendi dan Firman sudah tiba di rumah, Feri. Kini mereka sudah duduk di kursi ruang tamu dan juga sudah disuguhkan minuman oleh, Tari.


"Ada seorang wanita di sini. Apa, Feri sudah menemukan, Ibunya?" tanya, Rendi didalam hatinya.


"Bos, lo mau ngapain ke sini?" tanya, Feri pada, Rendi.


"Gue, gue ke sini mau ketemu sama lo," ucap, Rendi asal bicara padahal dia sendiri tidak tahu untuk apa dirinya menjadi rumah, Feri.


Setelah, Tari ikut bergabung bersama mereka di ruangan itu, Firman memulai pembicaraannya.


"Jadi gini, Surya, Feri. Maksud, Papa mengumpulkan kalian di sini adalah untuk ...." Firman menggantung ucapannya. Dirinya merasa ragu untuk mengatakan kenyataan bahwa Rendi dan Feri adalah adik dan kakak.


"Untuk apa, Pa?" tanya, Rendi penasaran.


"Surya, kamu masih ingat kan kalau waktu itu, Papa pernah bilang kalau selama ini, Papa sedang mencari anak, Papa?"


"Masih, Pa kenapa emangnya? Papa udah menemukan anak itu?"


Feri dan Tari hanya diam. Mereka membiarkan Ayah dan Anak itu berbicara dulu.


"Iya, Papa sudah menemukan anak itu dan juga wanita yang melahirkan anak itu."


Rendi terdiam, ada sedikit perasaan aneh di hatinya yang dirinya sendiri tidak bisa menjelaskannya setelah tahu bahwa, Papanya sudah menemukan orang-orang dimasa lalunya.


"Surya, Papa harap kamu bisa menerima mereka dalam kehidupan kamu dan didalam kehidupan kita."


"Aku harus bilang apa, Pa? Kesalahan, Papa itu terjadi dimasa lalu sedangkan aku hidup dimasa sekarang. Semua sudah terjadi jadi mau tidak mau aku harus menerima mereka."


"Anak yang selama ini, Papa cari ternyata dia adalah, Feri."


Deg! Rendi sangat terkejut mendengar perkataan, Papanya barusan. Dia menatap wajah, Firman lalu menatap, Feri.


"P_pa, aku belum paham dengan apa yang, Papa ucapkan."


"Ya, Surya. Feri adalah adikmu dan wanita ini adalah, Tari. Ibu kandungnya, Feri."


Bersambung


Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca. yuk teman-teman mampir ke karya temanku ini.


Jangan lupa mampir ya!


Judul: Kukira Kau Cinta


Karya: Dtyas